Jumat, 03 Juni 2011

DAMARWULAN DAN MENAKJINGGA


Ngaji Prasemon I
Oleh: Fatrah Abal                                            

            Prasemon dalam Serat Damarwulan
            Menurut Soenarto Timoer; sebelum mengungkapkan atau menafsirkan “lelungidan” (wewarah, ajaran) yang tersimpan dalam karya sastra Damarwualan, perlulah kiranya dipisahkan lebih dahulu “hubungan” (kerangka) dari “wiletan”-nya (detailering). Meskipun “wiletan” menentukan keindahan karya sastra, ia tidak termasuk “baku” (pokok). Ia merupakan semacam busana saja bagi cita (idea) sang pujangga yang tersiratkan dalam karyanya, dan cita itulah yang merupakan “balungan” itu. Jadi dengan demikian wiletan dapat disebut “ubarampe” (pelengkap) untuk mencukupi kebutuhan karya sastra. Dalam kita menafsiri isi karya sastra, maka yang ditafsiri ialah “balungannya” (ideanya), sedang wiletannya berfaal sebagai pelengkap untuk menafsiri. Artinya; bahwa pelengkap itu sendiri tidak ikut atau tidak perlu ditafsiri. Demikian pula mengenai peraganya, perlu dipilah-pilahkan antara “peraga-baku” dan “peraga-bukan-baku”. Atau yang akhir ini secara mudahnya kita sebut “peraga-samping” (figuran). Peraga samping ini, seperti halnya dengan “wiletan”, hanyalah pelengkap,  juga tidak perlu ditafsiri. Dalam lakon Damarwulan banyak sekali peraganya, dan dapat dipastikan  tidak sedikit pula yang berfaal sebagai peraga-samping. Soalnya ialah: mana yang kita golongkan peraga-baku (jadi yang harus ditafsiri) dan mana peraga-samping (yang tidak perlu ditafsiri).
            Pendapat Soenarto Timoer tersebut diatas, sebagian besar bisa di terima, namun  beberapa hal saya berpendapat beda, seperti; 1. Seluruh pelaku merupakan prasemon yang harus diungkap dan ditafsirkan, tinggal mampu menjangkau atau tidak. 2. Nama-nama tempat atau daerah  tidak perlu ditafsiri, kecuali nama dukuh Paluhamba dan nama Balambangan harus ditafsiri karena merupakan prasemon. 3. Dan walupun apa yang disebut sebagai “wiletan” yang bersifat menunjang keindahan karya sastra, ada  diantaranya yang menyimpan makna lambang sehingga perlu mendapat ulasan seperlunya. Maka dari itu bagi yang berupaya mengungkap, perlu kejelian dalam menyimak materi yang di telaah, apa bermakna lambang atau tidak Dan khusus dalam mengungkap tafsirkan “prasemon” yang berkaitan dengan pelaku penting yang pernah hidup dalam sejarah, contoh seperti “prasemon” yang diarahkan kepada Prabhu Kenya Kencanawungu raja Majapahit dan Menak Jingga Urubisma Raja Blambangan, setelah meng-“othak-athik” sampai “gathuk” (telah terungkap makna tersiratnya), perlu penjelasan lebih lanjut siapa sebenarnya tokoh yang mendapat prasemon atau sindiran tersebut. 
            Memang, apa yang saya sajikan ini berbeda dengan yang disajikan oleh  Soenarto Timoer, dalam karyanya berjudul: DAMARWULAN (SEBUAH LAKON WAYANG KRUCIL) KUPASAN SEGI FALSAFAH DAN SIMBOLIKNYA.  Terbitan, P.N. Balai Pustaka, 1980. yang hasil “othak-athik”-nya dikaitkan atau di-gatuk-kan, dengan dunia “perwayangan” yang ditekuni. Adapun yang saya lakukan dikaitkan dengan peristiwa sejarah kerajaan Majapahit yang disinggung dalam epos Damarwulan. Hal itu sah-sah saja, tinggal  tergantung pada pembacanya, bisa menerima atau malah sebaliknya dan sebagainya.
            Pada umumnya para ilmuwan atau ahli sejarah yang meninjau Serat “Damarwulan” atau cerita “Damarwulan dan Menakjingga”, yang menjadi perhatian pertama ialah tokoh pelaku “Prabhu Kenya Kencanawungu”, lalu tokoh ini diindentifikasikan dengan mencari tokoh putri yang pernah berkuasa menjadi raja Majapahit. Selanjutnya tokoh-tokoh pelaku dalam Serat Damarwulan lainnya, seperti; Prabhu Menakjingga Urubisma, Rangga Lawe,  dan seterusnya, juga diindentifikasikan dengan tokoh-tokoh pelaku dalam sejarah Majapahit yang sekiranya cocok menurut pendapatnya masing-masing. Namun hasilnya tidak ada yang memuaskan, seperti yang ditulis oleh Prof. Dr. Slamet Muljana, 1983. h. 150/151, sebagai berikut:
Tinjauan dari segi sejarah tentang tokoh-tokoh dalam Serat Damarwulan telah sering dilakukan oleh beberapa sejarawan asing (Belanda). Namun hasilnya kurang memuaskan.  J.L.A. Brandes dalam karyanya Pararaton h. 188 dst. Menghubungkan perang Majapahit-Blambangan dalam Serat Damarwulan dengan Perang Paregreg antara Wikramawardhana - Bhre Wirabhumi. Menak Jingga dari Balambangan yang dikalahkan oleh Damarwulan, disamakan dengan Bhre Wirabhumi yang dipenggal kepalanya oleh Raden Gajah. Prabhu Kenya disamakan dengan Dewi Suhita yang memerintah Majapahit dari tahun 1427 sampai 1447. Penyamaan Prabhu Kenya dengan Dewi Suhita jelas tidak kena, karena suami Dewi Suhita ialah Hyang Parameswara Aji Ratnapangkaya. Asal-usul Hyang Parameswara adalah keturunan Bhre Pandan Salas Raden Sumirat, sedangkan Damarwulan, konon adalah keturunan Patih Udara. Bhre Wirabhumi dari Kedaton Wetan tidak sama dengan Menak Jingga dari Balambangan, karena Kedaton Wetan terletak di Pamotan, tidak di Balambangan seperti ditunjukkan dalam “Timbulnya Kedaton Timur” (baca; Timbulnya Kedaton Timur; Prof. Dr. Slamet Muljana, 1980. h.216-223).  C.C. Berg dalam karyanya Het rijk van de vijfvaudige Buddha, h. 289, 296, menyamakan perang melawan Balambangan dalam Serat Damarwulan dengan Perang Sadeng dalam  Pararaton/ Nagarakretagama. Perang Sadeng berlangsung pada zaman pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi. Demikianlan Berg menyamakan Prabhu Kenya dengan Tribhuwana Tunggadewi. Pahlawan perang Sadeng ialah Gajah Mada. Tokoh ini disamakan dengan Damarwulan yang berhasil mengalahkan Menak Jingga dari Balambangan dan kawin dengan Prabhu Kenya. Suatu kenyataan ialah bahwa suami Tribhuwana Tunggadewi adalah Sri Kartawardhana dari Singasari. Berg beranggapan bahwa nama Gajah Mada adalah variasi dari nama Kertawardhana dan menerima teori Moens bahwa Tribhuwana Tunggadewi melakukan biandri (mempunyai dua suami) seperti diuraikan oleh J.L. Moens dalam makalahnya Wisnuwardhana, vorst van Singasari dalam TGB, LXXXV, 1955. h. 384. Terlalu sulit untuk menerima pendapat Berg di atas. Bagaimana akan menjelaskan hubungan antara Sri Kertawardhana dan Patih Udara dalam kerangka pandangan Berg di atas? Kiranya salah satu jalan yang pantas ditempuh ialah membahas secara histories tokoh Patih Udara yang konon adalah ayah Damarwulan.
Dr. Stutterheim, 1952, I: 78: Lain lagi pendapatnya. Menurut dugaannya Damarwulan adalah Kertawardana, suami Prabu istri Tribuanatunggadewi yang dilukiskan sebagai Kencanawungu. Menakjingga adalah adipati Sadeng. Layangseta dan Layangkumitir,  kedua saudara Anjasmara (seperti  dituturkan dalam sejarah Anjasmara ini menjadi selir Kartawardhana [sic!}). Adalah gambaran kembar yang disebut dalam Pararaton. (Sunarto Timur 1980. h. 36/37).
            Mengapa hasil tinjauan tokoh-tokoh pelaku dalam Serat Damarwulan dari segi sejarah oleh para ilmuwan, pakar sejarah dan banyak lagi yang lainnya, hasilnya selalu tidak memuaskan dan tidak mendapatkan hasil sebagaimana yang diharapkan. Masalahnya, sebenarnya cukup sederhana, yaitu bahwa para ilmuwan, pakar sejarah dan banyak lagi yang lainnya, yang meninjau Serat Damarwulan, tidak mempunyai wawasan bahwa Serat Damarwulan merupakan karya sastra yang dikemas dengan bahasa lambang atau prasemon. Sehingga sampaikanpun dan oleh siapapun bila dilakukan seperti itu, tidak akan pernah mendapatkan hasil yang diharapkan.
 Pada umumnya yang meninjau Serat Damarwulan selalu mengawali dengan membahas tokoh pelaku Prabhu Kenya Kencanawungu Selanjutnya membahas tokoh pelaku Menakjingga Urubisma, dan setelah itu baru tokoh-tokoh pelaku yang lain-lainnya.. Demikianpun dalam hal ini saya memulai dengan meng-“othak-athik” sampai “gathuk” tokoh Prabhu Kenya Kencanawungu. Selanjutnya tokoh Menak Jingga Urubisma, dan setelah itu tokoh-tokoh atau prasemon yang lain dalam Serat Damarwulan.            

1. PRABHU KENYA KENCANAWUNGU
            Dalam sepanjang sejarah Kerajaan Majapahit telah terjadi berulang kali peperangan/ pemberontakan. Hanya dalam perang Paregreg (1401-1406) Pada zaman Wikramawardhana  biang pemberontak yaitu Bhre Wirabhumi  tewas dengan dipenggal kepalanya oleh satria  Majapahih yaitu Narapati Raden Gajah. Hal itu serupa dengan yang dilukiskan dalam Serat Damarwulan, bahwa biang pemberontaknya “Prabhu Menak Jingga Urubisma” tewas dan  dipenggal kepalanya oleh satria Majapahit. yaitu Raden Damarwulan. Dengan demikian                           bahwa perang yang disinggung dalam Serat Damarwulan, adalah perang Paregreg (1401-1406) antara Kedhaton Kulon dengan rajanya Wikramawardhana  melawan pemberontakan Kedhaton Wetan yang dipimpin oleh Bhe Wirabhumi, sebagaimana yang diinformasikan dalam Pararaton. Namun di dalam Serat Damarwulan mengapa raja Majapahit Wikramawardhana mendapat prasemon Prabhu Kenya Kencanawungu dan yang memberontak Bhre Wirabumi  disebut Prabhu Menak Jingga Urubisma, selain itu mengapa Kedhaton Wetan negara bawahan Kajapahit di Pamotan yang memberontak dan dipimpin oleh Bhre Wirabhumi diberi nama Balambangan? Pada hal daerah Pamotan letaknya ditepi sebelah barat sungai Porong. Mengingat sejak lama saya mendengar dari para sesepuh bahwa cerita Damarwulan tersebut adalah cerita lambang atau prasemon, konon bila ingin mengetahui siapa yang dimaksud Prabhu Kenya Kencanawungu? maka harus di-“othak-athik” sampai “gatuk” sebagaimana dilakukan para sesepuh zaman dulu.
Prabhu = raja; Kenya = gadis (konotasinya pada perempuan, sebagai lambang artinya lemah); Kencanawungu, merupakan rangkaian kata, “kencana” dan “wungu”. Kencana = emas (sesuatu yang mempunyai nilai tinggi dalam suatu kerajaan senilai emas = tahta). Wungu = ungu atau suram. Artinya, raja (pemerintah) yang lemah, sehingga tahta-nya menjadi suram atau kelabu alias memprihatinkan.
            Benarkah semonan atau sindiran bahwa kerajaan Majapahit pada zaman pemerintahan Wikramawardhana sedemikian lemahnya, sehingga dalam Serat Damarwulan disemoni; Prabhu Kenya Kencanawungu?  Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penjelasannya sebagai berikut:
            Wikramawardhana naik tahta Majapahit pada tahun 1389 menggantikan Sri Rajasanegara (Dyah Hayam Wuruk) berkat perkawinannya dengan Kusumawardhani, pada saat kerajaan Majapahit sudah merosot.                 
            Sepeninggal Patih Gajah Mada pada  tahun 1364 Musyawarah Besar Keluarga Rajadiraja memutuskan bahwa jabatan Patih Amangkubhumi tetap lowong untuk sementara waktu sampai  ditemukan orang yang dianggap layak untuk diangkat sebagai Patih Amangkubhumi pengganti Gajah Mada. Jabatan Patih Amangkubhumi dirangkap oleh Dyah Hayam Wuruk sebagai Kepala Negara. Dalam menjalankan pemerintahan Dyah Hayam Wuruk mengadakan sekedar perubahan dalam susunan kabinet mentri, antara lain Sri Kertawardhana diberi tugas untuk mengatur keamanan Negara dan Sri Wijayarajasa diberi tugas untuk mengatur urusan dalam negeri, yang pada hakekadnya sama dengan kekuasaan Patih Amangkubhumi.  Peranan ini memberi kesempatan leluasa kepada Sri Wijayarajasa untuk menggalang kekuasaan dalam pemerintahan.
 Pada tahun 1365 belum tampak adanya kemrosotan dalam kehidupan kenegaraan, bahkan pemerintahan Majapahit di bawah pimpinan Dyah Hayam Wuruk sangat dipuji oleh Prapanca. Segala-galanya serba hebat, seolah-olah hilangnya Gajah Mada tidak mempunyai pengaruh sedikitpun kepada jalannya pemerintahan. Ternyata setelah tiga tahun merangkap jabatan Patih Amangkubhumi, Sri Hayam Wuruk rupanya sudah mulai kewalahan. Pararaton, menyatakan bahwa pada tahun 1367 Gajah Enggon diangkat sebagai Patih Amangkubhumi. Tugas utama Patih Amangkubhumi ialah mengkoordinasi pemerintahan daerah. Sepeninggal Gajah Mada tali kendali untuk mengkordinasi pemerintahan seluruh Kerajaan Majapahit itu ditangan Dyah Hayam Wuruk. Tidak ada orang yang khusus mengawasi pemerintahan daerah. Dengan sendirinya hubungan antara daerah dengan pusat menjadi kendor. Ketika Gajah Mada memegang jabatan Patih Amangkubhumi, pengawasan terhadap pemerintahan daerah dilakukan dengan ketat. Dan sepeninggal Gajah Mada terjadi perubahan drastis dalam administrasi pemerintahan di pusat.
Gajah Enggon sebagai Patih Amangkubhumi tidak sekuat Gajah Mada, sehingga tetap terbuka kesempatan bagi Sri Wijayarajasa untuk menerusksn menggalang kekuasaan. Timbulnya Kedhaton Timur di Pamotan itu akibat ambisi Sri Wijayarajasa untuk berkuasa dengan memanfaatkan kelemahan Gajah Enggon. Pengiriman utusan dari Kedhaton Wetan ke negeri Cina pada tahun 1377 dimaksudkan untuk memperoleh pengakuan dari Kaisar Cina, namun usaha itu mengalami kegagalan. Sampai ajalnya pada tahun 1388, Sri Wijayarajasa tidak pernah mendapat pengakuan dari Kaisar Cina sebagai penguasa Kerajaan Timur. Lagi pula pada waktu itu Majapahit sedang terlibat dalam sengketa segi tiga: Majapahit, Suwarnabhumi dan Cina,  akibat peperangan antara Majapahit dan Suwarnabhumi. Utusan dari Kedaton Wetan tidak dapat diterima oleh Kaisar, bahkan nasibnya lebih jelek lagi. Utusan itu malah ditahan.
Meskipun mengetahui Bhre Wengker Sri Wijayarajasa berusaha untuk mendirikan Kedhaton Wetan di Pamotan sebagai saingan Kedaton Kulon (Majapahit), terbukti Dyah Hayam Wuruk tidak mengambil tindakan apapun terhadap Sri Rajasanegara. Alasan membiarkan tingkah laku Sri Wijayarajasa itu barangkali seperti berikut. Pertama, selama belum timbul gejala untuk memisahkan diri, adanya Kedaton Timur belum dianggap membahayakan kesatuan Majapahit. Usaha Sri Wijayarajasa untuk memperoleh pengakuan dari Kaisar Cina memang mengalami kegagalan. Kedua pada waktu itu  Dyah Hayam Wuruk sedang kesulitan menghadapi sengketa segi tiga: Majapahit-Suwarnabhumi-Cina. Ketiga, bagaimanapun Sri  Wijayarajasa adalah paman / mertua Dyah Hayam Wuruk. Untuk mengambil tindakan terhadap Sri Wijayarajasa, dalam hal yang demikian Sri Hayam Wuwuk pasti agak segan. Terbukti ini adalah suatu kelalaian  Dyah Hayam Wuruk  dalam politik, karena kemudian timbulnya Kedaton Timur membawa malapetaka yang sangat parah kepada Majapahit dengan pecahnya perang Paregreg pada tahun 1401-1406.
Kekendoran pengawasan terhadap pemerintahan daerah pada era Patih Gajah Enggon, memberi kesempatan terwujudnya ambisi  Sri Wijayarajasa mendirikan Kedaton Wetan, juga mengakibatkan beberapa pemerintah daerah berupaya melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Majapahit, Nagarakretagama pupuh XIII/1 menyebut pelbagai Negara bawahan Majapahit di Sumatra di antaranya ialah Jambi, Palembang dan Dharmaraya juga mengadakan hubungan dengan negeri Cina dengan mengirim utusan. Maharaja Palembang mengirim utusan pada tahun 1374 dan Raja Pagaruyung pada tahun 1375. Bahkan tahun 1377 sepeninggal raja Dharmasraya, putranya sengaja mohon pengakuan dan pengangkatan kepada Kaisar Cina. Tanpa perlindungan  Kaisar Cina ia tidak berani naik tahta menggantikan ayahnya, karena takut kepada raja Jawa. Hubungan negara-negara itu dengan negeri Cina, dengan sendirinya menimbulkan kemarahan Raja Majapahit. Itulah salah satu sebab mengapa pada tahun 1377 tentara Jawa menggempur Suwarnabhumi. Timbulah karenanya sengketa segi tiga Suwarnabhumi, Majapahit, Cina. Utusan Kaisar Cina ke Suwarnabhumi yang membawa pengangkatan, stempel dan perabot kebesaran berhasil dicegat dan dibunuh oleh tentara Jawa. Menyadari akan kesalahannya Kaisar tidak mengambil tindakan kepada Raja Majapahit. Sementara itu Suwarnabhumi berhasil ditundakkan lagi oleh tentara Majapahit. Namun pada waktu itu akibat peperangan Majapahit telah kehabisan nafas, tidak lagi mempunyai orang kuat yang dapat diangkat sebagai wakil Majapahit di negara-negara bawahannya di Sumatra dan lain sebagainya.
Setelah sembilan tahun Wikramawardhana naik tahta, pada tahun 1398  Gajah Enggon wafat, lalu digantikan oleh Gajah Lembana. Pada tahun 1400,  Wikramawardhana pergi bertapa untuk menjalani masa kependetaan (brahmacarin) sesuai dengan ajaran caturasrama. Selama itu yang menjalankan pemerintahan ialah Prabhu Stri (permaisurinya). Mendadak Wikramawardhana membatalkan masa kependetaannya, kembali mengemban pemerintahan dan bertengkar dengan Bhre Wirabhumi. Tiga tahun kemudian ketegangan itu telah berubah kearah peperangan.. Jadi pada saat pecahnya Perang Paregreg kondisi Kerajaan Majapahit sudah merosot sedemikian rupa menjadi kerajaan yang lemah. Oleh karena itu dalam Serat Damarwulan Kerajaan Majapahit dan Wikramawardhana sebagai rajanya diberi prasemon Prabhu Kenya Kencanawungu, yang menyimpan makna; Raja (pemerintahan)-lemah, sehingga tahtanya; ungu (memprihatinkan).
                                                                                  
2. MENAK JINGGA URUBISMA.
            Pararaton, menyinggung bahwa yang terlibat dalam Perang Paregreg ialah Kedhaton Kulon (Majapahit) dengan Rajanya Wikramawardhana dan Kedhaton Wetan yang dipimpin oleh Bhre Wirabhumi. Yang perlu ditanyakan, siapa sebenarnya Bhre Wirabhumi dan bagaimana Bhre Wirabhumi bisa berkuasa di Kedaton Wetan?  Dan mengapa dalam Serat Damarwulan Bhre Wirabhumi, diberi prasemon (lambang) Menak Jingga Urubisma?
            Bhre Wirabhumi ialah putra Dyah Hayam Wuruk dari istri binihaji (selir). Berhubung perkawinan sepupu Dyah Hayam Wuruk yaitu  Rajasaduhita Indudewi dengan Rajasawardhana tidak punya keturunan,  maka Bhre Wirabhumi  diambil sebagai putra angkat oleh  Rajasaduhita Indudewi, ia adalah prutri tunggal dari perkawianan Bhre Daha Dyah Wiyat Sri Rajadewi Maharajasa dengan Sri Wijayarajasa dari Wengker.
            Setelah meninggalnya Gajah Mada, dalam Musyawarah Besar Keluarga Rajadiraja antara lain Sri Wijayarajasa diberi tugas untuk mengatur urusan dalam negeri, yang pada haketatnya  tugasnya sama dengan Patih Amangkubhumi. Hal itu meberi peluang bagi Sri Wijayarajasa untuk mewujudkan impiannya mendirikan kerajaan di Pamotan yang dalam Pararaton kemudian disebut Kedaton Wetan. Pada tahun 1377 Kedaton Wetan mengirim utusan ke Cina dengan maksud minta pengakuan sebagai kerajaan yang berdaulat, namun utusan itu tidak diterima oleh Kaisar.
            Sri Wijayarajasa dari Wengker, juga dikenal sebagai Bhre Pamotan Hyang Parameswara hingga mangkat pada tahun 1388, Kedaton Wetan tidak pernah mendapatkan pengakuan sebagai Negara berdaulat dari kaisar Cina. Satu-satunya pewaris Kedaton Wetan ialah Bhre Daha Rajasaduhita Indudewi, ibu angkat Bhre Wirabhumi. Kiranya sejak tahun 1388 Rajasaduhitendudewi  pindah dari Daha ke Pamotan, sedangkan Bhre Wirabhumi secara resmi menjadi Bhre Daha. Oleh karena itu Bhre Wirabhumi berhak mewarisi Kedaton Wetan       
            Dari uraian diatas sudah terjawab siapa Bhre Wirabhumi dan mengapa Bhre Wirabhumi dapat menjadi penguasa di Kedaton Wetan yang dirintis oleh Hyang Parameswara Wijayarajasa sejak tahun 1377.
            Pada tahun 1403 Yung Lo mengirim utusan ke Majapahit untuk memberitahukan penobatannya sebagai kaisar baru. Pemberitahuan itu segera disambut dengan pengiriman utusan ke negeri Cina untuk menyatakan ucapan selamat. Hubungan antara negeri Cina dan Majapahit makin hari bertambah rapat, lebih-lebih setelah raja Wikramawardhana menerima stempel perak berlapis emas dari Kaisar. Sebagai tanda terima kasih Wikramawardhana mengirim utusan ke negeri Cina dengan membawa upeti.
            Rupanya kiriman stempel perak berlapis emas itu membangkitkan niat Raja Kedaton Wetan untuk juga mengirim utusan ke negeri Cina dengan membawa upeti. Namun maksud utama pengiriman utusan itu ialah untuk minta stempel sebagai tanda pengakuan resmi dari pihak Kaisar. Ternyata permintaan itu dikabulkan. Pemberian stempel itu membuktikan bahwa Kaisar Yung Lo memperlakukan Kedaton Wetan sejajar dengan Kedaton Kulon; merupakan pengakuan resmi Kaisar kepada Kedaton Wetan lepas dari kekuasaan Kedaton Kulon. Hal itu pasti membuat ketidak senangan pihak Kedaton Kulon. Tidak mengherankan bahwa karenanya lalu timbul ketegangan antara  Kedaton Kulon dan  Kedaton Wetan. Sejarah Dinasti Ming menyatakan bahwa raja Kedaton Timur itu bernama Put-ling-ta-ha. Nama itu kiranya ialah transliterasi Cina dari gelar asli Bhre Daha (Breng Daha); suatu bukti bahwa Bhre Wirabhumi benar bergelar Bhre Daha sejak tahun 1371 sepeninggal Bhre Daha Dyah Wiyat Sri Rajadewi.
            Dalam pelayaran yang pertama tahun 1405 Ceng Ho singgah di Majapahit. Ia menyaksikan bahwa pada waktu itu sedang timbul ketegangan antara Kedaton Kulon dan Kedaton Wetan. Ketegangan itu berubah menjadi peperangan antara Kedaton Kulon dan Kedaton Wetan  setahun kemudian. Pernyataan sejarah Dinasti Ming itu cocok dengan uraian sumber sejarah Pararaton, yang mengatakan bahwa pada tahun Saka; “naga-loro-anahut-wulan 1328” (bertepatan tahun Masehi 1406) terjadi perang Paregreg.
            Dalam Serat Damarwulan, mengapa raja Kedaton Wetan (Balambangan),  diberi lambang (prasemon) Menak Jingga Urubisma?
Menak = priyayi, bangsawan atau keturunan raja. Jingga = warna kuning kemerah-merahan. Sebagai lambang yang diletakkan dibelakan nama seseorang, mengandung makna simbolis bahwa yang bersangkutan mempunyai watak brangasan. Dengan demikian prasemon “Menak jingga” menyimpan makna; priyayi atau bangsawan; yang brangasan, kurang ajar, tidak mengerti tatanan, brutal dan lain semacamnya.
Urubisma, rangkaian dari “uru” dan “bisma”. Uru = paha (Bau Sastra basa Jawi, W.J.S. Poerwadarminta, Tokyo 24 Februari 1937, h. 445). Bisma = maha dahsyat (Lihat, DAMARWULAN “Sebuah Lakon Wayang Krucil”, Soenarto Timoer, PN. Balai Pustaka, Jakarta 1980, h. 82). Lalu apa yang yang dimaksud prasemon “Paha maha dahsyat?” Paha merupakan bagian kaki sebelah atas untuk menyangga tubuh. Bagian tubuh yang dekat dengan paha, ialah, “kelamin” (lambang dari; nafsu) dan “dubur” (artinya; kotor). Dengan demikian prasemon Menak Jingga Urubisma, menyimpan makna; Priyayi brangasan, menyangga nafsu kotor yang maha dahsyat (luar biasa). Hal itu sehubungan dengan ulah  Sri Rajasanegara yang berambisi luar biasa mendirikan kerajaan dalam kerajaan seperti diterangkan di atas.
Jadi prasemon yang mengandung sindiran “Menakjingga Urubisma” pada awalnya ditujukan kepada Sri Rajasanagara yang berambisi mendirikan Kedaton Wetan sejak Tahun 1377. Namun setelah Sri Rajasanagara mangkat tahun 1388, Kedaton Wetan jatuh ditangan pewarisnya yaitu Rajasaduhitaindudewi (Bhre Daha), ibu angkat Bhre Wirabhumi. Dan Bhre Wirabhumi wajar menyandang gelar Bhre Daha atau “Put-ling-ta-ha”, menurut catatan sejarah Dinasti Ming di Cina. Dalam Serat Damrwulan akhirnya Bhre Wirabhumi yang mewarisi prasemon “Menakjingga Urubisma” tewas dalam perang tanding melawan Raden Damarwulan satria Majapahit dengan dipenggal kepalanya. Kemudian kepala Prabhu Menakjingga Urubisma yang terpenggal dibawa ke Majapahit untuk dipersembahkan kepada prabhu Kenya Kencanawungu.
Dalam perang Paregreg yang berakhir pada tahun 1406 Kerajaan Timur berhasil dihancurkan. Bhre Wirabhumi yang berusaha melarikan diri di waktu malam dengan menumpang perahu, berhasil dikejar oleh Bhra Narapati Raden Gajah. Kepalanya dipancung dan dibawa ke Majapahit untuk dipersembahkan kepada Bhra Hyang Wisesa Wikramawardhana. Kepala Bhre Wirabhumi kemudian ditanam di desa Lung; candinya bernama Grisapura. Candi itu dibangun pada tahun Saka 1328 bertepatan dengan tahun Masehi 1406.

3. BALAMBANGAN (Dalam Serat Damarwulan).
            Bila perang yang disinggung dalam Serat Damarwulan adalah perang Paregreg, mestinya yang perang adalah Kedaton Kulon yang dipimpin oleh raja Hyang Wisesa Wikramawardhana di Trowulan, melawan pemberontakan  Kedaton Wetan yang dipimpin oleh Bhre Wirabhumi di Pamotan.  Tetapi mengpa dalam Serat Damarwulan  Kedaton Wetan yang beribukota di Pamotan mendapat sindiran dengan prasemon Balambangan? Lalu apa makna prasemon Balambangan dalam Serat Damarwulan? Padahal Pamotan terletak ditepi sebelah barat sungai Porong.
            Lambang atau prasemon “Balambangn” jelas awalnya tercantum dalam “Prasasti Jayanegara I -1316” yang dikeluarkan oleh raja Majapahit Sri Jayanegara setelah penumpasan pemberontakan Nambi di daerah “Tigang Juru” dengan ibu-kotanya  Lumajang, pada tahun 1316.
Dalam Prasasti Jayanegara I tersebut, daerah “Tigang Juru” yang memberontak dikritik dengan bahasa lambang yang lazim disebut prasemon, yaitu sekali dengan prasemon “Malambangan” pada lempengan depan lirik ke 2, dan dua kali dengan prasemon “Balambangan” pada lempengan depan baris ke 4. (Tatanegara Majapahit “Sapta-Parwa”, Haji Mohamad Yamin Parwa II, 1962 h. 37).
Malambangan, terdiri dari kata; “Mala”  dan “Mbangan” (abangan). Mala, artinya; rereget, leletek, dosa, cacat, kacilakan, kasangsaran (Ind; kotoran, noda, dosa, cacat, kecelakaan, kesengsaraan) Lihat; Baoesastra Djawi W.J.S. Poerwadarminta, Tokyo 24 - 2 - 1913, h. 267.
Mbangan (abangan), artinya; wong kang ora nglakoni agama (Ind. Orang yang tidak menjalani agama), ibiden W.J.S. Poerwadarminta  1913, h.l.
Maksudnya, pemberontakan di “Tigang Juru” dengan ibu-kota Lumajang tahun 1316 mendapat prasemon
Malambangan, artinya bahwa; pemberontakan yang menimbulkan; kerusakan, kecelakaan, kesengsaraan dan lain sebagainya itu dilakukan oleh orang-orang yang tidak menjalankan ajaran agama, yang dipimpin oleh Nambi.
Balambangan, terdiri dari kata; “Bala” dan “Mbangan” (abangan) Bala, arinya; karosan,  kekuatan atau prajurit kang melu perang.  (Ind; ketahanan, kekuatan atau prajurit yang ikut perang). Ibiden W.J.S. Poerwadarminta 1913, h. 26. Mbangan (abangan); ibiden 1913, h. 1.
Maksudnya, pemberontakan di “Tigang Juru” dengan ibu-kota Lumajang tahun 1316, mendapat prasemon Balambangan, artinya; bahwa pemberontakan yang memiliki ketahanan, kekuatan atau prajurit yang ikut perang itu, dilakukan oleh orang-orang yang tidak menjalankan agama, yang di pimpin oleh Nambi.
Memperhatikan hasil, “othak-athik” sampai “gathuk” prasemon “Malambangan” maupun “Balambangan” yang terdapat dalam “Prasasti Jayanegara I-1316” rupanya Sang Pujangga  Pencipta  Serat Damarwulan cendrung meminjam prasemon Balambangan (salah satu  prasemon dalam Prasasti Jayanegara I) untuk diindentifikasikan dengan Kedaton Wetan/Pamotan yang dipimpin Bhre Wirabhumi yang memberontak pada pemerintahan pusat Kedaton Kulon/Majapahit (Trowulan) yaitu yang dikenal dengan perang Paregreg pada tahun 1401-1406. Artinya, prasemon “Balambangan” dalam “Serat Damarwulan” menyimpan makna tersirat bahwa pemberontakan/perang Parereg, dilakuakn oleh prajurit atau gerombolan orang-orang yang tidak menjalankan agamanya dan dipimpin oleh Menak Jingga Urubisma (Bangsawan brangasan yang menjunjung “menuruti” nafsu kotor yang luar biasa),  karena melanggar hukum menggalang kekuatan mendirikan negara dalam negara.
Dalam “Serat Damarwulan” bukan hanya prasemon Balambangan saja yang dipinjam oleh Sang Empu. Ada beberapa nama pelaku sejarah atau hal tertentu dalam sejarah yang dipinjam dan dimanfaatkan sebagai prasemon dalam karyanya yang adiluhung itu. Antara lain; Rangga Lawe yang hidup dari zaman pemerintahan Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana), karena Rangga Lawe memberontak akhirnya tewas oleh Mahisa Anabrang di Sungai Tambak Beras tahun 1295;  Patih Udara yang hidup pada “zaman renaissance Kediri dalam permulaan abad enam belas”  (Prof. Dr. Slamet Mulyana 1983 h.279): Damarwulan, tokoh ini tercantum dalam ‘Serat Kanda’; Juga nama dinasti  “Brawijaya” untuk prasemon anugerah gelar Damarwulan setelah dapat memenggal kepala Menak Jingga Urubisma dan daup dengan Prabhu Kenya Kencanawungu sebagai raja kerajaan Majapahit, dalam Serat Damarwulan.. Pada hal dalam sejarah dinasti “Brawijaya” baru muncul sekitar lima dekade setelah usainya perang Parereg 1406. Seperti: Brawijaya I, Prabhu Kertawijaya (1447-1451);  Brawijaya II, Prabhu Rajasawardhana (1451-1463); Brawijaya III, Prabhu Hyang Purwawisesa (1456-1466); Brawijaya IV, Prabhu Pandansalas (1466-1468); Brawijaya V, Prabhu Kartabumi (1468-1478); Brawijaya VI, Prabhu Udara (1498-1518). (Walisanga, Solihin Salam. 1960 h. 13).
            Pada zaman pemerintahan Sunan Pakubuwana II (1725-1749),  terjadi perpecahan antara bangsawan-bangsawan Mataram yang membuat kekuatan Mataram yang bulat sirna. Melihat  para bangsawan saling bermusuhan berebut pengaruh dan kedudukan serta melibatkan wong cilik sebagai pengikut-pengikutnya dan puluhan ribu yang tewas, karena dipicu oleh campur tangan Kompreni Belanda yang terkenal dengan politik “adu-domba” (devide et impera)-nya dan perang tersebut dikenal dengan nama “Perang Mangkubumi” yang sangat menguntungkan fihak Kompeni Belanda, maka tahun 1748 seorang pujangga sangat sedih dan prihatin ingin memberi  “wewarah”; pengarahan, kritik, nasehat dan sebagainya,  kepada para bangsawan Mataram agar sadar dan bersatu jangan sampai terjerumus dalam perang saudara seperti perang Paregreg pada tahun1406, yang akhirnya kerajaan Majapahit menjadi bertambah suram, maka teciptalah Epos Damarwulan sebagai “Tunggul Manik” (Pangilon) atau kaca-menggala, bagi mereka yang terlibat dalam peperangan di Mataran, dan karyanya itu dikenal  “Serat Damarwulan” dikemas dengan bahasa lambang atau prasemon yang sudah menjadi kelaziman orang dahulu dalam menyampaikan pesan.
            Karena munculnya “Serat Damarwulan” situasi peperangan sudah memanas dan terus berkobar sampai cukup lama lebih dari satu decade dan belum lagi dampaknya, yang antara lain menimbulkan saling; membenci, sakit hati dan dendam, dapat dipastikan karya sastra adiluhung tersebut terbengkelai tidak ada yang membaca. Padahal “Serat Damarwulan” yang dikemas dalam bahasa lambang (prasemon) tersebut, menyimpan makna tersirat memberi “wewarah”; agar para bangsawan yang bertikai; bermusuhan berebut kedudukan dan lain sebagainya, sadar dan bersatu. 
 Dan “Perang Mangkubumi” terus berkobar membara melemahkan Mataram, Belanda mendapat kesempatan untuk mengadu-domba raja-raja atau para sunan untuk menguasai daerah mereka. Artinya, sepertinya sia-sia Sang Empu menciptakan Serat Damarwulan yang bertujuan menyadarkan para bangsawan Mataram untuk waspada dan berprihatin. Sehingga, Kompeni Belanda dapat menempatkan “dirinya” sebagai yang dipertuan oleh raja-raja atau para sunan tersebut karena hak yang mereka terima pada tahun 1749, yang diperkuat lagi oleh perdamaian Gianti dan Salatiga tahun1757.
Pemberontakan Mangkubumi dan Mas Said meninggalkan bekas sejarah:
                        Tahun 1749, Mataram diserahkan kepada V.O.C. tanpa syarat.
                        Tahun 1755; Dalam perdamaian Gianti Mataram dipecah dua.
                        Tahun 1757; Dalam perdamaian Salatiga, Surakarta dipecah dua.
Dan banyaknya kesunanan di eks Kerajaan Mataram yang terlihat hingga dewasa ini, tidak lain merupakan monumen akibat keberhasilan politik “adu domba” (devide et impera) Kompeni yang gencar pada masa itu.
Kiranya beberapa dekade dari tahun 1757, setelah “Perang Mangkubumi” sudah mereda dan Mataram benar-benar sudah dalam cengkeraman VOC, bahkan juga setelah seluruh tanah Jawa jatuh dalam genggaman VOC, termasuk daerah “Tigang Juru” dengan ibu-kotanya Lumajang (eks Karesidenan Besuki) yang pernah diberikan kepada Aria Wiraraja oleh Raden Wijaya pada tahun 1295, Serat Damarwulan mulai ada yang memperhatikan dan dibaca, terutama oleh golongan bangsawan yang menguasai baca-tulis. Dan munculnya kapitalisme-cetak memberikan peranannya dalam proses mempercepat tersebarnya  Serat Damarwulan atau cerita “Damarwulan dan Menakjingga” maupun karya-karya Jawa-Kuna lainnya, terutama pada awal abad XX cerita Damarwulan dan Menakjingga menjadi sangat terkenal, terutama dikalangan masyarakat Jawa-Tengah dan Jawa-Timur. Dan setelah bangsa Indonesia Merdeka semakin meluas di kawasan Nusantara, bahkan kemudian mendunia. Berkat keterkenalan cerita Damarwulan yang sedemikian rupa, nama Balambangan terbawa melambung menjadi termashur pula. Namun celakanya kemashuran nama Balambangan yang  terbawa oleh keterkenalan cerita Damarwulan dan Menakjingga tidak membawa citra wong Banyuwangi menjadi harum semerbak wangi, bahkan sebaliknya menjadi terpuruk bagai membawa bau busuk menjijikan dan selalu dicemo’oh/diolok-olok orang luar, terutama oleh Wong Koelon (Wong Mataram) tempo-doeloe. Bagaimana tidak, pada umumnya orang luar (terutama Wong Koelon) beranggapan bahwa Wong Banyuwangi adalah sisa-sisa Wong Balambangan atau keturunan dari Prabhu Menakjingga Urubisma yang memiliki jimat Wesi-Kuning dan sakti mandraguna. Lebih dari satu abad Wong Banyuwangi tertekan hidup dalam penderitaan bathin karena kemana-mana menerima gossip diindentifikasikan memiliki prilaku jahat seperti yang  melekat pada Prabhu Menakjingga raja Balambangan (dalam “Serat Damarwulan” yang fiktif) yaitu seperti sifat-sifat; tidak mengerti unggah-ungguh dan tatapranatan, brangasan, kasar, serakah, kejam dan sifat-sifat busuk lainnya. Bahkan para perempuan Wong Bayuwangi digosipkan memiliki kegemaran suka berselingkuh dan merebut suami atau lelaki lain, seperti Wahita dan Puyengan kedua istri  Menakjingga yang gatelen dalam Serat Damarulan.
Pada umumnya para pujangga atau penulis zaman dulu, dalam membuat karya sastra menggunakan bahasa Sansekerta atau bahasa Jawa Kuna. Dan bila menyangkut masalah politik atau yang behubungan dengan kekuasaan (pemerintahan), selalu disela-sela penulisan karyanya memanfaatkan prasemon (bahasa lambang), hal itu bisa dimaklumi mengingat umumnya pada zaman kerajaan maupun zaman penjajahan Belanda hal-hal yang berbau politik atau bisa mencemarkan martabat kekuasaan ditindak dengan sewenang-wenang. Disisi lain banyak yang menggunakan nama samaran atau bahkan banyak yang  “nonim” alias tidak diketahui siapa penciptanya.
 Pesan-pesan terselubung demikian biasanya ditujukan pada orang-orang tua atau para pemimpin tertentu yang nalarnya mampu mencerna dan menghayati, kemudian sebagai menerima amanat dari Sang Empu, untuk dijabarkan dalam memberi pengarahan kepada yang dimaksud. Meskipun cerita Damarwulan dan Menakjingga atau Serat Damarwulan dalam menyampaikan visi dan misinya dapat dikatakan gagal, karena dikemas dengan bahasa lambang atau prasemon yang sulit dicerna oleh orang awam, karena pada kemunculannya situasi peperangan sudah memanas sampai kurun waktu yang cukup lama mengakibatkan para orang tua atau para pemimpin tertentu yang mampu menyerap maknanya telah banyak yang meninggal, maka “bagai benang merah yang putus”, akibatnya generasi berikutnya samasekali tidak ada yang bisa memahami makna tersiratnya. Dan walaupun ada yang mampu mencerna makna tersiratnya,  tidak juga berani menyampaikan pesan-pesan tersebut secara terbuka, kareana khawatir terendus oleh lawan dan antek-anteknya.
Namun kenyataannya epos Damarwulan tersebut dapat dikatakan sejak kemunculannya pada tahun 1748 hingga hari ini entah berapa ratus ribu orang yang telah membaca serta entah berapa juta yang mendengar dan sampai kapanpun tetap menarik serta menjadi perhatian, sebagai bukti bahwa Sang Empu Penciptanya benar-benar piawai dalam bidangnya, baik dalam hal prasemon, sejarah, membuat cerita, menyusun kata merangkai kalimat yang apik, menarik dan sebagainya.
Dalam makalahnya berjudul; “Sembah-Sumpah, Politik Bahasa dan Kebudayaan Jawa” Benedict R. Anderson, antara lain menulis: “Walaupun beberapa naskah terus-menerus diturun dan dipelajari, namun sastra kuna tersebut pada umumnya tetap tak tersentuh, baik secara lingustik maupun secara fisik, bagi bangsa Jawa abad ke-19. (Prisma 11, November 1982, halaman 76).
Apa yang dimaksud tersebut diatas, pasti termasuk karya sastra kuna baik berupa naskah, babad, tembang atau gending dan lain sebagainya yang dikemas dengan bahasa lambang yang hingga dewasa ini masih cukup banyak tetap tak tersentuh dan tidak ada yang mampu mencerna. Tentu, termasuk Serat Damarwulan atau cerita Damarwulan dan Menakjingga. Apalagi gending-gending klasik gandrung yang wajib didendangkan dalam setiap pagelaran kesenian gandrung Banyuwangi yang lirik-liriknya juga tersusun dalam prasemon yang sangat sulit bisa dipahami oleh kebanyakan orang awam.  
Selanjutnya  halaman 78, Benedict R Anderson menulis: “Memang, sepanjang pengetahuanku yang terbatas, tidak ada sebuah pun naskah Jawa dari abad pra-ke-20 yang menentang Belanda secara fundamental!”
Mungkin pendapat tersebut ada benarnya bila yang dimaksud karya sastra kuna yang ditulis dengan bahasa tersurat/harfiah, tetapi yang di kemas dengan bahasa lambang (prasemon) cukup banyak yang menentang Belanda secara fundamental. Bahkan Serat Damarwulan pun merupakan karya sastra yang menyimpan makna tersirat menentang politik “devide et impera” Kompeni Belanda, artinya menentang Belanda secara fundamental.pada zamannya.
Yang mujur adalah gending-gending kuna Banyuwangi yang juga dikemas dalam bahasa lambang atau prasemon, visi dan misinya mencapai hasil gemilang dalam upaya menyelamatkan sisa-sisa rakyat Balambangan (dewasa ini Kabupaten Banyuwangi), berkat gending-gending kuna tersebut harus dibawa dalam setiap pagelaran kesenian gandrung. Menurut para sesepuh kesenian gandrung  awalnya dilakukan oleh kaum pria dengan membawa peralatan musik perkusi berupa kendang dan beberapa rebana, setiap hari mereka keliling mendatangi tempat-tempat yang dihuni sisa-sisa rakyat Balambangan di kampung-kampung, di pedalaman bahkan  mendatangi mereka yang melarikan diri berlindung dari kejaran Kompeni dan antek-aneknya. Selain memberi hiburan berupa peragaan tarian, peragaan pecak silat serta mendendangkan gending-gending yang di padati saran dan nasehat, juga membagi bantuan yang dikumpulkan  dari penduduk yang mampu. Mengenai kisah munculnya kesenian gandrung Banyuwangi yang dimanfaatkan sebagai sarana perjuangan, awalnya sebagai berikut;
Setelah mendengar dari telik sandi, bahwa Gusti Ketut Ngurah wakil raja Mengwi yang memerintah Balambangan mengadakan hubungan dengan pedagang  Inggris, Kompeni kebakaran jenggot. Karena takut kalau pengaruh Inggris semakin kuat di Balambangan yang menjadi vasal kerajaan Mengwi, maka Kompeni memutuskan Balambangan harus diserbu dan direbut dari kekuasaan Mengwi.
            Pada tanggal 25 Februari 1767, ekspedisi Kompeni berkumpul di pelabuhan Kwanyar (Madura). Semua kapal yang ada dikumpulkan untuk melawan armada Inggris yang tidak ditakuti oleh ekspedisi itu. Jalan-jalan masuk dari selatan Bali diblokir; Penyebrangan ke Penarukan; di Penarukan dibangun sebuah benteng, juga di Probolinggo mendapat penempatan pasukan kecil yang menetap. Distrik-distrik di bagian utara menyerah. Sebagian dari armada ekspedisi tersebut berlayar langsung ke Bayu Alit. (Blambangan Indische Gids II, C. Lekkerkerker 1923, h.1048).
            Pada tanggal 11 Maret 1767, pasukan inti dibawah komandan dari Semarang yaitu Erdwyn Blanked dan yang dari Pasuruan yaitu Casper Lodewyk Troponegro, dimana terdapat 2000 orang Madura, bergerak melalui darat sepanjang pantai. Hanya di Prajekan bagian terdepan dari iring-iringan pasukan tersebut diserang dari samping oleh pasukan-pasukan dari bupati Kartanagara dari Lumajang., yang juga merisaukan pasukan kecil yang menetap di Probolinggo dan yang menutup jalan-jalan yang menuju ke Probolinggo.(ibiden C. Lekkerker 1923, h. 1049).
            Sehubungan penyerbuan Kompeni tersebut di Blambangan terus-menerus terjadi perlawanan terhadap Kompeni dan sampai berakhirnya pertempuran dahsyat di Bayu yang diserbu dan dihancur musnahkan oleh Kompeni pada tangaal 11 Oktober 1772. konon rakyat Blambangan yang tewas lebih dari 60.000 jiwa dan sisanya tinggal sekitar 5000 jiwa, hidup terpencar dihutan-hutan dan  banyak yang tidak mau kembali ke desanya masing-masing. Hal ini disinggung oleh  C. Lekerkerker sebagai berikut:
            Sampai tanggal 7 Nopember 1772, 2505 orang lelaki dan perempuan telah menyerahkan diri mereka. Van Wikkerman mengatakan bahwa Schophoff telah menyuruh menenggelamkan orang-orang lelaki yang dituduh telah mengobarkan amuk dan yang telah memakan dagingnya dari mayatnya Van Schaar, juga dikatakan bahwa orang-orang Madura telah merebut para wanita dan anak-anak sebagai hasil perang. Sebagian dari mereka yang melarikan diri ke dalam hutan telah meninggal karena kesengsaraan yang dialami mereka, sehingga baunya udara yang disebabkan oleh mayat-mayat yang membusuk mengganggu sampai jarak yang jauh. Yang lainnya menetap di hutan-hutan dari Pucang Kerep, Kali Agung, Petang dan mereka bersikap keras untuk menetap dihutan.. (ibiden; C. Lekkerkerker  h. 1060)
Setelah Bayu dapat ditaklukkan dan dihancurkan, bupati Balambangan yaitu, Jaksanagara ditangkap dan dibuang ke Selong Dan untuk mencari penggantinya Kompeni kesulitan  mengingat bangsawan yang patut diangkat sebagai bupati tidak ada, karena para bangsawan banyak yang telah; tewas, dibunuh, di selong (buang) atau melarikan diri.
Kemudian atas informasi dan usul salah seorang patih Blambangan, bahwa seorang pemuda keturunan Pangeran Tawang Alun  yang patut diangkat sebagai Bupati ada di Bangkalan ialah Mas Alit, adik dari Mas Ayu Nawangsari istri  Pangeran Danuningrat   yang dihukum mati oleh raja Mengwi di pesisir Seseh Bali tahun 1764. Sewaktu Kompeni merebut Blambangn yang dibantu oleh Mataram dan Madura pada tahun 1767 Mas Ayu Nawangsari bersama kedua adiknya yaitu Mas Alit dan Mas Latip diboyong oleh Panembahan Rasamala (Panembahan Cakra Adiningrat VI yang memerintah atas Bangkalan dari 1770-1780).  Mas Alit dilantik sebagai bupati  tanggal 1 Februari 1774 di Lopangpang (Ulu Pangpang).. Berkat membantu kesulitan Kompeni menemukan calon bupati tersebut, patih Blambangan bersangkutan dikenal dengan prasemon; “Ki Juru Kunci” (orang yang dapat membuka menemuka kesulitan).
Berhubung Lopangpang udaranya kurang sehat, sebelum dilantik Mas Alit mengusulkan membangun ibukota yang baru. Kompeni setuju dengan menawarkan 3 tempat, yaitu; tetap di Lopangpang, Kotta atau di Pakusiram.. Yang dimaksud Kotta,  ialah Benculuk. Adapun Pakusiram, terletak disebelah timur desa Lateng Rogojampi. Mas Alit mengusulkan lebih baik membabad hutan “Tirta-arum” di daerah sebelah utara. Setelah Kompeni mengadakan penelitian, setuju, namun Kompeni terlebih dahulu memilih tempat untuk membangun benteng. Mas Alit bolih memilih tempat untuk membangun paseban atau tempat tinggalnya, asal tidak lebih dari jangkauan tembakan meriam dari tempat dibangunnya benteng. Setelah selesai benteng tersebut dikenal dengan nama “Utrech”. .Konon menurut cerita tutur munculnya gandrung lanang bersamaan dengan dibabadnya hutan “Tirta-arum”.  Pada tahun 1776, setelah dua tahun  pembabatan hutan, ibukota yang baru pengganti Lopangpang selesai dibangun dan diberi nama Banyuwangi sesuai dengan konotasi dari nama hutan yang dibabad; (Tirta arum).
            Berhasilnya visi dan misi pejuangan “menyelamatkan sisa-sisa rakyat Blambangan bagian timur (dewasa ini Kabupaten Banyuwangi) yang di program dalam gending-gending wajib yang harus dibawa dalam pagelaran kesenian gandrung serta dikemas dalam bahasa lambang, karena sisa-sisa rakyat yang tinggal sekitar 5000 jiwa tersebut yang hidup terpencar dihutan-hutan terdiri dari para manula, para perempuan yang trauma serta sebagian besar terdiri dari anak-anak yang sudah kehilangan orang tuanya. Dan berkat adanya manula yang masih hidup dan yang dapat mencerna makna tersirat dari gending-gending prasemon yang didendangkan gandrung, selanjutnya dijabarkan dalam memberi pengarahan kepada sisa-sisa rakyat yang ada. Jumlah gending-gending klasik yang harus dibawa dalam pagelaran kesenian gandrung sebanyak enam gending, masing-masing berjudul: Padha Nonton 8 bait; Seblang Lokinta 2 bait; Sekar Jenang 4 bait;  Kembang Pepe 3 bait; Sondreng-Sondreng 3 bait; Kembang Dirma 2 bait; dan setiap baitnya 4 lirik. Selain itu gandrung membawa puluhanan gending yang dipadati “basanan” (pantun) yang maknanya mudah dicerna oleh orang awam.
Seperti Serat Damarwulan, gending-gending gandrung yang disajikan dalam bentuk prasemon sangat sulit dicerna oleh orang awam dan hingga dewasa ini tidak seorangpun Wong Banyuwangi bisa menangkap  maknanya. Serta tidak seorang ilmuwan pun yang memperhatikan serta tertarik untuk menjabarkan walaupun kesenian yang satu ini telah acapkali ditinjau, diteliti, ditulis dan lain sebagainya.
Hal itu tidak lain dapat dipastikan yang meninjau atau para peneliti baik dari kalangan ilmuwan maupun yang lainnya, tidak mempunyai wawasan tentang bahasa lambang atau yang lazim disebut pasemon (prasemon). Sebagai contoh dibawah ini saya sajikan salah satu gending klasik gandrung Banyuwangi yang berjudul;   “Kembamg Pepe”:

                                    Kembang  pepe                                                           
                                    Merambat ring kayu arum
                                    Sang aruma membat mayun
                                    Sang pepe ngajak lunga

                                    Ngajak lunga
                                    Mbok penganten kariya dalu
                                    Ngenjot-ngenjot lakune
                                    Baliya ngeluru lare

                                    Lare dakon
                                    Turokno ring perahu
                                    Perahune bana cinde
                                    Kang kumendung welangsani

Alih bahasa Indonesia:

                                    Bunga diterik mentari
                                    Merayap di kayu harum
                                    Yang diharumkan di ayun-ayun
                                    Sang pepe mengajak pergi

                                    Mengajak pergi
Mbakyu penganten di larut malam
Cepat-cepat melangkahnya
Kembalilah memungut bocah

Anak congklak
Tidurkan di perahu
Perahunya bana cindai
Yang mempersona mengagumkan

 Dan mengenai penjabarannya untuk mengungkap makna filosofisnya yang tak ternilai akan saya sajikan dalam kesempatan yang lain. Disisi lain kesenian gandrung juga selalu membawa prasemon dalam bentuk “logo” (simbul) perjuangan berupa seni rupa “Naga berkepala “satria” Gatutkaca” (Daya Naga nalar “satriya” Gatutkaca). Walaupun Naga dan  Gatutkaca itu fiktif, bersifat fiksi; namun dalam khayalan memiliki potensi luar biasa, sebagai yang di citakan dalam menyongsong  masa depan.  Demikianlah maunya Sang Empu penggagas kesenian gandrung,, harapannya agar sisa-sisa rakyat yang tinggal sekitar 5000 jiwa setelah dibantai habis-habisan sejak penyerbuan Kompeni merebut Blambangan  dari kekuasaan Mengwi  pada 25 Februari 1767  sampai hancurnya Bayu 11 Oktober 1772 dan dilantiknya Mas Alit sebagai Bupati 2 Februari 1774, mampu menggeliat bangkit berjuang dengan motto; “Daya Naga nalar Satria”, dari manusia yang  terhina, kehilangan martabat dan harga diri serta kehilangan segala-galanya, agar kenbali bangkit menjadi manusia yang mandiri dan bermartabat; yang kemudian disebut atau dikenal sebagai Wong Osing.
Berkat termashurnya cerita Damarwulan & Menakjingga, maka nama Balambangan pun terbawa menjadi sangat terkenal pula, sehingga banyak para sarjana asing (Belanda) tertarik. Nengenai arti dan asal-muasalnya, antara lain  Dr. J. W. de  Stoppelaar menulis sebagai berikut:
            Tentang arti dan asalnya nama Balambangan terdapat beberapa pendapat tetapi yang tidak semuanya memuaskan.
Encyclopaidia dari Nederlandsch Indis, cetakan ke 2, memberi satu berdasarkan buku-kamus Bali dari Van der Tuuk. Menurut sumber keterangan ini kata tersebut kiranya suatu ubahan dari kata “lambwang” yang masih dipakai di Banyuwangi (bahasa Jawa biasa, dan bahasa Melayu lambung) = bagian pinggiran, dan seharusnya berbunyi Kalambangan. Bagaimana huruf mula K berobah menjadi B dan huruf w dibelakang b menghilang tidak diterangkan lebih lanjut.
Untuk mengukur kebenaran dari pendapat ini dikemukakan, bahwa didalam berkas-berkas Kompeni selalu ditulis namanya Balamboang (han).
Tetapi sementara ejaan “Balambanghan “ juga muncul, sedangkan lainnya lagi juga menulis “Baliboangh”, “Balibang” atau Balamboan
Hubungannya dicari antara artinya “daerah pinggiran “Tanah perbatasan” dan namanya “Pinggir” yang diberikan pada satu suku (?) didaerah kerajaan; menurut Veth; 0rang-orang ini adalah keturunan dari orang-orang Balambangan yang pernah diangkuti sebagai tawanan perang oleh Mataram.
            Dugaan bukti tampilnya Blambangan pada masa Majapahit, menurut para penulis dan peneliti sejarah dapat ditunjang dengan kakawin Nagarakretagama karya Prapanca pada tahun Saka 1287 = 1365 Masehi. (Pigeaud, 1960a:73), tepatnya pada tanggal 30 September 1365 M. (Damais, 1938: 228). Dalam pupuh 28 Atijagapati (?), bait 1, larik 3, disebutkan nama tempat Balumbung (Pigeaud, 1960a: 21) yang diterjemahkan Balumbungan (Pigeaud, 1960c: 31) dan ditafsirkan Blambangan (Pigeaud, 1962d : 22-23) demikian dan sebagainya.
Upaya-upaya yang demikian tidak terlepas dari pengaruh Serat Damarwulan yang sedemikian kuat, bahwa kerajaan Balambangan itu ada pada masa berdirinjya kerajaan  Majapahit. Padahal kerajaan Balambangan yang diceritakan dalam Serat Damarwulan hanya  merupakan  lambang atau prasemon.sebagai sindiran pada Pamotan (Kedhaton Wetan) yang memberontak pada Kredhaton Kulon (Majapahit) yang dikenal dengan perang Paregreg 1401-1406.

4. RANGGALAWE (Dalam Serat Damarwulan).
           Ranggalawe dalam sejarah Majapahit bukan nama pribadi. Nama itu anugerah dari Raden Wijaya, sebagai mana telah dijelaskan dalam “Lembaran Kebudayaan” Nomor: 02 Bulan Juli 2009, dalam tulisan berjudul; “Mengungkap Prasemon (Lambang) Pelaku Sejarah, Babad, Cerita Rakyat, oleh; Fatrah Abal, h. 55-56.
            Nama yang dianugerahkan Raden Wijaya kepada putra Aria Wiraraja itu ialah “Lawe”.  Yang dimaksud  dengan  “lawe” yaitu; “benang”  Kata benang ini lalu dicarikan kata sehari-hari yang hampir serupa, pilihannya pada kata “wenang” (wewenang). Dan yang bersangkutan diberi pangkat “rangga”. Demikian ia dikenal sebagai Rangga Lawe.(Rangga yang diberi Wenang atau Wewenang). Peristiwa itu dituturkan dengan jelas dalam Panjiwijayakrama. Bila diamati, nama yang dianugerahkan Raden Wijaya kepada putra Aria Wiraraja itu menyimpan unsur sastra “Wangsalan” yang sangat membudaya bagi  masyarakat Jawa maupun masyarakat, Madura, Sunda,  Banyuwangen dan masyarakat daerah lain di kawasan Nusantara.
            Hampir dapat dipastikan, apa lagi tempo-dulu, orang Jawa bila bertemu saudara atau kawannya yang telah lama tidak bersua, pasti salah seorang diantaranya  akan mengucapkan “Lo, kok njanur gunung?” Mestinya yang diucapkan “Lo, kok kadingaren?” Bagaimana bisa demikian? Itulah istimewanya sastra (lesan); wangsalan, tinggalan leluhur kita. Namun sayang, generasi sekarang sudah banyak yang mengbaikan dan dianggap kuna dan ketinggalan zaman. Lain dengan bangsa Jepang yang moderen dan top kemajuan tekniknya dan industri, namun sangat menghormati dan kokoh mempertahankan dan memelihara budaya keluhurnya.                       
“Njanur gunung” yang dimaksud ialah janur yang ada didaerah pegunungan, terdapat pada pohon “aren”. Kata “aren” itu lalu dicarikan kata sehari-hari yang ada “aren”-nya. Pilihannya pada kata “kading-aren” atau “ding-aren”.
Sewaktu saya masih anak-anak sebelum zaman pendudukan Jepang, setelah solat “idul fithri”  biasanya lalu bersalam-salaman, kepada; orang tua, saudara, kerabat, tetangga dan semua sahabat atau kenalan. Khusus kepada kawan sebaya dan sepermainan di kampung, yang diucapkan pada waktu bersalaman; “Minal ‘aidin wal faizin, kreta wesi-ne hang akeh”. Arti dari kata “kreta wesi” (Kereta Besi) dalam wangsalan yang disertakan ialah “sepur” (Kereta Api), padanan katanya “sepur-o” (Ind. Maaf-kan). Jadi wangsalan yang disertakan “Kreta wesi-ne hang akeh” artinya; “Njaluk sepurane hang akeh” (Ind. Minta maaf yang banyak). .Di Banyuwangi sastra wangsalan tak terhitung banyaknya yang dimanfaatkan dalam sela-sela percakapan sehari-hari. Bahkan orang-orang tua masih banyak yang spontanitas dapat membuat wangsalan maupun basanan (semacam pantun) yang dilontarkan pada lawan bicaranya disela-sela percakapan sehari-harinya.
Dalam prakteknya, wangsalan dan basanan, maupun pribahasa karema sudah sangat membudaya, yang diucapkan pada lawan bicaranya cukup; sebaris atau dua baris dari kata tumpuannya. Sedang sebaris atau dua baris kata berikutnya yang memberi keterangan, lawan bicara atau pendengarnya pada umumnya sudah bisa menangkap maksudnya. Seperti ucapan; “Kreta wesine hang akeh” tersebut diatas, yang diajak salaman sudah mengerti apa yang dimaksud. Karena cara penggunaannya seperti itu, cukup banyak basanan maupun wangsalan (pantun) sepopuler pantun “Darimana datangnya lintah, dari sawah turun ke kali”. Sehingga walaupun sebaris atau dua baris dari kata tumpuannya yang diucapkan, pendengarnya sudah tanggap bagaimana baris berikutnya yang memberi keterangan.
Nama Ranggalawe  dalam Serat Damarwulan bukan merupakan unsur sastra “wangsalan” seperti nama Ranggalawe dalam sejarah awal berdirinya kerajaan Majapahit. Namun dalam Serat Damarwulan, nama Ranggalawe dipinjam dan dimanfaatkan sebagai lambang atau prasemon. Kalau dalam sejarah, tokoh Ranggalawe berkat jasanya yang besar membantu perjuangan Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit mendapat penghargaan kedudukan yang tinggi dalam pemerintahan sebagai Rakian mantri Nusantara dan merangkap sebagai penguasa daerah pesisir bagian utara kerajaan Majapahit dan berkedudukan di Tuban serta mempunyai seorang putra yaitu Kuda Anjampiani. Dalam Serat Damarwuilan Ranggalawe sebagai Adipati Tuban, dan diangkat sebagai Senapati atau Panglima Perang yang andal oleh Prabhu Kenya Kencanawungu raja Majapahit untuk menghadapi dan menumpas pemberontakan  Prabhu Menakjingga Urubisma, serta mempunyai dua orang putra yaitu Buntaran dan Watangan yang juga dimanfaatkan sebagai prasemon. Ternyata Ranggalawe yang diandalkan oleh Prabhu Kenya Kencanawungu pun tewas dimedan perang tak mampu menghadapai kedigdayaan Prabhu Menakjingga Urubisma yang sakti mandraguna berkat memiliki zimat gada wesi kuning.
Untuk dapat mengetahui makna tersirat lambang atau prasemon Ranggalawe, Buntaram dan Watangan, maupun jimat Gada Wesi Kuning dalam Serat Damarwulan hanya ada satu teori yang bisa ditempuh, walaupun tampaknya sepele, yaitu yang disebut; meng-“othak-athik” sampai diketemukan- “gathuk”-annya yang pas, tidak asal gathuk alias ngawur.
Karena kelajiman orang dahulu memberikan sesuatu secara lambang, niscaya logis pula bila orang menerimanya dengan segala ketajaman daya tangkap rasa dan pikiran (Jw. “daya tanggaping graita). Materi yang dihadapi di-“othak-athik” sampai “gathuk”, hingga akhirnya siratan dibalik ulah yang di luar nampak “innocent” itu terungkap.
Pada hakikatnya “othak-athik gathuk”,  yang spekulatif sifatnya itu, artinya yang positif yalah “membanding-memadu-mengurai-menyimpulkan” (Ingg = to compare-combine-analyse-deduce). Materi yang di-“banding-padu-urai-simpul”-kan itu adalah buah fantasi orang yang disebut lambang, prasemon dan sebagainya Maka wajarlah kiranya dalam menanggapi hasil-hasil karya sastra mereka, kita pun harus menempatkan diri dalam alam fantasi mereka dan menggunakan cara-cara berpikir mereka. Cara yang sama kita terapkan terhadap epos Damarwulan (Soenarto Timoer 1980 : 20 - 21).
Adapun “Ranggalawe”, terdiri dari kata “rangga” dan “lawe”. Karena dimanfaatkan sebagai lambang atau prasemon maka perlu di-“othak-athik” sampai “gathuk” sebagai berikut:
            Rangga, artinya; nama jabatan (pejabat atau para pejabat). Lawe, artinya; benang, umumnya berwarna putih, juga berfungsi sebagai tali (= sperma; berwarna putih, yang  juga berfungsi sebagai memiliki hubungan tali kekeluargaan, seperti; kakek/nenek, bapak/ibu, anak, cucu, buyut, dan sebagainya).
Dalam Serat Damarwulan; Ranggalawe diangkat sebagai “Panglima Perang” oleh Prabhu Kenya Kencanawungu raja Majapahit, untuk memimpin perang menghadapi Prabhu Menakjingga Urubisma raja Balambangan yang memberontak. Artinya bahwa mereka yang berperang dalam Serat Damarwulan antara Prabhu Kenya Kencanawungu dan Prabhu Menak Jingga Urubisma, tidak lain para rangga (pejabat kerajaan) yang masih mempunyai hubungan “lawe” atau “sperma”  (hubungan darah atau hubungan kekeluargaan). Artinya masih keluarga kerajaan (Majapahit) sendiri.. Akhirnya Rangga Lawe yang Panglima Perang itu, tewas. (Maksudnya; Rangga “para pejabat” yang Lawe “keluaga sendiri” itu, banyak yang tewas). Benarkah peperangan yang disinggung dalam “Serat Damarwulan” antara “Prabhu Kenya Kencanawungu” (prasemon untuk Wikramawardhana raja Majapahit) dan “Prabhu Menakjangga Urubisma” (prasemon untuk Bhre Wirabhumi) yang dikenal dengan perang Paregreg dalam sejarah Majapahit itu masih merupakan kerabat sendiri? Untuk membuktikan hal tersebut perlu mengetahui “Alur Kekeluargaan Rajadiraja Majapahit” sebagai berikut:
             Menurut Pararaton sehabis perang Bubat Sri Rajasanegara kawin dengan Padukoa Sori, keturunan  Sri Wijayarajasa dari Wengker. Dalam Nagarakretagama dikatakan bahwa permaisuri Sri Rajasanegara bernama Susumnadewi atau Sri Sudewi. Jadi Sri Sudewi dalam Nagarakretagama sama dengan Paduka Sori dalam Pararaton. Dari perkawinan itu lahir Kusumawardhani, yang kemudian dinobatkan sebagai Bhatara di Lasem dengan paraban Bhre Lasem Sang Ahayu. Dari selir Sri Rajasanagara mendapat seorang putra yang kemudian dikenal sebagai Bhatara di Wirabhumi.
            Bhre Daha Dyah Wiyat Sri Rajadewi Maharajasa dalam perkawinannya dengan Sri Wijayarajasa dari Wengker mendapatkan seorang putri bernama Rajasaduhita Indudewi. Rajasaduhita Indudewi kemudian dinobatkan sebagai Bhatara di Lasem dan kawin dengan Rajasawardhana dari Matahun. Perkawinan itu tidak menghasilkan keturunan. Sepeninggal Bhre Daha Dyah Wiyat Sri Rajadewi pada tahun 1371, Bhre Lasem Rajasaduhita kembali ke Daha untuk mengisi tahta Kerajaan Daha. Oleh karena ia tidak mempunyai keturunan, maka ia mengambil Bhre Wirabhumi sebagai putra angkat.
            Bhre Pajang, adik Dyah Hayam Wuruk, dalam perkawinan dengan Sri Singawardhana, Bhatara di Paguhan, memperoleh beberapa putra. Putra sulungnya bernama Wikramawardhana, menjadi bhatara di Mataram. Ia kawin dengan putri tunggal Sri Rajasanagara yang bernama Kusumawardhani. Demikianlah Wikramawardhana dan Kusumawardhani adalah saudara sepupu. Bhre Pajang mempunyai lagi seorang putra perempuan bernama Nagarawardhani, juga disebut Bhre Lasem Sang Alemu. Ia kawin dengan Bhre Wirabhumi putra Sri Rajasanagara.
            Pada tahun 1371 tahta Kerajaan Lasem kosong, lalu diisi oleh Kusumawardhani. Itulah sebabnya maka Kusumawardhani bergelar Bhre Lasem Sang Ahayu, untuk membedakannya dari Bhre Lasem Sang Alemu. Baru setelah Kusumawardhani pindah ke Kabalan sebagai bhatara, maka Nagharawardhani menjadi Bhatara di Lasem dengan julukan Bhre Lasem Sang Alemu Putri bungsu Bhre Pajang menjadi Bathara di Kahuripan. Bhre Kahuripan ini kawin dengan Raden Sumirat, putra Rakai i Hino di Majapahit Raden Sotor. Raden Sumirat kemudian menjadi Bhatara di Pandan Salas dan bergelar Bhre Pandan Salas. Ia adalah Bhre Pandan Salas yang pertama. Bhe Pandan Salas I manghat pada tahun 1400 dan dicandikan di Jinggan. Nama candinya Sri Wisnupura.
            Sepeninggal Sri Rajasanagara pada tahun 1389, Bhre Mataram Wikramawardhana menjadi raja Majapahit, menggantikan Sri Rajasanagara berkat perkawinannya dengan Kusumawardhani. Dari perkawinan Wikramawardhana dengan Kusumawardhani lahir Hyang Wekasing Suka. Ia mengambil nama abhiseka neneknya Sri Rajasanagara. Ia mangkat pada tahun 1400 mendahului ayahnya, sehingga ia tidak pernah menjadi raja Majapahit. Putra-putra Wikramawardhana dari selir yang silih berganti menduduki tahta Kerajaan Majapahit.
            Demikian secara singkat hubungan kekeluargaan rajadi-raja Majapahit pada zaman pemerintahan Sri Rajasanagara. Tokoh-tokoh yang tersebut di atas ikut serta menetapkan jalannya sejarah Majapahit (Prof Dr. Selamet Muljana 1983, h. 206-207).
            Untuk lebih meyakinkan bahwa perang yang disinggung dalam Serat Damarwulan  benar-benar merupakan perang saudara, antara para kerabat pejabat kerajaan  Majapahit, Sang Empu menambah prasemon “Buntaran” dan “Watangan” yaitu kedua putra Ranggalawe yang diangkat sebagai Panglima Perang Majapahit oleh Prabhu Kenya Kencanawungu dalam Serat Damarwulan.
            Lalu apa makna prasemon Buntaran dan Watangan?  Pada zaman dulu tombak merupan piranti perang yang dominan. Pada umumnya mata tombak disangga dengan gagang (tongkat) yang panjangnya antara dua sampai tiga meter. Gagang penyangga mata tombak sebagian disebelah atas disebut “buntaran”, dan sebagain disebelah bawah disebut “watangan”. Artinya yang menyangga mata tombak ialah “buntaran” dan “watangan”.  Berhubung tombak merupakan alat pembunuh untuk menghabisi musuh di medan perang pada zaman itu, kiranya prasemon “buntaran” dan “watangan” menyimpan makna bahwa yang menyangga “mata tombak” (api peperangan) untuk saling membunuh dalam perang “paregreg” masih saudara dekat dari kalangan bangsawan yang berdarah biru dan tentu saja masing-masing fihak melibatkan ribuan Wong Cilik alias rakyat biasa yang banyak menjadi korban baik jiwa maupun harta benda.
            Karena begitu hebatnya pengaruh “Serat Damarwulan” sehingga mampu mengobok-obok serta memutar-balikkan tentang banyak hal mengenai fakta sejarat, terutama bagi orang awam.yang menyerap Serat Damarwulan secara harfiah. Contoh yang sederhana, coba tanyakan pada setiap orang, siapa Ranggalawe itu? Pasti lebih banyak yang menjawab bahwa Ranggalawe adalah Bupati Tuban dan tewas oleh Menakjingga raja Balambangan. Jarang yang menjawab, sesuai dengan catatan sejarah bahwa; Ranggalawe adalah Rakrian Mantri Nusantara Majapahit, tewas ditangan Mahaisa Anabrang. Dan hingga sekarang cukup banyak yang percaya bahwa tokoh-tokoh dalam cerita Damarwulan itu benar-benar ada pada zaman dahulu.
            Memperhatikan makna simbolis; prasemon “Rangggalawe” diperkuat prasemon “Buntaran dan Watangan” dalam Serat Damarwulan, merupakan penjelasan,  bahwa yang terlibat dalam perang Paregreg 1401-1406, benar-benar adalah keluarga kerajaan Majapahit sendiri,  yaitu antara kerajaan bawahan Majapahit di Pamotan yang dipimpin oleh Bhre Wirabhumi, memberontak melawan pemerintahan pusat Majapahit di Trowulan yang dipimpin oleh raja Wikramawardhana. Jadi yang terlibat tidak ada wadiyabala dari kerajaan lain, apakah itu dari kerajaan Belambangan atau dari kerajaan manapun.. Sebab nama kerajaan “Belambangan” dalam Serat Damarwulan hanyalah lambang atau prasemon, sindiran buat kebhataraan (negara bawahan) Majapahit di Pamotan yang memberontak. Dengan demikian, hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pada saat  Sang Pujangga menciptakan karyanya Serat Damarwulan tahun 1748, yang namanya kerajaan Balambangan itu tidak ada dalam sejarah maupun dalam Sejarah Majapahit, kecuali kata-lambang (prasemon) yaitu “Balambangan” yang tercantum dalam “Prasasti Jayanegara I - 1316” yang dikeluarkan oleh raja Jayanegara setelah pemberontakan Nambi di Lumajang dapat ditumpas.


                       
PATIH LOGENDER

WAHITA DAN  PUYENGAN

ANGKAT BUTA  -  ONGKOTBUTA

 DAMARWULAN - BRAWIJAYA

 JIMAT WESI KUNING- DAYUN

 SABDAPALON – NAYAGENGGONG – DAYUN

 MENAK KUNCAR

DSB

Kamis, 02 Juni 2011

KESENIAN GANDRUNG BANYUWANGI


Oleh; Fatrah Abal

Asal-muasal kesenian gandrung   
            Kesenian gandrung Banyuwangi muncul bersamaan dengan dibabadnya hutan “Tirtagondo” (Tirta arum) untuk membangun ibu kota Balambangan pengganti Pangpang (Ulu Pangpang) atas prakarsa Mas Alit yang dilantik sebagai bupati pada tanggal 2 Februari 1774 di Ulupangpang
Demikian antara lain yang diceritakan oleh para sesepuh Banyuwangi tempo dulu.
            Mengenai asalnya kesenian gandrung Joh Scholte dalam makalahnya antara lain menulis sebagai berikut:
Asalnya lelaki jejaka itu keliling ke desa-desa bersama pemain musik yang memainkan kendang dan terbang dan sebagai penghargaan mereka diberi hadiah berupa beras yang mereka membawanya didalam sebuah kantong. (Gandroeng Van Banyuwangi 1926, Bab “Gandrung Lelaki”).
            Apa yang ditulis oleh Joh Scholte tersebut, tak jauh berbeda dengan cerita tutur yang disampaikan secara turun-temurun, bahwa gandrung semula dilakukan oleh kaum lelaki yang membawa peralatan musik perkusi berupa kendang dan beberapa rebana (terbang). Mereka setiap hari berkeliling mendatangi tempat-tempat yang dihuni oleh sisa-sisa rakyat Balambangan sebelah timur (dewasa ini meliputi Kab. Banyuwangi) yang jumlahnya konon tinggal sekitar lima ribu jiwa, akibat peperangan yaitu penyerbuan Kompeni yang dibantu oleh Mataram dan Madura pada tahun 1767 untuk merebut Balambangan dari kekuasaan Mangwi, hingga berakirnya perang Bayu yang sadis, keji dan brutal dimenangkan oleh Kompeni pada tanggal 11 Oktober 1772. Konon jumlah rakyat yang tewas, melarikan diri, tertawan, hilang tak tentu rimbanya atau  di selong (di buang) oleh Kompeni lebih dari enam puluh ribu jiwa. Sedang sisanya yang tinggal sekitar lima ribu jiwa hidup terlantar dengan keadaannya yang sangat memprihatinkan terpencar cerai-berai di desa-desa, di pedalaman, bahkan banyak yang belindung di hutan-hutan, terdiri dari para orang tua, para janda serta anak-anak yang tak lagi punya orang tua.(telah yatim piyatu) dan selain itu ada juga yang melarikan diri menyingkir ke negeri lain. Seperti ke Bali, Mataram, Madura dan lain sebagainya.
            Setelah usai pertunjukan gandrung menerima semacam imbalan dari penduduk yang mampu berupa beras atau hasil bumi lainnya dan sebagainya. Dan sebenarnya yang tampaknya sebagai imbalan tersebut, merupakan sumbangan yang nantinya dibagi-bagikan kepada mereka yang keadaannya sangat memprihatinkan dipengungsian dan sangat memerlukan bantuan, baik mereka yang mengungsi di pedesaan, di pedalaman, atau yang bertahan hidup dihutan-hutan dengan segala penderitaannya walau peperang telah usai.
            Mengenai mereka yang bersikeras hidup di hutan dengan keadaannya yang memprihatinkan tersebut, disinggung oleh C. Lekerkerker yang menulis beberapa kejadian  setelah Bayu dapat dihancurkan oleh gempuran Kompeni pada tanggal; 11 Oktober 1772, antara lain sebagai berikut;
Pada tanggal 7 Nopember 1772, sebanyak 2505 orang lelaki dan perempuan telah menyerahkan diri ke Kompeni, Van Wikkerman mengatakan bahwa Schophoff telah menyuruh menenggelamkan tawanan laki-laki yang dituduh mengobarkan amuk dan yang telah memakan dagingnya dari mayatnya Van Schaar. Juga dikatakan bahwa orang-orang Madura telah merebut para wanita dan anak-anak sebagai hasil perang. Sebagian dari mereka yang berhasil melarikan diri kedalam hutan telah meninggal karena kesengsaraan yang dialami mereka. Sehingga udara yang disebabkan mayat-mayat yang membusuk sampai jarak yang jauh. Yang lainnya menetap dihutan-hutan seperti; Pucang Kerep, Kali Agung, Petang dan sebagainya. Dan mereka bersikap keras tetap tinggal dalam hutan dengan segala penderitaannya. (Balambangan Indisch Gids II th. 1923 h. 1060).
            Berkat munculnya gandrung yang dimanfaatkan sebagai alat perjuang dan yang setiap saat acap kali mengadakan pagelaran dengan mendatangi tempat-tempat yang dihuni oleh sisa-sisa rakyat yang hidup bercerai-berai di pedesaan, di pedalaman dan bahkan sampai yang masih menetap di hutan-hutan dengan keadaannya yang memprihatinkan, kemudian mereka mau kembali kekampung halamannya semula untuk memulai membentuk kehidupan baru atau sebagaian dari mereka ikut membabat hutan Tirta Arum yang kemudian tinggal di ibukota yang baru di bangun atas prakarsa Mas Alit. Setelah selesai ibu kota yang baru dibangun dikenal dengan nama Banyuwangi sesuai dengan konotasi dari nama hutan yang dibabad (Tirta-arum). Dari keterangan tersebut terlihat jelas bahwa tujuan kelahiran kesenian ini ialah menyelamatkan sisa-sisa rakyat yang telah dibantai habis-habisan oleh Kompeni dan membangun kembali bumi Belambangan sebelah timur yang telah hancur porak-poranda akibat serbuan Kompeni (yaitu yang dewasa ini meliputi Daerah Kabupaten Banyuwangi).

Kesenian Gandrung dan pakem (Aturan mainanya).    
 Kesenian gandrung Banyuwangi pada awalnya muncul dimanfaatkan sebagai sarana perjuangan untuk menyelamatkan sisa-sisa rakyat Blambangan setelah dibantai habis-habisan oleh Kompeni dan membangun kembali bumi Blambangan sebelah timur yang yang telah hancur porak-poranda akibat serbuan Kompeni yang dibantu oleh Mataram dan Madura sewaktu Kompeni menyerbu dan merebut Blambangan dari kekuasaan Mangwi pada tahun 1767 (dewasa ini meliputi Kabupaten Banyuwangi)
Sejak awal kesenian gandrung telah dibekali  aturan main (pakem) antara lain dalam setiap pagelarannya selalu diacarakan dalam tiga babak, yaitu yang disebut : Jejer, Paju dan Seblang-seblang. Dalam operasinya sewaktu gandrung mengadakan pertunjukan di suatu tempat yang dituju, maka dimainkan sebuah gending yang disebut “Giro I” yang mempunyai maksud memberi tahu kepada penduduk bahwa di tempat tersebut akan diadakan pagelaran kesenian gandrung.  Penduduk yang mendengar bersiap-siap berbenah-diri untuk menyaksikan pagelaran kesenian yang acapkali diharap kedatangannya. Apabila terdengar gending yang disebut gending “Giro II”mulai dimainkan oleh para panjak (pemain musik instrument kesenian gandruang) yang permainan musiknya lebih cepat dan cara memukulnya lebih keras dari gending “GiroI” menandakan  bahwa pagelaran kesenian gandrung segera dimulai, maka berdatangan penduduk memadati seputar arena tempat gandrung digelar.. Yang datang lebih dulu duduk atau jongkok diatas tikar yang sudah digelar dan yang datang berikutnya berdiri dengan tertibnya dibelakan mereka yang telah duduk atau berjongkok ditikar dan tidak ada yang saling berdesakan. Adapun gending pertama yang harus dibawa pada babak “Jejer” berjudul “Padha Nonton”  tersusun sebanyak Pada saat gandrung melantunkan dua bait gending wajib seperti itu, suasananya sngat tenang dan syahdu yang terdengar hanya lantunan gandrung yang umumnya dengn nada tinggi dengan hanya diiringi gesekan sepasang biola. Pada umumnya para penontonnya diam terpukau mendengarkan lirik-lirik gending yang dilantunkan dan berusaha mempehatikn peragan seni pntomin yang disajikan oleh penari gandrung yang berusaha ++ memperhatikan peragaan seni pantomin yang peragaannya merupakan bahasa isyarat .     yang menyaksikan sudah cukup banyak yang datang, maka dimainkan gending yang disebut “Giro II” yang permainan instrumennya terdengar lebih cepat, serta suara musiknya lebih keras dan dinamis. sebagai petunjuk bahwa pagelaran kesenian gandrung segera dimulai. Setelah para pemain musik beristirahat beberapa saat, pagelaran kesenian gandrung pun dimulai yang pada umumnya diacarakan dalam tiga babak;


a.      Babak I,  Jejer
Pada babak pertama “Jejer” gandrung mulai atraksinya dengan berdiri di tengah kalangan (arena) selanjutnya melantunkan gending wajib berjudul Padha Nonton yang dikemas dalam bahasa lambang (prasemon) dengan hanya diiringi gesekan sepasang biola sedang instrument musik lainnya tidak dimainkan. Selanjutnya..setiap lirik puisi yang dilantunkan dijabarkan  dalam bentuk seni pantomin yang sangat indah membuat terpana dan terpukau siapa yang menyakskan. Dalam kesenian gandrung tidak dikenal orang kedua yang membantu gan drung melantunkan gending, seperti yang disebut “sindeng” dalam kesenian Jwa. Pada babak pertama gandrung mulai melakukan atraksinya berdiri ditengah arena dengan membentangkan kipas yang ada ditangannya seakan orang sedang membaca maklumat yang  perlu diumumkan ke masyarakat ramai, gending pertama yang harus dibawa berjudul “Padha Nonton” Gending ini tersusun sebanyak 8 bait, Setap baitnya terdiri dari 4 lirik.Gending Padha Nonton ini dalam prakteknya selalu dibawa hanya 2 bait saja. . .  membentangkan sebuah kipas dihadapannya seperti layaknya orang yang sedang membaca puisi.dan peragaan gandrung berupa seni Pantomin  Sewaktu melantunkan lirik-lirik berikutnya peragaan gandrung sedemikian indahnya dan peragaan yang disajikan merupakan gerakan tari yang diwarnai seni pantomin sebagai penjabaran setiap lirik dari gending-gending yang dilantunkan karena sastra “Prasemon” (tersusun dalam bahasa lambang). Gending Padha Nonton ini harus dibawa dalam babak pertama “Jejer” dan tersusun sebanyak delapan bait dan setiap baitnya terdiri sebanyak empat lirik. Dalam prakteknya gending Padha Nonton selalu dibawa dalam dua bait (8 lirik) saja  dan setiap melantunkan dua bait berikutnya, gandrung harus membawa gending jenis lain yang dipadati dengan “basanan” atau “wangsalan” yaitu jenis gending-gending yang biasanya dapat diminta oleh para pemaju gandrung di babak kedua untuk gending pengiring sewaktu para pemaju menari bersama penari gandrung. Karena harus dilantunkan dengan dua bait tersebut, maka setiap dua bait gending Padha Nonton yang dilantunkan akan melahirkan  judul sendiri dengan memanfaatkan lirik pertama dari dua bait yang dilantunkan sebagai judul, maka untuk 2 bait (8 lirik) yang pertama tetap berjudul Padha Nonton; 2 bait (8 lirik) yang kedua berjudul “Kembang Menur”; 2 bait ( 8 lirik) ketiga berjudul “Kembang Gadung” dan 2 bait (8 lirik) ke empat (terakhir) berjudul  “Kembang Abang”.

     2 bait pertama gending Padha Nonton
                        Padha Nonton
                        Pudak sempal ring lelurung
                        Yo pendite
                        Pudak sempal lambeane para putra
                                    Para putra
                                    Kejala ring kedung liwung
                                    Jalane jala sutro
                                    Tampange tampang kencana

      Biasanya gending selingan yang dibwa berjudul “Jaran Dawuk”

      2 bait ke dua gending Padha Nonton
                        Kembang menur
                        Melik-melik ring bebentur
                        Sun siram alum
                        Sun petik mencirat ati
                                    Lare angon
                                    Paculana gumuk iku
                                    Tandurana kacang lanjaran
                                    Sak unting kanggo perawan                                                                           

      Gending selingan yang dibawa  berjudul    “Condro Dewi

     2 bait ke tiga gending Padha Nonton
                        Kembang gadung
                        Sak gulung ditawa sewu
                        Nora murah nora larang
                        Hang nawa wong adol kembang
                                    Wong adol kembang
                                    Sun barisna ring temenggungan
                                    Sun payungi paying agung
                                    Lakonane membat mayun

     2 bait ke empat gending Padha Nonton
                        Kembang abang
                        Selebrang tiba ring kasur
                        Mbah teji balenana
                        Sun anteni ring paseban
                                    Ring paseban
                                    Dung ki demang mangan nginum
                                    Sleregan wong ngunus keris
                                    Gendam gendis buyar abyur

           


                                   

b.      Babak II,  Paju
Babak kedua disebut “Paju” mengandung makna bahwa penari gandrung memberi kesempatan kepada para penontonnya untuk maju masuk dalam kalangan (arena) guna menunjukkan kebolehannya dalam hal seni tari atau seni beladiri pencak silat. Gending-gending paju gandrung yang peragaannya dengan seni tari cukup banyak jumlahnya, antara lain berjudul : Kertas Mabur, Sukma Ilang, Cengkir Gading, Condro Dewi, Celeng Mogok, Ukir Kawin, Ereng-Ereng, Lia-Liu, Gerang Kalong, Lebak-Lebak, Tong Alak Gentak, Blabakan, Kusir-Kusir, Cap Go Mek, Ijo-Ijo, Es Lilin dan masih ada puluhan yang lain. Adapun gending-gending paju gandrung untuk mengiringi seni bela diri pencak silat antara lain berjudul : Semarangan, Gumukan, Bleded, Duduk Maling, Rembik, dan sebagainya. Sejak awal pun gandrung melantunkan gending-gending yang bernafaskan Islam sebagai pengiring tarian yang banyak diminati oleh para pemaju tari gandrung, diantaranya berjudul : Salatun, Santri Mulih, Ayun-ayun, Wak Aji, dan Gending Tombo Ati yang konon dicipta oleh Sunan Kalijaga pun dibawa dalam kesenian Gandrung Banyuwangi. Pada umumnya para pemaju gandrung dilakukan oleh seorang atau dua orang dan paling banyak sampai empat orang.. Dan para pemaju yang telah masuk dalam kalangan dapat meminta gending apa saja sesukanya untuk mengiringi menari bersama penari gandrung. Gending-gending paju gandrung yang dipadati dengan basanan atau wangsalan, pada umumnya diawali dengan sebait puisi dengan bahasa lambang, yang jumlah liriknya tidak sama dari masing-masing gending. Ada yang hanya satu lirik, dua lirik dan paling banyak sampai lima lirik (baris).yang selanjutnya dipadati dengan pantun-pantun daerah seperti yang disebur “basanan” atau “wangsalan”.

Contoh:1 lirik        Opak apem opake wong jolobiyo
Selanjutnya dipadati dengan pantun-pantun daera; basanan atau wangsalan.

2 lirik         Elang eling gerang kalong
                  Ilingo sedulur kabeh
Selanjutnya dipadati dengan pantun-pantun daera; basanan atau wangsalan

3 lirik         Sukmo ilang
                  Layang-layangan
                  Esuk maning ilanbg-ilangan
Selanjutnya dipadati dengan pantun-pantun daera; basanan atau wangsalan

4 lirik        Jaran dawuk
                  Nyirigo ring alun-alun
                  Nyirigo yogo-yogo
                  Ono widodari teko
Selanjutnya dipadati dengan pantun-pantun daera; basanan atau wangsalan
                                                  
5 lirik         Gending Gending gending guritan
                  gurit
                  Kendange ditabuh selisih
                  Ojo pati nuruti setan
                  Obange digowo mulih
Selanjutnya dipadati dengan pantun-pantun daera; basanan atau wangsalan

Sewaktu melantunkan bait tersebut gandrung tidak menari, tetapi berperaga seperti pada saat gandurng melantunkan lagu-lagu wajib yang lirik-liriknya berbentuk puisi yang peragannya sejenis tarian yang sarat dengan peragaan seni pantomin. Setelah selesai melantunkan bait pertama tersebut, gandrung merobah peragaannya dengan lincah menari mengikuti irama dari gending paju yang dibawa serta melantunkan pantun-pantun daerah  yang disebut; “wangsalan” atau “basanan”. Demikianlah gandrung menari dan menyanyi seorang diri melayani para pemajunya secara bergiliran semalam suntuk. 
Sejak awal munculnya kesenian “gandrung pria” yang konon merupakan sarana perjuangan pada zaman awal pemerintahan Bupati  Mas Alit alias Tumenggung Wiraguna I   ( 1774 – 1778), kemudian pada tahun 1895  muncul gandrung perempuan yang pertama tampil diawali oleh gadis Semi dari dukuh Cungking desa Mojopanggung, Banyuwangi, membuat para gandrung pria banyak yang mengundurkan diri atau pindah menjadi                 “primadona-nya” (gandrung-nya) kesenian “Hadrah Caruk” atau “Angklung Caruk” dan pada awal tahun 1930 an masih ada satu atau dua  pelaku gandrung lanang yang masih ada juga yang mengundang. Jadi apa yang ditulis oleh Joh Scholte dalam makalahnya Gandroeng van Banyoewangi tahun l926, pada Bab “GANDRUNG LELAKI” antara lain sebagai berikut:
“Nama gandrung lelaki yang penghabisan di Banyuwangi bernama Marsan
            Dia termashur sebagai penari hingga dimana-mana dia diundang dan semua saingan-
            nya harus mengakui keunggulannya. Tak seorangpun dapat mengunggulinya. Dialah
            memegang monopoli dari seni dan dia menari hingga tua dan wafat. Kalau penari gan-
            drung lainnya mengabdikan dirinya pada seni tari dan suara  hingga umur enam belas
            tahun, tetapi Marsan membuatnya hingga meninggal pada 40 tahun yaitu pada tahun
            1890. Lima tahun tampil gandrung wanita yang pertama dia adalah Semi, putrid Mak
            Midah dari desa Cungking..

Pada zaman gandrung masih diperagakan oleh gandrung lanang (lelaki),  pada umumnya para pemaju-gandrung dari masyarakat Banyuwangi sendiri, dan dapat dikatakan masih belum ada orang luar yang ikut maju gandrung. Demikian juga gending-gending paju gandrung yang dimainkan adalah gending-gending khas daerah Banyuwangen. Namun setelah penampilan gandrung wadon (perempuan) yang diawali oleh penampilan Semi, putrid Mak Midah dari Dukuh Cungking, Desa Mojopanggung, Banyuwangi pada tahun 1895 mulai ada orang luar tertarik ikut menari maju gandrung, maka untuk menyambut orang luar yang guyup ikut menari maju gandrung. Kesenian inipun ikut mempelajari dan memainkan lagu-lagu dari daerah lain, seperti lagu-lagu dari Jawa, Bali, Madura, Sunda, Betawi, Melayu dan sebagainya, jadi bila ada orang luar yang ikut menari maju gandrung, kesenian ini sedapat mungkin bisa melayani orang luar yang ikut menari maju gandrung minta dimainkan lagu daerah mereka untuk mengiringi tariannya.





                                  

      ??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????



berperaga “menari dan menyanyi” seorang diri tanpa “sinden” (orang lain yang membantu menyayi seperti umumnya pada kesenian Jawa).
      Munculnya “sinden” dalam kesenian gandrung yang saya lihat pada tahun 1973 sewaktu di pendopo Kabupaten Banyuwangi ada suguhan kesenian daerah untuk menjamu para tamu Pemda dari Daerah Tingkat I, dan pelaku sinden-nya seorang mantan penari gandrung bernama Poniti dari desa Genitri, kecamatan Temuguruh Banyuwangi.


c.   Babak III,  Seblang-seblang
Bila dalam babak pertama “Jejer” gandrung membawa gending wajib yang harus dibawa berjudul Padha Nonton, dalam babak ketiga gandrung membawa gending wajib yang harus dibawa sebanyak lima buah gending yang masing-masing berjudul :Seblang Lokinta (2 baik/8 lirik), Sekar Jenang (4 bait/16 lirik), Kembang Pepe (3 baik/12 lirik), Sondreng-sondreng (3 bait/12 lirik) dan Kembang Dirma  (2 bait/8 lirik), yang harus dibawa secara berurutan. Lima buah gending wajib yang harus dibawa dalam babak terakhir tersebut juga merupakan sastra prasemon dan cara membawanya tak jauh berbeda seperti sewaktu gandrung melantunkan gending Padha Nonton di babak pertama “Jejer” yaitu setelah melantunkan gending yang pertama atau mau melantunkan gending berikutnya gandrung harus membawa gending lain yang dipadati dengan basanan atau wangsalan. Demikian juga mengenai peragaan yang disajikan sewaktu membawa gending-gending wajib di babak Seblang-seblang, sama seperti sewaktu gandrung melantunkan gending-gending Padha Nonton di babak Jejer. Mengenai babak ke tiga ini disebut “Seblang-seblang” penjabarannya sebagai berikut : Seblang-seblang berasal dari kata seblang yang diulang. Kata seblang artinya sama dengan “trans” yaitu : keadaan seseorang terputus hubungannya dengan sekelilingnya, seperti orang meditasi, berkhayal, mabuk karena miras dan lain semacamnya. Orang yang kesurupan (kemasukan) roh halus sebangsa jin atau arwah orang yang telah meninggal dunia, disebut “seblang” (trans). Oleh karena pada saat gandrung melantunkan gending-gending wajib yang harus dibawa dalam babak ke tiga yang ada hubungannya dengan tewasnya puluhan ribu rakyat Blambangan sebelah timur sewaktu terjadinya Perang Bayu “Tersirat dalam gending Sekar Jenang” dan para gandrung pada waktu itu membawanya dengan peragaan yang didasari penjiwaan yang matang sehingga gandrung hanyut dalam keadaan “Seblang”. Menyaksikan penampilan gandrung yang demikian, membuat para penontonnya, terutama yang telah berusia lanjut, angan khayalnya melambung jauh membayang nasib para leluhurnya yang telah terbantai dalam peperangan yang ganas serta sangat memilukan, membuat para penontonnya pun ikut hanyut dalam keadaan trans atau “seblang-seblang” (sampai-sampai lupa diri). Sehubungan dengan hal tersebut, baik gandrung maupun penontonnya hanyut dalam keadaan”seblang-seblang” (sampai-sampai lupa diri), oleh karena itu babak ke tiga atau babak terakhir ini disebut “seblang-seblang”. Selanjutnya setelah sisa-sisa rakyat Blambangan bagian timur sebagian besar telah kembali dan terlihat kehidupannya sudah tampak mulai mapan, maka gandrung tidak lagi berkeliling sebagai yang dilakukan semula, tetapi gandrung berubah menjadi tontonan terob sebagai alat hiburan yang diundang oleh masyarakatnya yang memerlukan pada saat punya hajat seperti khitanan, perkawinan, dan lain sebagainya.

Pemandu Gandrung
Selain kesenian gandrung dibekali aturan permainan (pakem) seperti tersebut, dalam kesenian gandrung ada seorang panjak yang bertanggung jawab memandu gandrung sewaktu melakukan tugasnya, terutama sewaktu gandrung membawa lagu yang lirik-liriknya menggunakan prasemon. Pemandu gandrung yang dsisebut “Hang Ngundang” (Tukang Kudang) ini setelah kesenian gandrung melengkapi peralatan musiknya seperti yang terlihat kemudian memainkan alat musik yang disebut “Kluncing” (Ining-ining) yang dimaksud adalah kloneng atau triangle. Dan sejak itu sebagian masyarakat menyebut “Tukang Kluncing” (Tukang ining-ining) sebagai “Hang Ngudang” (Tukang Kudang).
Adapun kewajiban tukang kluncing (hang ngundang) tak berbeda dengan seseorang yang menimang anak kecil yang acap kali “ngundang” seperti : ayo tik munyik, acake tik merem, iki paran tik, kuping; hang iki tik, bacot; acake baguse kelendi tik; kadung anange mendelik kelendi tik, acake tirokno; demikian dan seterusnya.
Hang ngundang atau pemandu gandrung dahulu benar-benar orang yang piawai pada bidangnya dan setiap lirik gending yang diucapkan serta bagaimana arahan macam peragaannya harus diikuti oleh gandrung. Demikian juga, gandrung yang tampil pada masa itu adalah sosok yang telah matang dan dapat dikatakan profesional serta patuh pada pemandunya. Dengan ketatnya tatanan yang demikian dijalankan, selain membuahkan perjuangan gandrung dapat mencapai hasil yang diharapkan. Selanjutnya dapat melestari kemurnian kesenian gandrung sesuai dengan kandungan maknanya yang menyimpan nilai-nilai historis, patriotik, herois, religius, serta filosofis yang tinggi selama lebih dari dua abad.
Setelah tampilnya penari gandrung wanita pertama pada tahun 1895 yang disusul dengan munculnya orang luar mulai guyup ikut maju gandrung, menyimpan nilai positif tersendiri mengingat pintu ketertutupan masyarakat Banyuwangi terhadap pergaulan dan pengaruh orang luar mulai terkuak yang nantinya akan sangat besar manfaatnya sebagai saham perjuangan dalam upaya mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. Namun disisi lain, kesenian gandrung mulai bergeser banyak perobahan dan tambahan serta mulai meninggalkan aturan permainan (pakem) yang sebelumnya tabu untuk diabaikan. Wangsalan atau pantun-pantun yang semula sebagai suluh penerangan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat semakin menghilang dan diganti dengan banyak munculnya pantun-pantun asmara atau cinta kasih antara pria dan wanita, sehingga pantas saja bila Joh Scholte dalam “Gadroeng van Banjoewangi” menilai bahwa gandrung sebagai kata benda berarti “Yang jatuh cinta” atau “Yang padanya timbul hati merana” hingga didalam kata gandrung terdapat penilaian  “Erotik”  karena penampilan gandrung yang semakin genit dan menarik serta lontaran pantun-pantunnya yang bernuansa cinta kasih yang menggoda.   

Penjabaran gending “Pada Nonton”
Pada babak pertama “Jejer” gandrung melantunkan gending “Padha Nontoon” yang artinya ; sama menyaksikan atau “sama melihat” dan bila diperhatikan lirik-lirik berikutnya yang disaksikan menyangkut keadaan atau nasib para putra atau rakyat yang tertimpa kemalangan, yaitu yang dituturkan dalam beberapa prasemon: pudak sempal atau para putra, kembang menur atau lare angon, kembang gadung dan wong adol kembang, serta kembang abang dengan mbah tejinya.
Memperhatikan penuturan dalam beberapa prasemon seperti tersebut, lirik Padha Nonton bisa mengandung anjuran ; ingatlah, bacalah atau perhatikan. Yang simpulannya mempunyai makna tersirat “jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”.
Dalam prakteknya gending Padha Nonton yang terdiri sebanyak delapan bait. Selalu dibawa hanya dua bait (lihat : babak jejer) :
Dua bait yang pertama sebagai berikut :

Podho Nonton
Pudak sempal ring lelurung
Ya pendite
Pudak sempal lembeyane para putra

Para putra
Kejala ring kedung lewung
Jalane jala sutra
Tampangen tampang kencana

Banyak yang berpendapat bahwa gending Padha Nonton ini ada hubungannya dengan kerja rodi sewaktu membuat jalan raya dari Panarukan hingga ke Banyuwangi, dikarenakan adanya kata “pudak sempal ring lelurung” pada bait pertama, lirik ke 2, yang diserap dengan makna “pundak sempal di jalan-jalan”. Pada hal kata “pudak’ yang dimaksud dalam gending ini ialah nama bunga, yaitu bunga “pudak” yang dimanfaatkan sebagai lambang atau simbul atau
Dalam bahasa daerah sebagai “prasemon” yang menyipan makna tersirat. Selain kembang “pudak” dalam gending “Pada Nonton” terdapat beberapa nama bunga yang dimanfaatkan sebagai lambang, seperti; kembang menur, kembang gadung dan kembang abang. Bahkan ada yang dimanfaatkan sebagai judul pada gending wajib lainnya yang juga bermakna lambang, seperti; Sekar Jenang, Kembang Pepe dan Kembang Dirmo.

           

Hal tersebut menunjukkan yang bersangkutan sangat awam, tidak mengerti bahwa gending Padha Nonton yang sangat populer di kalangan masyarakat Banyuwangi, maupun gending-gending wajib lainnya yang harus dibawa dalam pagelaran kesenian gandrung dikemas dalam bahasa lambang atau prasemon yang mempunyai makna tersirat berkaitan


 dengan penyerbuan Kompeni pada tahun 1767 dan  tidak memahami bahwa setiap kata maupn lirik-liriknya dari gending-gending  tersebut merupakan bahasa lambang (prasemon) sehinga ditelan begitu saja apa adanya seperti yang tersurat. Pada hal mestinya atau “mau tidak mau” dicari makna tersiratnya sesuai kelajiman pola pikir orang dahulu yang membuat
Sebelum dicari makna tersiratnya, harus dipahami arti dari setiap kata atau liriknya sebagai berikut :

Sama menyaksikan
Bunga-pudak “patah” dijalan-jalan
Ya “ikat pinggang” nya
Bunga pudak yang patah “ayunan tangan”  para putra

Para putra
Terjaring di lubuk “yang airnya berputar”
Jaringnya terbuat dari sutra
Pemberat di bibir jaringnya terbuat dari emas

Setelah memahami arti dari setiap kata maupun liriknya, selanjutnya di- “othak-athik” sampai “gathuk”  dengan peristiwa sejarah yang disinggungnya.

1.a    Sama menyaksikan : makna tersiratnya sudah disimpulkan di atas.

1.b.   Pudak sempal ring lelurung    Cempedak : nama bunga, selain sebagai kata ganti untuk orang ketiga jamak juga sebagai lambang.
Cempedak : adalah tetumbuhan semacam pandan (pandanus tectorius) yang pohonnya bila tertiup angin bergoyang sedemikian rupa menunjukkan betapa lemahnya mereka yang dimaksud dan dilambangkan dalam keadaan patah pula yang mengandung makna bahwa mereka kehilangan semangat tak berdaya.
Lurung atau jalan adalah sarana untuk mencapai hunian, baik jalan yang ada di kota, di desa, di perkampungan maupun jalan setapak yang menuju ke pedalaman. Sehingga sebagai lambang yang dimaksud “ring lelurung” (dijalan-jalan) adalah tempat-tempat yang dihuni oleh penduduk di seluruh negeri.

1.c.   Ya pendite.      “ikat pinggang” nya
Ikat pinggang atau sabuk pada perut sebaga lambang dalam lirik ini menyangkut hal-hal yang ada hubungannya dengan isi perut, seperti kelaparan, kemiskinan, penderitaan karena jeratan beban yang mencekik leher, seperti akibat terjadinya sesuatu yang menimpa nasib bangsa dan negara yang pada ujung-ujungnya rakyat bahwa atau kaula alit yang paling menderita.
Sebagai contoh bagaimana nasib rakyat pada jaman pendudukan jepang yang diawali penyerahan Hindia Belanda tanpa syarat di Kalijati, Bandung, 9 Maret 1942 sampai bertekuk lututnya Jepang pada “Sekutu” 14 Agustus 1945, dan disusul banyaknya peristiwa perjuangan akibat pemerintahan sipilnya yang disebut “NICA” dibawah pimpinan Van Mook maka timbullah pertempuran di Surabaya 10 Nopember 1945 (Hari Pahlawan) ; di Semarang 19 Nopember  1945 ; di Salatiga 21 Nopember 1945 ; di Bandung 23 Maret 1946. Unrtuk menghadapi serangan Belanda organisasi ketentaraan diperbaiki, dari TRI menjelma Tentara Nasional Indonesia (TNI) 3 Nopember 1947; dengan alasan-alasan yang dicari-cari Belanda mulai dengan perang kolonialnya yang disebutnya “Aksi Polisional” yang memunculkan Clash (Agresi) I 1947 dan Clash (Agresi) II Desember 1948. Belum lagi peristiwa September di Madiun atau peristiwa G.30.S di Jakarta 1965. dan yang terakhir peristiwa 12-15 Mei 1998 hingga lengsernya Presiden Soeharto 21 Mei 1998, semua peristiwa dan kejadian berdarah yang membawa korban jiwa dan harta benda serupa itu tetap saja kalangan bawah menerima dampak paling parah.
Pada jaman pendudukan Jepang hingga berakhirnya jaman orde lama, karena banyaknya kejadian-kejadian yang membuat kehidupan rakyat selalu dihimpit kesulitan. Pada umumnya para pemimpin memberi wejangan dalam pidatonya supaya rakyat “mengencangkan ikat pinggangnya” yang maksudnya agar rakyat hidup hemat, prihatin dan sebagainya. Pada masa itu para pemimpin benar-benar berjuang untuk kepentingan bangsa dan negara. Keadaannya pun sama dengan kehidupan yang diderita oleh rakyat.
Namun setelah lewat satu dekade datangnya jaman orde baru hingga dewasa ini, walau berulang kali muncul pergolakan atau terjadi musibah bancana alam yang membuat rakyat terjerembab dalam kesulitan di daerah-daerah tertentu maupun berdampak luas secara nasional, tak lagi terdengar wejangan para pemimpin agar kita “mengencangkan ikat pinggang”, masalahnya para pemimpin sudah tidak lagi memperjuangkan kepentingan rakyat, tetapi yang diupayakan bagaimana dapat memupuk harta kekayaan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan pribadi, keluarga atau kelompoknya.

1.d.   Pudak sempal sempal lambeyane para putra   “ayunan tangan” nya para putra.
Pudak sempal, makna tersiratnya lihat lirik kedua di atas.
Yang dimaksud dengan “lembeyan” ialah ayunan tangan pada saat orang sedang berjalan. Umumnya dirangkai dengan “tayongan” dan kata “tayongan lembeyan” atau “ayunan tangan pada saat orang sedang berjalan” akan berpengaruh pada gerak seluruh tubuhnya yang pada setiap orang memiliki gambaran gerak berbeda, sehingga apabila terlihat dari kejauhan akan mudah diterka bahwa yang berjalan tersebut adalah si Fulan.
Dalam masyarakat Banyuwangi ada unen atau semacam pepatah sebagai berikut “Lembeyane sing bisa ilang” yang artinya : bahwa karakter atau sifat seseorang itu sulit hilangnya.

2.a.   Para Putra.
Yang dimaksud dengan “para putra” dalam lirik pertama, bait ke dua ini adalah “para putra” atau rakyat Blambang sebelah timur yang keadaannya sangat memprihatinkan sebagaimana dilukiskan dalam bait pertama tersebut di atas.

2.b.   Kejolo ring kedung lewung   Terjaring di “lubuk” yang “airnya berputar”
Yang perlu diperhatikan dalam lirik ini ialah kata “lubuk” yang “airnya berputar” sebagai lambang atau prasemon.
Lubuk artinya : bagian sungai atau laut yang dalam, biasanya terdapat banyak ikan, siratannya : hunian yang banyak penduduknya.
Airnya berputar, siratannya : keadaan atau situasinya berpusing atau memusingkan, membingungkan, kepanikan dan sebagainya.
Maksudnya bahwa mereka (para putra) yang hidup di kampung-kampung atau pedesaan yang keadaannya dalam kebingungan atau panik dan sebagainya itu terjaring atau terperangkap dan seterusnya.

2.c.   Jalane jala sutra      Jaringnya terbuat dari sutra
Yang dimaksud dengan”jala sutra” (jala yang yang terbuat dari sutra) dalam masyarakat Banyuwangi mengandung makna “tipu muslihat yang halus”

2.d.   Tampang tampang kencana      artinya : alat pemberat yang berbentuk cincin terbuat dari timah budeng (timah hitam) dirangkai sedemikian rupa disepanjang bibir jala sebagai pemberat agar jala mudah tenggelam setelah ditebar, dengan tujuan yang terjala tak mudah lepas.
Dan dalam lirik ini “tampang” nya terbuat dari “kencana” (emas) yang sangat tinggi atau mahal harganya. Lalu siapa mereka yang menebar “jala sutra” (tipu daya yang halus, licik dan seterusnya) bahkan berani mengeluarkan biaya yang tinggi untuk membayar mereka yang terjala agar tak mudah lepas, apalagi sampai berpihak pada kekuatan lawan.
Mengenai kebingungan dan kepanikan (lewung) akibat terpecah belah sehingga sulit menentukan mana kawan dan siapa lawan yang menimpa kehidupan rakyat Blambangan sebelah timur, bukan hanya terjadi pada era peperangan setelah penyerbuan Kompeni tahun 1767 saja, namun sudah terjadi sewaktu Mas Nuang menyingkirkan adiknya Mas Sirna yang telah dikukuhkan oleh Mangwi sebagai Pangeran Patih lalu  mengangkat putranya sendiri Mas Sutajiwa sebagai Pangeran Patih. Mengingat setelah kejadian tersebut masih banyak peristiwa sejarah seperti :

Pertempuran dengan orang-orang Bugis yang dipimpin oleh Daeng Pager Syah dan Daeng Pager Ruyung di Boom Pakem, dihukum matinya Ranggasetata oleh Pangeran Danuningrat karena berselisih dengan Pangeran Pati Sutajiwa yang dianggap sebagai biang mengadu domba rakyat dilambangkan “peristiwa adu jangkrik”
Diserbunya istana Pangeran Danuningrat oleh pasukan Wong Agung Wilis yang dibantu pasukan dari Mangwi membuat larinya Pangeran Danuningrat minta bantuan kepada kompeni namun tidak membawa hasil. Selanjutnya Pangeran Danuningrat dihukum mati di pesisir Seseh (Bali) oleh Cokordha akibat pembangkangannya sebagai raja vasal dari kerajaan Mangwi. Dan setelah itu Dawa Agung Klungkung dan Cokordha Mangwi mengangkat wakilnya seorang Bali di Blambangan bagian timur, yaitu bernama Gusti Ngurah Ketut. Dan pada jaman pemerintahan Gusti Ngurah Ketut inilah pasukan kompeni dikerahkan menyerbu dan merebut Blambangan sebelah timur (Babad Blambangan “Gancar”). Peristiwa sejarah yang diserap dari babad tersebut perlu dipaparkan kembali dalam “bagian” lain dan mengingat terselubung dalam banyak prasemon perlu di “othak-athik gathuk” untuk mencari siratannya.

Karena gending Padha Nonton yang terdiri delapan bait selalu dibawa dua bait, maka setiap dua bait berikutnya akan memiliki judul sendiri dengan memanfaatkan lirik pertama dari dua bait gending yang dibawa sebagai judul. Adapun dua bait berikutnya berjudul “kembang menur” sebagai berikut :

Kembang menur
Melik-melik ring bebentur
Sun siram alum
Sun petik mencirat ring ati

Lare angon
Paculono gumuk iku
Tandurono kacang lanjaran
Sak unting kanggo perawan

Setelah memahami setiap kata yang dimanfaatkan sebagai lambang (prasemon), maka di “othak-athik-gathuk” sebagai berikut :

3.a.   Kembang menur    sebagai kata ganti untuk orang ketiga jamak
Menur : yang dimaksud bunga melati. Bunga melati yang kecil mungil, berwarna putih serta baunya yang semerbak wangi, sejak dahulu bagi masyarakat Banyuwngi merupakan simbol “rasa cinta kasih yang tulus” terutama dalam lingkungan keluarga, famili dan sebagainya.

3.b.   Melik-melik ring bebentur     ; terlihat dengan jelas
Ring be-bentur, dibentur-benturkan atau disetiap bentur. Yang disebut “Bentur” adalah pagar tembok di depan rumah, yang dahulu terbuat dari tumpukan bata (batu merah) dan lain semacamnya, yang direkatkan dengan tanah liat. Karena letak bentur di depan rumah, maka kata “ ring bebentur” sebagai lambang, makna tersiratnya adalah “dirumah-rumah” (disetiap rumah), juga pada rumah yang tak berbentur atau bahkan rumah gubug di pedalaman dan sebagainya.

3.c.   Sun siram alum ; ku siram layu
mengapa si “Kembang menur” (mereka yang terkasih) yang tinggal di setiap rumah itu, bila ada siapapun yang menyiram (menghibur, menasehati, menyiram dengan kata-kata yang sejuk) tetap saja layu (sedih dan merana). Karena si menur yang layu terpuruk memikirkan nasib si kembang menur yang hilang atau tewas dalam peperangan. Maka bila ada yang menyiram untuk meringankan beban yang menindih, maka mereka tetap layu (merana) seperti :

Sudahlah, ikhlaskan yang telah hilang atau tewas, semua telah menjadi kehendak-Nya. Bersabarlah, mari sama berdo’a, semoga yang pergi mendapatkan tempat yang lapang di tempat lain (akhirat) dan lain sebagainya.

3.d.   Sun petik mencirat ring ati         : ku petik memercik lekat di hati
Maka, siapapun yang memperhatikan, memikirkan, mengingat, mengenang atau membayangkan ; betapa besarnya korban jiwa yang menimpa nasib rakyat Blambangan sebelah timur, sebagaimana yang ditulis oleh CJ. Bosch dari Bondowoso pada tahun 1848 dengan mengatakan bahwa :

“DAERAH INILAH BARANGKALI SATU-SATUNYA DI SELURUH JAWA YANG SUATU KETIKA PERNAH BERPENDUDUK PADAT YANG TELAH DIBINASAKAN SAMA SEKALI” (Prisma 11 Nopember 1982).

Apalagi sempat membaca sejarahnya secara rinci, maka akan timbul kesan menggores dalam hati, tentang keganasan api peperangan pada masa itu yang membuat jiwa manusia banyak melayang dengan keadaannya sangat menyedihkan.


4.a.   Lare angon : anak gembala
Yang dimaksud lare angon pada umumnya dikatakan kepada anak-anak di bawah umur yang setiap harinya melakukan kesibukan memelihara binatang peliharaan seperti : sapi, kambing, itik dan sebagainya. Namun kata “lare angon” dalam lirik pertama, bait ke empat ini ditempatkan sebagai prasemon yang memiliki siratan yang jauh berbeda dan bahkan bertolak belakang.
Apalagi dengan memperhatikan munculnya lirik-lirik.

4.b.   Paculono gumuk iku : cangkulilah “gumuk” (gunung kecil atau bukit), yang mengandung siratan bahwa anak-anak di bawah umur yang mestinya masih dalam asuhan dan bimbingan orang tua dengan melengkapi kebutuhan lainnya seperti sandang, pangan, pendidikan, kesehatan dan sebagainya, tetapi dalam lirik ini anak-anak itu dianjurkan mencangkuli (menggali, mencari atau bekerja) untuk membantu kebutuhan hidup sehari-hari keluarga mengingat keadaannya sudah sedemikian parah.
Gumuk = gunung cilik atau gunung kecil (Serat Boesastra Jawi, Tokyo 1 Pebruari 1937, oleh WJS. Poerwodarminta, h. 155).
Gumuk merupakan gundukan tanah yang tinggi, juga disebut bukit, sebagai lambang (prasemon) siratannya, bahwa mereka “lare angon” tidak lagi di kota, pedesaan atau perkampungan yang pada umumnya tanahnya datar, tetapi mereka tinggal di dusun atau pedalaman yang tanahnya terdapat banyak gumuk (bukit) nya.

4.c.   Tandurono kacang lanjaran = tanamilah kacang lanjaran
tandurono (tanamilah), anjuran ini bisa juga dengan menanam, tetapi melihat sikonnya lebih condong untuk mencari. Yang dicari dilambangkan dengan “kacang” yaitu hasil bumi yang dapat disimpan tahan lama. Jenis tanaman yang umbinya bisa dimakan dan dapat disimpan tahan lama serta mudah dicari di pedalaman atau di hutan antara lain disebut : bothe, talas, bengkoang, gembili dan masih banyak yang lainnya. Kata terakhir dalam lirik ini “lanjaran” yaitu alat (berupa kayu dan sebagainya) untuk menopang dan tempat menjalar tanaman menjalar.
Menjalar :
1.      Memanjang, bertampang panjang ;
2.      Mengulurkan (tali dan sebagainya panjang-panjang) ;
(Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, 28 Oktober 1988, h. 496)
Kesimpulannya, bahwa anak-anak di bawah umur itu dengan terpaksa dianjurkan membantu kebutuhan keluarga yang sangat diperlukan sehari-hari mencari sesuatu yang bisa dimakan dan tentunya tidak terbatas dengan umbi-umbian, tetapi apa saja yang bisa dimakan dengan aman, apakah itu berupa dedaunan atau sayuran serta bisa saja mencari binatang buruan atau menangkap ikan di sungai dan sebagainya. Dan semua itu perlu dilakukan untuk menopang isi perut dengan tujuan mengulur waktu memperpanjang umur, demi mempertahankan hidup.

4.d.   Sak unting kanggo perawan
sak unting : satu bagian tertentu. Bisa juga mengandung makna : satu bagian yang pantas untuk dibagikan atau disumbangkan kanggo perawan : untuk anak dara atau gadis. Kata “perawan” (anak dara atau gadis), berkonotasi “perempuan” dan sebagai lambang mengandung makna “ lemah, tak berdaya, banci dan lain semacamnya. Bila ada sekelompok orang atau mahasiswa, mengirim bingkisan yang berisi BH kepada pihak tertentu (pemimpin atau pejabat), hal itu merupakan sindiran bahwa yang mendapat kiriman bertindak sangat lemah atau tak berdaya (banci) dalam menyelesaikan masalah yang menjadi tanggung jawabnya.
Lihat juga pada Bab Memahami Bahasa Lambang (prasemon) di bagian depan, mengenai Wikramawardhana yang mendapat prasemon “Prabu Kenya Kencanawungu” dalam Serat Damarwulan yang tertua tahun 1748, atau pada jaman Sunan Pakubuwana II (1725 – 1749).
Dengan demikian siapa yang dimaksud mereka yang lemah dalam prasemon “perawan” (anak dara atau gadis) dalam lirik ini?
   Melihat peristiwa sejarahnya disinggung sewaktu kompeni mengerahkan kekuatannya untuk menundukkan seluruh kawasan yang disebut Blambangan bahkan meliputi daerah Malang sebelah timur, sehingga rakyat yang menderita, sengsara, terlantar dan lain semacamnya jumlahnya cukup banyak dan bukan hanya terjadi di Blambangan sebelah timur saja walaupun kenyataannya yang menerima akibat paling parah dan mengerikan adalah daerah yang kemudian dikenal dengan nama Kabupaten Banyuwangi. Maka, memperhatikan seruan agar anak-anak yang masih dibawah umur membantu mencari kebutuhan hidup tidak lain karena keadaannya sudah sedemikian mendesak, namun masih juga dianjurkan membantu mereka yang lain dan bisa dibayangkan bagaimana kesengsaraan mereka yang memerlukan uluran tangan tersebut. dan mereka yang tak berdaya itu antara lain : para orang tua yang telah lanjut usia, para perempuan dan janda yang kehilangan keluarganya, atau anak-anak yatim piatu selain jumlahnya banyak keadannya nyaris tak tertolong lagi. Bantuan yang diberikan tidak terbatas pada kebutuhan pangan, meliputi perawatan serta kebutuhan obat-obatan tradisi yang mudah mencarinya di pedalaman atau di hutan-hutan. Korban peperangan jaman dahulu nasibnya sedemikian parah, tak ada pihak manapun yang mau peduli, kecuali dari kalangan sendiri. Dibandingkan dengan jaman sekarang sangat jauh berbeda. Pada jaman sekarang banyak yang siap memberi bantuan bagi mereka yang mendapat musibah seperti kerusuhan, peperangan, bencana alam dan sebagainya. Bantuan yang demikian patut dihargai, baik dari kalangan sendiri atau lokal, dari daerah lain atau oleh pemerintah, juga dari manca negara atau dari badan dunia seperti PBB dan seterusnya. Dan selain itu masih ditunjang transportasi yang modern. Namun bagaimana dengan nasib rakyat pada jaman dahulu yang mendapat cobaan seperti itu?
   Dua bait ke tiga (bait ke 5 dan bait ke 6) gending Padha Nonton ini, dapat disebut sebagai gending berjudul “Kembang Gadung”, sebagai berikut;


Kembang gadung
Sak gulung ditawa sewu
Nora murah nora larang
Hang nawa wong adol kembang

Wong adol kembang
Barise ring temenggungan
Dipayungi payung agung
Lakonane membat mayun

5.a.   Kembang gadung
Siapa “mereka” yang mendapat prasemon dengan “gadung” tersebut? gadung adalah tetumbuhan menjalar, selain batangnya berduri, umbinya bergetah yang mengandung racun cukup berbahaya serta bisa mematikan. Misalnya, bila yang mengolah tidak mengerti cara menghilangkan getahnya yang beracun, dimakan sedikit saja mulut menjadi gatal, perut mual, kepala pening dan seterusnya. Dan bagi yang bisa menghilangkan racunnya, emping gadung enak rasanya bila dimakan. Dengan demikian, mereka yang mendapat prasemon sebagai “Gadung” adalah orang-orang yang cukup berbahaya.

5.b.   Sak gulung ditawa sewu : satu gulung ditawar seribu
Kata “gulung” perlu dipahami penggunaannya.
Dapat untuk mengatakan : menggulung benang, menggulung tikar, menggulung rokok dan sebagainya. Dapat juga untuk menggulung perusuh, menggulung kawanan perampok dan sebagainya.
   Ada juga kiasan : gulung tikar, yang artinya : bangkrut, gulung kuming artinya jatuh bergelimpangan dan sebagainya. Dalam lirik ini berbunyi : sak gulung ditawa sewu atau satu kali gulung ditawar seribu. Nilai seribu disini masih kabur apa yang dimaksud.

5.c.   Nora murah nora larang ; tidak murah pun tidak mahal
Dari lirik : satu gulung ditawar seribu dan tidak murah pun tidak mahal, bahwa sesuatu yang ditawar (ditransaksikan) tidak umum dan tidak memiliki nilai standart alias tidak ada harganya. Misalnya, burung perkutut atau benda-benda yang dipercaya memiliki keampuhan atau kesaktian seperti keris, merah delima, wesi kuning dan lain semacamnya, harganya “tidak murah pun tidak mahal” dan tergantung siapa pembelinya. Bila pembelinya tertarik serta tidak mengerti atau percaya pada khasiat dan faedahnya akan terasa mahal.

5.d.   Hang nawa wong adol kembang,    artinya : yang menawar penjual bunga
Penjual bunga sebagai kias sudah umum banyak yang telah memahami dan yang dimaksud tidak lain adalah “penjual bunga”.
Dengan munculnya lirik ini, dapat dibayangkan apa yang dinegosiasi oleh si “penjual bunga” kepada si “gadung” yaitu orang yang siap menerima order untuk melakukan apa saja asal setiap order (sak gulung perintah) dibayar cukup mahal, walau perintah itu untuk menyakiti, meracuni, menyingkirkan dan sebagainya terhadap bangsanya sendiri, apakah sebagai mata-mata, pengacau (provokator), menyingkirkan orang-orang yang tidak dikehendaki sesuai dengan order yang diterima dan lain sebagainya.

6.a.   Wong adol kembang, artinya : si penjual bunga
Pada lirik pertama dalam bait ke enam dari gending Padha Nonton ini si penjual bangsa ditampilkan lagi mengingat betapa jahatnya ulah si penjual bangsa tersebut sebagai agen musuh yang tega menyakiti dan membuat celaka bangsanya sendiri.

6.b.   Barise  ring Temenggungan, artinya : dibariskan di Temenggungan
Munculnya lirik ini sebagai petunjuk bahwa si penjual bangsa ini tidak hanya seorang atau dua orang, tetapi lebih dari itu dan pada saat tertentu mereka diundang di Temenggungan atau di pendopo (paseban/balai pertemuan) yang biasanya terletak di depan rumah tinggal dari pejabat kepala daerah setingkat jabatan Bupati.
Setelah Pangeran Danuningrat dihukum mati di pesisir Saseh bersama delapan puluh pengawalnya oleh Raja Mangwi, Raja Mangwi mengangkat wailnya dua orang Bali, yaitu Gusti Ketut Ngurah dan Gusti Kuta Bedah.
Setelah kompeni menguasai Blambangan sebelah timur, Mas Anom diangkat sebagai Tumenggung Kesepuhan dan Mas Weka (Mas Una) diangkat sebagai Tumenggung Kanoman.
Dalam Babad Blambangan diterangkan bahwa Wong Agung Wilis juga diangkat sebagai Pangeran Blambangan. Atas desakan putranya yaitu Mas Dalem Puger, Wong Agung Wilis melakukan perlawanan pada kompeni yang secara diam-diam dibantu oleh Mas Anom dan Mas Weka. Setelah pertahanan Wong Agung Wilis di Lateng dapat dihancurkan pada tanggal 18 Mei 1978. Mas Anom, Mas Weka, Wong Agung Wilis bersama putra-putranya ditangkap dan dikirim ke pulau Banda. Kemudian Wong Agung Wilis bersama putra-putranya melarikan diri dari pulau Banda ke pulau Seram. Dan dari sana beliau dapat mencapai Bali, dimana tak lama kemudian beliau meninggal pada tahun 1779. Setelah para pejabat yang tidak setiap kepada kompeni tersebut diasingkan, kompeni mengangkat Mas Sutanegara sebagai Bupati Kasepuhan dengan patih Mas Suratuna. Wasengsar diangkat sebagai Bupati Kanoman dengan patih Jaksanegara. Namun pada tahun 1771 diketahui bupati kesepuhan Mas Sutanegara beriktu patihnya dan Bupati Kanoman Wasengsari melakukan hubungan surat “persekongkolan” dengan Gusti Agung di Mangwi, akibatnya ketiganya diringkus dan bersama keluarganya masing-masing dibawa ke Surabaya dan terus dibuang ke pulau Eden.
Yang setia tinggal Jaksanegara oleh Lusac diangkat sebagai bupati, tetapi keputusan ini tidak disukai oleh Gubernur Vos : “kita harus punya bupati-bupati Jawa kita sendiri”, demikian Gubernur Vos lalu mengangkat Patih Kertawijaya dari Surabaya yang bernama Kertanegara sebagai bupati. Tetapi pada akhir tahun itu juga bupati Kertawijaya ditarik kembali ke Surabaya karena rakyat Blambangan bagian timur bersikap keras untuk tidak menerima seorang Jawa sebagai bupatinya. Kajadian itu membut Jaksanegara tetap menjadi bupati tunggal tahun 1773. Namun kompeni kesulitan mencari calon penggantinya karena para bangsawan Blambangan bagian timur selain banyak yang tewas akibat peperangan, banyak juga yang ditawan dan dibuang oleh kompeni atau banyak juga yang melarikan diri.
Dalam keadaan seperti itu, patih Blambangan usuk kepada kompeni meminta keturunan Dalem Wiraguna yang ada di Bangkalan untuk dijadikan tumenggung di Pangpang. Kompeni setuju dan Panembahan Rasamala di Bangkalan mengabulkan Mas Alit dan adiknya Mas Talib didatangkan ke Blambangan sebelah timur. Mas Alit dijadikan kepala daerah dengan nama Rahaden Tumenggung Wiraguna.
Demikian antara lain makna lambang “tumenggung” yang dimaksud. Walaupun masih ada “tumenggung-tumenggung” yang lain, apalagi “wong adol kembang dan kembang gadung” yang misterius cukup banyak jumlahnya, sebab yang perang adalah dua pihak yang memperebutkan Bumi Blambangan sebelah timur untuk menjadi wilayah kekuasaannya. Maka apa yang dikutip oleh :Danusuprapto, dalam “Babad Blambangan” Kajian Historigrafi Tradisionil untuk “Seminar Sejarah Blambangan” tanggal 9 – 10 Nopember 1993, halaman 43, kitanya tak berlebihan, yaitu sebagai berikut :

Maka benar-benarlah keadaan Blambangan itu seperti “terlepas dari mulut buaya dan masuk ke mulut harimau” (Pamuncak, 1951,260)

6.c.   Dipayungi payung agung, artinya sama : dipayungi payung agung.
Mengenal lirik ini tentu banyak yang dapat memahami maknanya, bahwa si penjual bangsa berkat mengkhianati bangsanya sendiri dibariskan, berjajar-jajar, untuk menerima upah maupun hadiah serta dielu-elukan dengan sanjungan kehormatan.

6.d.   Lakonane membat mayun, artinya : tingkah lakunya terayun-ayun.
Mendapatkan upah maupun hadiah serta dielu-elukan dengan sanjungan kehormatan yang demikian, membuat si penjual bangsa membusungkan dadanya dan terlihat sedemikian congkaknya. Mengenai dua bait ke empat atau dua bait terakhir, yaitu bait ke 7 dan bait ke 8 dari gending Padha Nonton ini, dikalangan orang tua pada tempo dulu disebut juga sebagai gending berjudul kembang abang, dengan bait serta liriknya sebagai berikut:

Kembang abang
Nyelabrang tiba ring kasur
Mbah teji balenana
Sun anteni ning paseban

Ring paseban
Dung Ki Demang mangan nginum
Sleregan wong ngunus keris
Gendam gendis buyar-abyur

7.a.   Kambang abang artinya : kembang merah
Siapa mereka yang mendapat lambang dengan warna merah tersebut? warna merah sebagai lambang secara umum banyak yang memahami. Dan bendera bangsa kita sendiri. “Sang Saka Merah Putih” bila ada diantara kita dapat menyerap maknanya, sudah kelewatan.
Kembang abang, tidak lain siratannya adalah para pejuang, yaitu mereka yang melawan penindasan, ketidakadilan, kesewenang-wenangan dan lain semacamnya.

7.b.   Nyelebrang tiba ring kasur artinya : yang menyebrang (ke pihak lawan) jatuh dalam kesenangan serta kenikmatan.
Sejak dahulu ada saja yang namanya pejuang yang semual bersumpah akan terus berjuang sampai titik darah yang penghabisan demi membela bangsa dan tanah air tetapi kemudian ternyata menyeberang membela kepentingan lawan, baik secara terang-terangan atau dengan bersembunyi karena tergiur oleh kedudukan, harta maupun wanita. Namun ada yang terpaksa berpihak kepada lawan karena adanya intimidasi seperti tekanan maupun ancaman dan bila tidak diikuti, anak isteri atau orang tuanya dan bahkan segenap keluarganya akan dihabisi. Dan untuk melaksanakan tugas-tugas seperti tersebut, wong adol kembang serta si kembang gadung kapan saja sanggup melakukan sesuai dengan order yang didapatkan.

7.c.   Mbah Teji balenana : Mbah Teji, datangilah lagi
Mbah : orang tua Teji : besar
Dalam lirik ini terungkap adanya pemimpin dari para pejuang, dengan lambang “Mbah Teji” yang artinya orang tua yang besar serta berwibawa. Dan dari kata “balenana” yang mengandung arti “kembalilah lagi” menunjukkan bahwa Mbah Teji acapkali dihubungi atau dihadap, untuk melapor atau minta petunjuk dan sebagainya.

7.d.   Sun anteni ring paseban :    ku nanti di paseban (balai penghadapan)
Dalam lirik sebelumnya dapat digambarkan mengenai komandan pejuang yang memberi perintah kepada anak buahnya “Mbah Teji balenana” yang penjabarannya : “kepada sang pemimpin, kembalilah lagi menghadap” dengan pesan, kunanti di suatu tempat yang disebut : Paseban.

8.a.   Ring Paseban : di Paseban
Pada lirik pertama bait terakhir ini, kata “Paseban” diulang lagi mengingat dibalik kata “paseban” yang merupakan prasemon ini ada sesuatu yang mempunyai makna sedemikian mendasar dan terselubung. Sehingga masih perlu diothak-athik dan gathukkan.

8.b.   Dung Ki Demang mangan ngimun : Selagi Ki Demang sedang makan minum.
Yang dimaksud dengan Ki Demang adalah : Kepala Pemerintahan Daerah pinggiran, yaitu bawahan dari Ki Tumenggung atau kepala pemerintahan daerah yang berkedudukan di ibu kota.
Prasemon “Dung Ki demang mangan minum” ini, banyak yang mengartikan bahwa di Kademangan atau di pendoponya Ki Demang ada pesta pora. Walau hal tersebut bisa terjadi, namun siratannya yang lebih tepat adalah, bahwa di daerah wilayah kerja Ki Demang ada suatu kegiatan yang banyak mengerahkan tenaga rakyat untuk melakukan kerja paksa seperti membuat : jalan, jembatan maupun benteng, dan sebagainya yang ada hubungannya dengan kepentingan musuh atau kompeni. Dan setiap adanya kegiatan yang demikian pasti banyak serdadu kompeni yang menjaga atau mengawasi serta memerlukan juga makanan dan minuman.

8.c.   Seleregan wong ngunus keris : gemerincin orang menghunus senjata.
Maka setelah kurir yang disuruh menghadap pada Mbah Teji datang menemui sang komandan dengan pasukannya yang menanti di Paseban yaitu di suatu tempat adanya kegiatan yang dituju, terjadilah pertempuran.

8.d.   Gendam gendir buyar abyur : tak perlu bermanis-manis lagi, lebih baik hancur lebur.
Demikianlah semboyan perjuangan “Kembang Abang” yang dicanangkan pada masa itu, sewaktu kompeni menyerbu dan merebut Blambangan sebelah timur pada tahun 1767. Gendam gendis : gula bila disangar rasanya berubah menjadi pahit, bisanya gula yang demikian untuk ragi membuat pindang.
Buyar abyur : hancur berserakan atau hancur berkeping-keping. Dan semboyan perjuangan ini menyimpan nilai historis dan patriotis yang tak ternilai harganya.




Penjabarann gending-gending yang dibawa dalam babak Seblang-Seblang
Dalam babak ketiga pagelaran Gandrung Banyuwangi membawa gending-gending perjuangan, yaitu Seblang Lokenta, Sekar Jenang, Kembang Pepe, Sondreng Sondreng dan Kembang Dirma.
Seperti gending Padha Nonton yang dibawa dalam babak pertama yang disebut Jejer, gending-gending perjuangan yang dibawa dalam babak seblang-seblang atau seblang subuh juga tersusun dalam bahasa lambang atau prasemon yang sulit dicerna maknanya bagi orang awam. Oleh karena itu saya berupaya menjabarkan dengan meng-othak-athik-gathuk sebagai lazimnya yang dilakukan oleh para sesepuh dulu, dengan harapan mendapatkan gambaran atau tafsir yang tersimpan dalam gending-gending tinggalan leluhur – pendiri kota Banyuwangi – yang padat dengan wewarah serta memiliki makna filosofis yang tak ternilai.
Adapun penjabaran dan tafsir gending-gending gandrung yang harus dibawa dalam babak ketiga yang disebut Seblang-seblang atau Seblang subuh yaitu berjudul Seblang Lokenta, Sekar Jenang, Kembang Pepe, Sondreng Sondreng dan Kembang Dirma, sebagai berikut :

Seblang Lokenta

Seblang lokenta
Wis wayahe bang-bang wetan
Kakang-kakang ngelilira
Wis wayahe sawung kukuruyuk

Lawang gede wonten hang jagi
Medalo ring lawang butulan
Wis biasane ngemong adine
Sak tindak baliyo mulih

Penjabaran bait pertama :
a.       Seblang lokinto. Seblang; tidak ingat, lupa akan dirinya, atau trans (tidak ingat karena kemasukan roh halus sebangsa jin, atau tidak ingat karena akibat minuman keras dan sebagainya).
Lokinta, tetembungan, percakapan, musyawarah dan lain semacamnya. Jadi seblang lokenta artinya, tidak perlu diingat atau lupakan untuk berunding atau berbasa-basi. Tentunya yang dimaksud tidak perlu berunding lagi itu terhadap musuh yang menyerbu, yaitu kompeni yang tidak asing lagi tentang kelisikannya, dan suka ingkar janji.

b.      Wis wayahe bang-bang wetan; sudah saatnya langit di timur merah membara. Pada umumnya pada saat matahari menjelang terbit, mereka yang mempunyai kewajiban melakukan pekerjaan, baik di swah, di kantor, jualan di pasar, kuli pelabuhan atau pabrik dan sebagainya, telah bersiap-siap membenahi diri kemudian berangkat melakukan kewajibannya. Menyerap makna lirik-lirik berikutnya, prasemon “Wis wayahe bang-bang wetan” jelas mengandung makna seruan untuk bersiaga melakukan perjuangan.

c.       Kakang-kakang ngelilira
Ngelilira, artinya bangun atau bangkit dari tidur. Prasemon “kakang-kakang ngelilira” mempunyai makna: Wahai abang-abang bangkitlah, waspada jangan sampai terlena.

d.      Wis wayahe sawung kukuruyuk; sudah saatnya si jantan berkokok (yang berkokok hanya ayam jantan). Berkokok sebagai lambang atau prasemon menyimpan makna sesumbar atau meneriakkan tantangan untuk memicu semangat juang, seperti; mana dadamu, dan inilah dadaku!

Walaupun perang Bayu telah usai dan dimenangkan oleh kompeni yang dibantu oleh Mataram dan Madura serta lebih dari enam puluh ribu rakyat yang tewas, hilang atau melarikan diri ke negeri lain, tertawan yang kemudian diselong (buang) oleh kompeni, namun kenyataan sejarah membuktikan masih ada para pejuang yang melakukan perang gerilya yang berlindung di hutan-hutan dan setiap saat siap melakukan penyerangan atau penghadangan pada kepentingan-kepentingan lawan, padahal sisa rakyat yang masih hidup hanya tinggal sekitar lima ribu jiwa terdiri dari para orang tua, para perempuan yang trauma dan sekitar separuhnya terdiri dari anak-anak yang menderita dan terlantar. Dalam kedaan demikian hidup terpencar carai-berai di pedesaan, di pedalaman atau bersembunyi di hutan-hutan dengan segala penderitaannya, toh masih ada para pejuang yang rela mati demi membela tanah leluhurnya walaupun dengan kekuatan yang relatif kecil namun semangat juangnya tak pernah pudar.
Dalam upacara tradisi seblang yang diupacarakan setiap tahun di desa Bakungan sejak tahun 1980 dan di desa Olehsari sejak tahun 1930, pada awal upacaranya juga membawa gending berjudul “Seblang Lokenta” namun hanya dua lirik saja yang bunyinya sebagai berikut “Seblang lokenta, singkang dadi lincakana”. Pada awal upacara kedua lirik tersebut dinyanyikan berulang-ulang sampai roh masuk dalam raga pelaku Seblang. Sehingga berfungsi sebagai pelengkap mantra mengundang roh yang dibaca oleh sang dukun disertai pembakaran kemenyan. Adapun makna kedua lirik gending yang dinyanyikan tidak ada kaitannya sama sekali dengan perjuangan menyelamatkan sisa-sisa rakyat akibat serbuan kompeni yang puncaknya berkobarnya perang bayu. Dan makna dua lirik gending itu merupakan permintaan agar roh yang masuk dalam raga pelaku seblang supaya berlaku seperti orang tidur (tidak bertingkah macam-macam liar, dan ganas yang berbahaya dan membahayakan para penontonnya seperti misalnya pada pelaku jaranan yang pelakunya juga kesurupan roh halus). Lebih jelas baca Bab Seblang.


Penjabaran bait kedua :
a.       Lawang gede wonten hang jagi; pintu besar ada yang menjaga. Prasemon ini menyimpan makna bahwa, bagian-bagian yang penting, berharga, vital, strategis, dan lain-lain semacamnya telah dikuasai dan dijaga oleh musuh.

b.      Medalo ring lawang butulan; lewatlah pada pintu yang rapuh. Lirik ini merupakan peringatan serta pengarahan, bahwa bila mau mengadakan penyerbuan supaya memilih tempat-tempat yang rapuh atau lemah penjagaannya. Demikian juga bila melakukan penghadangan atau penyergapan supaya berhati-hati.

c.       Wis biasane ngemong adine; sebagaimana biasanya mengasuh adiknya. Bagi yang biasa mengothak-athik bahasa lambang atau prasemon, dengan cepat dapat menangkap makna dari lirik ini, yaitu merupakan peringatan dan anjuran bagi sang komandan bahwa dalam memimpin anak buahnya supaya diperlakukan sebagaimana mengasuh adiknya sendiri. Sehingga perlu diperhatikan mengenai; kesehatannya, keselamatannya, kejujuran, kepatuhan, disiplin, setia kawan dan sebagainya.

d.      Sak tinjak baliyo mulih; sekali tendang kembalilah pulang. Sekali melakukan penyerbuan, penghadangan, penyergapan dan sebagainya, segera kembali berlindung masuk dalam hutan. Bila tidak segera menghindar dikhawatirkan datang bala bantuan lawan dengan kekuatan besar yang dapat mengancam keselamatan para gerilyawan yang pada umumnya berkekuatan relatif kecil.

Sekar Jenang

Sekar-sekar jenang
Maondang dadari kuning
Temuruna ageng alit
Kaula nyuwun sepura

Layar-layar kumendung
Umbak umbul ring segara
Segarane tuan agung
Tumenggung numpak kereta

Lilira kantun
Sang kantun lilira putra
Sapanen dayoh rika
Mbok srungkubo milu tama

Lilira guling
Sabuk cinde ring gurise
Kakang-kakang ngelilira
Sawah benda ring selaka

Penjabatan bait pertama :
a.       Sekar-sekar jenang
Sekar (kembang) bentuk basa (krama) sebagai kata ganti orang ketiga jamak yang dihormati, Jenang ; bubur. Sekar-sekar jenang; mereka dan mereka yang lain (puluhan ribu orang) berkumpul menjadi satu bagaikan bubur.

b.      Maondang dadari kuning; memancar menyenangkan bagai menyaksikan sinar bulan purnama. Karena puluhan ribu orang lelaki dan perempuan yang datang ke Bayu dengan membawa bermacam-macam jenis senjata itu tertarik oleh seruan Rempeg atau Pangeran Jagapati yang diumumkan sebagai “seblang” (kesurupan roh)-nya Wong Agung Wilis yang oleh; C. Lekkerkerker dalam Blambangan Indische Gids II h. 1056, tahun 1923 disebut sebagai Wilis palsu dan yang dalam Babad Bayu mendapat prasemon “Wong Agung Ngalingan”. Prasemon tersebut menyimpan makna “Pembohong Yang Besar” Adapun yang dimaksud dengan “Seblang” ialah intrans (tidak sadar karena kesurupan roh halus sebangsa jin atau kesurupan roh orang yang telah meninggal). Dr. J. D. W. DE. Stoppelaar dalam bukunya antara lain menulis ; Sering orang akan masih melihat juga “seblang” yaitu seorang “penyihir wanita” kepada siapa bermacam-macam pertanyaan disampaikan tentang hal-hal yang menarik perhatian bagi para penduduk desa dan dianggap bahwa suatu roh yang masuk ke dalam tubuhnya “si seblang itu” yang memberi jawaban-jawabannya. (Blambangansch Adatrecht, 1927, h. 32). Hingga dewasa ini masih banyak dukun yang mengaku punya perewangan/kesurupan roh yang konon bisa membantu orang yang sakit atau kesulitan dalam hal-hal tertentu dan malah memberi nomor togel dan sebagainya. Menurut kepercayaan orang dulu, roh orang yang meninggal bisa masuk dalam raga orang yang hidup. Dan apabila orang yang dipercaya amat sakti meninggal dan rohnya menyusup pada seseorang, maka orang yang kesurupan tersebut konon menjadi amat sakti pula dan dapat melindungi serta menjaga keselamatan orang lain atau para pengikutnya.
Sewaktu perang Bayu, Rempeg yang diangkat sebagai panglima perang diumumkan sebagai “seblang” dan mengaku kesurupan rohnya Wong Agung Wilis dalam upaya mempengaruhi rakyat agar mau ikut perang menghadapi kompeni dan antek-anteknya di Bayu. Wong Agung Wilis dipercaya oleh rakyat sebagai tokoh yang amat sakti. Siasat Rempeg dan pengikutnya yang mengaku sebagai seblang berhasil mengelabuhi rakyat dan yang percaya berbondong-bondong ikut perang melawan pasukan kompeni di Bayu. Dan mereka yang tidak ikut perang melawan kompeni di Bayu diancam akan dihabisi (baca Babad Bayu). Diumumkannya Rempeg sebagai seblang atau kesurupan rohnya Wong Agung Wilis jelas membohongi rakyat yang kental kepercayaannya pada hal-hal yang berbau mistik. Padahal Wong Agung Wilis pada masa itu masih hidup diselong atau dibuang oleh kompeni di pulau Banda sejak tahun 1768. Kemudian Wilis bersama putra-putranya Pangeran Singasari melarikan diri dari pulau Banda ke Seram dan dari sana Wilis dapat mencapai Bali, dimana tak lama kemudian sebelum tahun 1780 Wilis meninggal (C. Lekkerkerker 1923 h. 1053).

c.       Temuruna ageng-alit (krama); Wahai datanglah turun yang besar dan yang kecil.
Adapun mereka puluhan ribu orang yang datang di Bayu tersebut terdiri dari kaula ageng (para bangsawan) dan kaula alit (rakyat biasa). Dan ternyata sebagian besar dari mereka tewas di medan perang. Menurut kepercayaan mereka, bahwa orang yang telah meninggal dunia, roh (arwah)-nya tetap hidup nun di alam atas sana, karena itu Sang Pujangga sebagai mewakili mereka yang masih hidup, berseru; “Temuruna ageng alit” (turunlah wahai para arwah dari kaula ageng dan kaula alit). Yang dimaksud kaula ageng ialah; sekar yang pertama dan kaula alit ialah sekar yang kedua.

d.      Kawula nyuwun sepura (krama); hamba mohon maaf.
Sang empu penulis gending, sebagai mewakili sisa-sisa rakyat yang konon tinggal sekitar lima ribu jiwa, memohon maaf kepada puluhan ribu arwah dari mereka yang telah tewas selama peperangan sampai berakhirnya perang Bayu. Memohon maaf karena tidak lagi dapat melanjutkan peperangan berhadapan melawan musuh yang semakin kuat, sedang di pihak sendiri tinggal lima ribu jiwa dengan keadaan sangat memprihatinkan, terdiri dari orang-orang lanjut usia, para perempuan atau janda yang trauma, dan lebih dari separuhnya terdiri dari anak-anak yang tak lagi punya orang tua, terlantar serta sangat menyedihkan. Konon rakyat yang telah tewas hilang, melarikan diri, tertawan, dan diselong (buang) lebih dari enam puluh ribu jiwa.

Penjabaran bait kedua :
a.       Layar-layar kemendung
Layar-layar; prahu-prahu yang menggunakan layar kumendung; bertumpuk-tumpuk, berjajar-jajar, megah, anggun, mempesona. Layar-layar kumendung, artinya; perahu-perahu yang mempunyai layar bertumpuk-tumpuk serta berjajar-jajar yang kelihatan megah dan agung. (perahu-perahu pinisi) sejak penyerbuan kompeni yang dibantu oleh Mataram dan Madura dalam upaya merebut Blambangan dari kekuasaan Mengwi, perahu-perahu megah berlayar banyak tersebut setiap saat terlihat hilir-mudik di Selat Bali.

b.      Ombak umbul ring segara; Ombak dan gelombang di lautan.
Maksudnya, bahwa perahu-perahu besar berlayar banyak yang anggun tersebut datang di selat Bali (kawasan Nusantara) dengan perjuangan sendiri yang cukup berat menghadapi tantangan alam, seperti; ombak gelombang maupun badai dan sebagainya, dari negeri mereka di belahan bumi barat sana dengan melewati tanjung harapan. Karena pada waktu itu Terusan Zues belum ada. Awalnya mereka tertarik datang di kawasn ini untuk berdagang mencari rempah-rempah. Namun kemudian muncul ambisi mereka untuk menguasai kawasan nusantara dan sejak itu negara-negara barat seperti Portugal, Belanda, Inggris dan lain-lainnya berlomba mencari jajahan di belahan bumi sebelah timur.

c.       Segarane Tuan Agung; Lautnya Tuan Agung.
Karena kuatnya armada kompeni dalam upaya memenuhi ambisi memperluas daerah yang dikuasai, sehingga bisa dimaklumi bagaimana kuatnya armada laut mereka. Belum lagi menghadapi pesaing-pesaing dengan negara-negar Barat lainnya yang berlomba mencari daerah yang dikuasai serta tidak mustahil menghadapi kekuatan para bajak laut pada zaman itu. Karena kuatnya armada mereka, maka tidak salah bila pada masa itu mereka disebut “Tuan Besar penguasa lautan”, sebagaimana dilambangkan dalam lirik ini.



d.      Tumenggung numpak kereta; tumenggung naik kereta.
Pada masa itu setiap kompeni menyerbu dan merebut suatu daerah di kawasan nusantara selalu mengerahkan armadanya. Tanpa armada yang kuat VOC (Veremigde Oost Indische Compagnie) atau kompeni tidak akan pernah menguasai kepulauan nusantara. Dan setiap kompeni dapat merebut atau menaklukan suatu daerah di masa itu selalu mencari tokoh bangsawan setempat untuk diangkat sebagai pimpinan yang menjalankan roda pemerintahan dibawah kekuasaan kompeni, apakah dengan sebutan sebagai : raja, pangeran, sunan, sultan, tumenggung, bupati dan sebagainya. Setelah kompeni dapat merebut Blambangan sebelah timur dari kekuasaan Mengwi, pada tahun 1767 maka yang diangkat sebagai pimpinan daerah disebut Tumenggung. Dalam lirik ini mendapat prasemon; Tumenggung numpak kereta, tidak menggunakan “krama” (kata penghormatan) mestinya; tumenggung nitih kereta. Mengapa? Karena yang mengucapkan orang pertama, yaitu Sang Tumenggung (Mas Alit) yang membuat gending, jadi tidak menggunakan basa (krama) walau yang menulis sekretarisnya atau sastrawan (pujangga kabupaten) sebagai lazimnya pada jaman dulu. Di sisi lain kedudukan Tumenggung atau Bupati di masa itu merupakan antek kompeni. Jadi wong Banyuwangi tidak perlu didikte bahwa Mas Alit itu pernah melamar atau bermimpi menjadi Bupati. Tetapi Mas Alit “ketumpel” (tersudut) ditunjuk menjadi Bupati atas informasi dari Patih Blambangan kepada kompeni.

Penjabaran bait ketiga :
a.       Lilira kantun; bangkitlah wahai sang sisa.
Setelah usainya perang Bayu, Jaksa negara lengser sebagai Tumenggung. Pada waktu itu kompeni kesulitan mencari penggantinya, karena di Blambangan sebelah timur (dewasa ini termasuk Kabupaten Banyuwangi) pada waktu itu tidak ada lagi bangsawan yang patut dijadikan bupati (tumenggung) karena para bangsawan banyak yang telah tewas, tertawan atau diselong (buang) bahkan banyak pula yang melarikan diri ke negeri lain. namun salah seorang patih Blambangan memberitahu kepada kompeni bahwa di Bangkalan (Madura) ada bangsawan dari keluarga Tawangalun yang patut diangkat menjadi Bupati. Mendengar hal tersebut kemudian Mas Alit diangkat dan dilantik sebagai Bupati. Dan patih yang bersangkutan mendapat prasemon “Juru Kunci” karena Patih yang bersangkutan dapat mencairkan kesulitan kompeni dalam upaya mencari tokoh yang patut menjalankan kereta pemerintahan daerahnya. Dan pada awal pemerintahan Mas Alit alias Raden Tumenggung Wiraguna, muncul kesenian gandrung sebagai alat perjuangan untuk menyelamatkan sisa-sisa rakyat yang terlantar. Lilira kantun … seruan perjuangan itu terprogram dalam gending-gending wajib yang harus dibawa dalam setiap pagelaran kesenian gandrung.

b.      Sang kantun lilira putra; Wahai sang sisa bangkitlah pula putra (putra-putramu).
Yang dimaksud sang kantun tidak lain adalah sisa-sisa rakyat Blambangan yang tinggal sekitar lima ribu jiwa yang pada waktu Mas Alit dilantik sebagai Bupati sebagian besar masih tinggal di pengungsian, di pedalaman atau persembunyian di hutan-hutan. Dan dalam lirik ini sang kantun dianjurkan pula membangkitkan putra-putranya. Tentu para putra yang dianjurkan untuk diikutsertakan bangkit adalah para putra yang telah sanggup melakukan sesuatu, bukan mereka yang menderita atau anak-anak seperti balita yang telah yatim piatu akibat perang dengan keadannya yang terlantar, menyedihkan serta memprihatinkan.

c.       Sapanen dayoh rika; tegur sapalah tamu anda. Siapakah yang dimaksud dengan tamu dalam lirik ini? Tamu adalah orang yang datang tanpa diundang. Arahnya tidak lain pada kompeni serta antenk-anteknya yang diperalat membantu kompeni merebut, menguasai dan membantai rakyat Blambangan. Sapanen, artinya tegur sapalah atau berdamailah sementara ini dengan musuh (kompeni), sebagai “fait accompi” setelah menyadari musuh semakin kuat dan perjuangan dengan senjata berarti pengorbanan sia-sia, sedang sisa-sisa rakyat yang masih hidup yang jumlahnya hanya sekitar lima ribu jiwa dengan keadaan cerai-berai di pengungsian atau di persembunyian serta terlantar dan menyedihkan. Walau demikian, di balik kata tamu, menyimpan makna, cepat atau lambat sang tamu harus dan pasti meninggalkan bumi Blambangan.

d.      Mbok srungkuba milu tama; mbakyu srungkuba “ikut tama” (perlu diutamakan).
Sewaktu saya masih anak-anak tahun 1937 an, bila demam oleh ibu disuruh minum aspirin, setelah itu disuruh “srungkuban” (berselimut) agar berkeringat dan konon supaya cepat sembuh. Prasemon “srungkuban” menyimpan makna; mereka yang sakit, yang menderita, yang terlantar dan lain semacamnya. Kata  mbok, mengandung makna nilai lebih, seperti; amat atau amat sangat. Mbok srungkuba mila tama; mereka yang amat atau amat sangat menderita, perlu diutamakan. Dari lirik ini jelas terbaca apa yang diperjuangkan oleh gandrung, bukan melawan musuh yang telah merebut tanah leluhurnya, tetapi yang diperjuangkan atau yang di “gandrungi” (didambakan) menyelamatkan sisa-sisa rakyat yang nyaris punah dibantai oleh musuh, demi hidup masa depan yang masih menyisakan secercah harapan.

Penjabaran bait ke empat :
a.       Lilira guling, bangkitlah guling.
Guling, sebagai prasemon menyimpan makna; kawan tidur (istri) jadi yang dianjurkan untuk bankit bukan hanya para pria dan para putra, tetapi juga para istri atau para wanita, tanpa kecuali meliputi semua yang masih hidup setelah usainya perang Bayu yang dimenangkan oleh sang agresor. Maksud prasemon untuk bangkit dan bersatu dalam gending Sekar Jenang ini mempunyai makna luas mengingat sebelum penyerbuan Kompeni rakyat Blambangan hidup pecah belah saling bermusuhan. Seperti, antara lain ditujukan kepada; para pengikut Pangeran Danuningrt yang menentang kekuasaan Mengwi (Bali), setelah istananya diserbu oleh adik tirinya Wong Agung Wilis bersama pasukan Mengwi, Danuningrat melarikan diri minta bantuan pada kompeni. Tetapi kompeni menolak, selanjutnya Danuningrat menuju Lumajang ditampung oleh bupati Kartanagara, tak lama kemudian pasukan Blambangan dan pasukan Mengwi yang diperintah oleh Wilis menjemput Danuningrat di Lumajang untuk dibawa kembali ke Blambangan yang selanjutnya kemudian Danuningrat bersama empat puluh orang pengawalnya dibantai di pesisir Seseh Bali pada tahun 1764 atas perintah raja Mengwi; atau para pengikut Wong Agung Wilis yang setia pada raja Mengwi dan para pengikut Rempeg yang berjuang habis-habisan di Bayu demi mempertahankan Blambangan tetap sebagai vasal Mengwi; serta para pengikut Mas Alit yang ditunjuk sebagai bupati atas usul patih Blambangan pada tahun 1773. Dan tentunya seruan bangkit membangun kembali bumi Blambangan yang rusak berantakan serta memperbaiki nasib rakyatnya yang terlantar dan menderita dan juga ditujukan kepada rakyat yang melarikan diri hidup di nagari lain, seperti di Bali, di Mataram (Jawa Tengah) di Madura, dan sebagainya.

b.      Sabuk cinde ring gurise, sabuk cindai di gurisnya.
Sabuk; ikat pinggang cindai; kain sutra yang indah dan mahal, guris; tanda batas antara bagian yang satu dan bagian yang lain. benda apa seperti sabuk, warnanya hijau bagai sutra yang indah bernilai tinggi dan benda tersebut juga merupakan tanda atau batas dari bagian lahan yang satu dan lahan yang lainnya? Agar mudah menebaknya, coba anda berdiri di tepi persawahan yang luas. Yang mana persawahan tersebut sedang dibajak atau diairi untuk siap ditanami padi. Pemandangan apa yang anda lihat? Lalu benda apa yang membentuk serupa sabuk dengan warna hijaunya yang khas tersebut? tidak lain adalah pematang-pematang sawah yang juga merupakan “guris” atau tanda maupun batas antara pematang yang satu dan pematang lainnya serta yang mempunyai nilai sangat tinggi. Sebab bila tidak ada pematang-pematang itu,  bagaimana bisa mengairi sawah secara teratur dengan baik, sehingga hasilnyapun bisa diharapkan sebagaimana mestinya. Lirik ini tidak lain merupakan seruan untuk memperhatikan, khususnya lahan-lahan atau tanah-tanah pertanian yang selama itu terbengkelai akibat perang dan umumnya untuk membangun kembali bumi Blambangan  sebelah timur yang telah rusak akibat perang. Dan setelah Mas Alit dilantik sebagai bupati segera mulai membabad hutan, untuk membangun ibukota yaitu kota Banyuwangi. Ternyata sisa-sisa rakyat yang mengungsi di pedesaan atau di pedalaman maupun bersembunyi di hutan-hutan, sebagian lebih suka ikut membabad hutan “Tirta Arum” kemudian tinggal di ibukota Banyuwangi dan sebagian yang lain kembali ke tempat asal mereka masing-masing.

c.       Kakang-kakang ngelilira; abang-abang bangkitlah.
Demikianlah seruan untuk bangkit gencar disenandungkan oleh para pejuang (para gandrung lelaki) dengan tidak mengenal lelah, demi membangun kembali bumi Blambangan yang porak poranda serta menyelematkan sisa-sisa rakyat Blambangan yang hidup terlantar dan menderita bahkan kehilangan harga diri dan martabat akibat tanah tinggalan leluhurnya yang indah dan makmur selalu menjadi ajang peperangan karena diperebutkan oleh kerajaan-kerajaan yang ada disekitarnya yang kemudian diserbu oleh kompeni yang dibantu oleh Mataram dan Madura untuk merebut Blambangan sebelah timur dari kekuasaan kerajaan Mengwi di Bali.


d.      Sawah bendo ring selaka; Sawah bendo di selaka
Sawah; tanah persawahan atau lahan pertanian. Bendo; pohon bendo. Selaka; emas yang bercampur perak (suasa), nilainya jauh dibawah emas. Pohon bendo pada umumnya besar dan tinggi, namun buahnya yang bisa dimakan sangat kecil (minim) tidak sebanding dengan pohonnya yang sedemikian besar. Prasemon “sawah bendo ring selaka” menyimpan makna; sawahmu yang begitu besar (luas atau lebar) namun ibarat pohon bendo hasilnya sangat kecil atau tidak membawa manfaat untuk menunjang kelangsungan hidup yang telah hancur berantakan. Oleh karena itu, tanah pertanian yang luas dan terlantar akibat perang perlu dibenahi serta digarap kembali dengan giat dan rajin agar hasilnya yang melimpah dapat menunjang memperbaiki kehidupan yang terpuruk dengan tekad berupaya mengembalikan jati diri yang hilang dan mengangkat kembali martabat yang karam walau untuk hal itu perlu hidup menutup diri dari pengaruh dan pergaulan masyarkat luar yang tidak dipercaya dan selalu dicurigai. Karena kedatangan mereka tidak lain selalu membawa kekacauan dan menimbulkan malapetaka.

Penjabaran dan tafsir gending Kembang Pepe

Kembang Pepe

Kembang pepe
Merambat ring kayu arum
Sang aruma membat mayun
Sang pepe ngajak lungo

Ngajak lungo
Mbok penganten kariyo dalu
Ngenjot-ngenjot lakune
Baliyo ngeluru lare

Lare dakon
Turokno ring perahu
Lurubana bana cinde
Kang kumendung welangsani

Penjabaran bait pertama :
a.       Kembang; kata ganti orang ketiga jamak (mereka).
Pepe; jemur (dibawah terik matahari). Kembang pepe, lambang atau prasemon untuk mereka yang selalu di terik mentari atau simbul bagi para pejuang yang gigih tanpa mengenal lelah. Mereka tidak lain para gandrung yang pada awalnya merupakan alat perjuangan. Menurut cerita tutur, gandrung muncul bersamaan dengan dibabatnya hutan Tirta Arum untuk membangun ibukota yang baru, atas gagasan dan prakarsa Mas Alit sehubungan dengan ibukota lama “Lo Pangpang” (Ulu Pangpang) keadannya telah rusak akibat peperangan dan selain itu udaranya tidak sehat mengingat di sekitarnya banyak rawa yang menjadi sarang nyamuk. Melihat hal tersebut, sebelum dilantik Mas Alit usul pada kompeni agar ibukota dipindahkan di tempat lain. kompeni setuju dan menawarkan tiga pilihan, yaitu : tetap di Ulu Pangpan, di Kota (maksudnya Benculuk) atau di Paku Siram (terletak di sebelah timur Lateng Rogojampi). Tawaran tersebut ditolak oleh Mas Alit (lihat; resolusi “Kompeni, Batavia; 7 Desember 1773) dan Mas Alit menghendaki dengan membabad hutan Tirta Arum yang terletak di daerah sebelah utara. Setelah kompeni melakukan penelitian, kompeni setuju, namun kompeni terlebih dahulu memilih tempat untuk membangun benteng dan Mas Alit boleh membangun pasebannya, kantor atau tempat tinggalnya dengan syarat tidak boleh lebih dari jangkauan tembakan meriam dari benteng yang dibangun oleh kompeni. Benteng yang dibangun itu kemudian dikenal dengan nama; Utrech. Setelah Mas Alit dilantik sebagai bupati pada tanggal 2 Februari 1774 di Lo Pangpang, maka pembabatan hutan Tirta Arum dimulai dan setelah selesai kota yang baru dibangun oleh Mas Alit diberi nama Banyuwangi, yaitu dengan memanfaatkan konotasi atau persamaan dari nama hutan yang dibabat, yaitu; “Tirta arum” (=Banyu wangi).

b.      Merambat ring kayu arum; merayap di kayu harum.
Prasemon untuk menggambarkan munculnya “gandrung” yang pada awalnya selalu merayap (berjalan) mendatangi tempat-tempat yang dihuni oleh sisa-sisa rakyat yang masih hidup, yaitu yang tinggal di pedesaan atau mengungsi di pedalaman, bahkan sampai menelusuri mereka yang melarikan diri bersembunyi di hutan-hutan. (setiap hutan memiliki udara maupun aroma yang khas). Mengenai munculnya gandrung lelaki, Joh Scholte antara lain menulis sebagai berikut; Asalnya lelaki jejaka itu keliling ke desa-desa bersama pemain musik yang memainkan kendang dan terbang dan sebagai penghargaan mereka diberi hadiah berupa beras yang mereka membawanya di dalam sebuah kantong. (Gandroeng van Banjoewangi, Bab “Gandrung Lelaki” tahun 1923). Apa yang ditulis oleh Joh Scholte tersebut, tidak jauh berbeda dengan cerita tutur yang disampaikan turun-temurun, bahwa gandrung awlnya dirintis oleh kaum lelaki yang berkeliling mendatangi tempat-tempat yang dihuni oleh sisa-sisa rakyat Blambangan yang tinggal di pedesaan, di kampung-kampung hingga di pengungsian atau di persembunyian yang keadannya sangat memprihatinkan. Dengan pakaian biasa sebagaimana yang digunakan sehari-hari mereka membawa peralatan musik perkusi berupa kendang dan rebana. Setelah usai pagelaran mereka mendapat sumbangan berupa hasil bumi dan sebagainya dari penduduk yang mampu. Sumbangan-sumbangan itu dikumpulkan kemudian dibagi-bagikan kepada para pengungsi yang sangat membutuhkan bantuan baik di pedalaman maupun sampai di hutan-hutan. Sekitar satu dekade kemudian setelah perjuangan gandrung berhasil dan sisa-sisa rakyat yang mengungsi atau bersembunyi telah kembali ke tempat asalnya dan sebagian yang lain memilih tinggal di ibukota Banyuwangi yang baru dibangun oleh Mas Alit, maka gandrungpun berobah menjadi tontotan terob yang dibutuhkan dan diundang oleh masyarakatnya untuk memeriahkan pesta bagi mereka yang punya hajatan seperti khitanan maupun perkawinan dan sebagainya. Dan sejak itu gandrung secara bertahap membenahi dirinya sebagai alat hiburan baik mengenai peralatan musik, busana dan asesorisnya. Dan jumlah gending-gending paju yang dipadati dengan pantun-pantun daerah yaitu basanan dan wangsalan jumlahnyapun semakin banyak. Demikian juga macam ragam jenis tariannya bertambah dan semakin elok, menarik dan mempesona. Disisi lain secara berangsur sisa-sisa rakyat Blambangan sebelah timur (dewasa ini meliputi Kabupaten Banyuwangi) yang semula beragama Hindu secara berangsur dan pasti mengikuti ajaran Islam sesuai dengan agama yang dianut pemimpinnya yaitu Mas Alit yang sejak umur sembilan tahun telah memeluk agama Islam, berkat Mas Alit ikut kakak perempuannya (janda dari Pangeran Danunngrat yang dibantai di pesisir Seseh Bali tahun 1764) sewaktu kompeni merebut Blambangan pada tahun 1767 dibawa ke Bangkalan oleh Pangeran Rasamala (yang membantu kompeni) sebagai istri boyongan.

c.       Sang arumo membat mayun; yang diharumkan di ayun-ayunkan.
Yang diharumkan, artinya; gambaran hidup masa depan yang baik, menyenangkan dan sebagainya. Diayun-ayunkan, artinya; diiming-imingkan. Seperti pada umumnya seorang ibu sewktu menimang anaknya, selalu  mengiming-imingkan tentang masa depan yang baik, menyenangkan atau yang sukses, dengan anjuran supaya giat belajar rajin dan sebagainya. Demikian juga pada awalnya dalam gending-gending yang dilantunkan selalu mengiming-imingkan tentang gambaran hidup masa depan yang baik dan berhasil serta mendorong menumbuhkan semangat sisa-sisa rakyat Blambangan agar “njenggirat” (sadar dan bangkit) membangun kehidupannya yang telah hancur dan kehilangan segalanya termasuk harga diri dan martabatnya. Akibat serbuan kompeni dan antek-anteknya yang kejam dan sadis.

d.      Sang pepe ngajak lungo; Sang pepe mengajak pergi
Yang dimaksud sang pepe yaitu para pejuang atau para gandrung itu sendiri yang gigih tanpa mengenal lelah setiap saat selalu mendatangi pengungsi di pedesaan, di pedalaman bahkan sampai masuk di hutan-hutan yang keadaannya sudah kelewat terlantar dan gandrung selalu mengajak pergi dari penderitaan lewat makna gending-gending atau pantun-pantun yang disenandungkan.

Penjabaran bait kedua :
a.       Ngajak lugo, mengajak pergi.
Ajakan pergi dari penderitaan itu selalu diulangi karena gandrung mengetahui benar kesengsaraan mereka di pengungsian, di pedalaman dan di hutan-hutan. Walau perang Bayu telahusai dan dimenangkan oleh kompeni masih banyak mereka yang bersembunyi di hutan-hutan tidak mau kembali ke rumahnya masing-masing dan tetap bertahan hidup di pedalaman atau di hutan-hutan dengan segala penderitaannya. Hal tersebut juga dipaparkan oleh : C. Lekkerkerker, antara lain sebagai berikut; Pada tanggal 11 Oktober 1772; setelah memperdengarkan alarm palsu, disayap sebelah kanan Heinrich bersama pasukan sebelah kiri menyerang Bayu dan berhasil mengambil alih markas ini dengan hanya sedikit kurban. Kebanyakan dari para pemimpin berhasil melarikan diri. Para lelaki yang tergolong mampu untuk melawan diperintahkan oleh Heinrich untuk dibunuh dan kepala-kepala mereka digantung-gantungkan di pohon-pohon yang tinggi di tempat itu, dengan maksud untuk menakut-nakuti. Sampai tanggal 7 November 1772, 2505 orang lelaki dan perempuan telah menyerahkan diri mereka. Van Wikkerman mengatakan bahwa Schophoff telah menyuruh menenggelamkan orang-orang lelaki yang dituduh telah mengobarkan amuk dan yang telah memakan dagingnya dari mayatnya Van Schaar. Juga dikatakan bahwa orang-orang Madura telah merebut para wanita dan anak-anak sebagai hasil perang. Sebagian mereka yang telah melarikan diri ke dalam hutan, telah meninggal karena kesengsaraan yang dialami mereka, sehingga baunya udara yang disebabkan oleh mayat-mayat yang membusuk, mengganggu sampai jarak yang jauh. Yang lainnya menetap di hutan-hutan seperti; Pucang Kerep, Kali Agung, Petang dan sebagainya. Dan mereka bersikap keras untuk melepaskan diri dari urusan duniawi. (Blambangan Indische Gids II Th. 1923 h. 1060).

b.      Mbok penganten kariyo dalu,
Mbok; sebuah pada kakak perempuan, sebagai prasemon mengandung makna nilai lebih, seperti; amat atau amat sangat. Penganten, yang dimaksud; era penganten, yaitu pada saat dua sejoli duduk dalam pelaminan yang masing-masing siap meninggalkan kehidupan yang lama (sebelumnya) untuk bersama membina kehidupan baru dengan harapan dapat mencapai hidup yang bahagia. Kariyo dalu, artinya; kelewat masak. Prasemon; “Mbok penganten kariyo dalu” mempunyai makna; Amat sangat perlu diperhatikan “era penganten” (saat meninggalkan kehidupan lama, menuju kehidupan baru) jangan sampai “kariyo dalu” (jangan sampai kelewat masak).
Betapa sangat pentingnya anjuran ini untuk diperhatikan dan segera dilakukan, sebab kalau era penganten ini sampai ditunda, sedangkan kehidupan mereka di pengungsian atau di hutan-hutan sudah sedemikian parah memprihatinkan, maka ibarat buah yang sudah kelewat masak, bila tidak segera dimanfaatkan untuk disantap, maka buah itu akan membusuk dan terbuang karena tidak layak lagi untuk dinikmati. Hampir dapat dipastikan bila seruan dan pengarahan gandrung ini diabaikan, mereka tetap di pengungsian, nasib mereka akan jauh lebih parah lagi dan bahkan mereka akan tewas dalam kesengsaraan. Sehingga apa yang disebut sebagai Wong Banyuwangi yang kelihatan hidup dengan tegarnya hingga dewasa ini, sangat mungkin tidak lagi pernah terdapat dalam catatan sejarah. Tentang riwayat kekejaman tak bertara Belanda dalam menaklukkan Blambangan 1767 dan 1781, pada tahun 1848 C.B. Bosch menulis di Bondowoso, dengan mengatakan bahwa “daerah inilah barangkali satu-satunya diseluruh Jawa yang suatu ketika pernah berpenduduk padat yang telah dibinasakan sama sekali (R.B. Anderson Politik Bahasa, Prisma 11 Nov 1982, h 75/76)

c.       Ngenjot-ngenjot lakune; ngenjot-ngenjot jalannya; gambaran orang yang berjalan cepat-cepat ditanah yang tidak rata. Sebagai lambang mengandung makna, mereka (sisa-sisa rakyat Blambangan) tinggal di daerah pedalaman atau di hutan-hutan, yang tanahnya tidak rata seperti mendaki bukit, menuruni jurang, menyeberangi sungai dan sebagainya. Yang dianjurkan cepat-cepat meninggalkan tempat mereka mengungsi di pedalaman atau bersembunyi di hutan-hutan yang medannya sulit dijangkau dengan keadaan mereka yang serta kekurangan. Tapi jangan seenaknya begitu saja pergi meninggalkan tempat mereka mengungsi atau bersembunyi, masih ada pesan perjuangan yang harus diperhatikan dan dilaksanakan walau betapa berat tantangan yang harus ditanggulangi, yaitu …

d.      Baliyo ngeluru lare; kembalilah memungut anak.
Dulu sewaktu saya masih anak-anak sekitar tahun 1937 an, bersama kawan-kawan sebaya, setelah solat subuh di musholla acapkali luru (memungut) buah-buahan seperti buah mangga atau buah jambu dan lain semacamnya yang telahjatuh dari pohonnya karena ranum atau sebagian telahdimakan kelelawar atau kalong. Karenanya buah-buahan yang diluru itu tidak ada yang utuh atau pada bagian tertentu telah luka atau rusak. Dalam lirik ini kata “ngeluru lare” mempunyai makna; memungut anak-anak yang keadaannya seperti buah-buahan yang telah jatuh dari pohonnya karena telah ranum atau sebagian telah dimakan kelelawar atau kalong, sehingga dapat dibayangkan betapa parahnya nasib anak-anak itu.

Penjabaran bait ketiga :
a.       Lare dakon; anak congklak
Lebih lanjut anak-anak yang jumlahnya sekitar separuh dari sisa-sisa rakyat Blambangan yang konon tinggal lima ribu jiwa itu yang keadaannya sudah sedemikian parah bila tidak segera diluru (selamatkan) dalam lirik ini digambarkan sebagai anak dakon atau anak congklak. Dan siapapun mengetahui tentang permainan dakon atau congklak yang dalam waktu tak lama lagi anak-anak dakon (congklak) itu akan masuk dalam gong atau lubang kematian. Artinya anak-anak itu nyaris mati, bila tidak segera diluru atau diselamatkan akan tewas karena terlantar sebagaimana digambarkan sebagai anak dakon (congklak) yang tak lama lagi masuk dalam gong atau lubang kematian.

b.      Turokno ring perahu; tidurkan di perahu
Mengapa anak-anak yang kedaannya sudah sangat memprihatinkan, bahkan nyaris tak tertolong bila tidak segera diselamatkan, tetapi dalam lirik ini dianjurkan; ditidurkan di perahu? Mengapa tidak dianjurkan tidur dalam kamar di atas tempat tidur serta dirawat dengan baik sebagaimana mestinya? Lalu apa makna filosofisnya dari lambang atau prasemon “Turokno ring perahu?” perahu lazimnya adalah sarana untuk mencapai pantai harapan nun jauh di seberang sana. Dengan demikian lirik ini mempunyai makna, agar anak-anak pungut yang keadaannya memprihatinkan itu benar-benar dipelihara, dirawat, dididik, dibesarkan hingga dewasa dan mandiri, baru dilepas. Dan hal itu merupakan amanat perjuangan yang mulya dan walau betapa berat perlu diupayakan, demi menyelamatkan generasi penerus yang telah menjadi tanggung jawab bersama. Maklum pada masa itu suku atau etnis dan bangsa mana yang mau membantu dan menolong korban penderitaan dari suatu peperangan?

c.       Lurubana bana cinde; lurubilah bana cindai (lurubilah dengan bana supaya menjadi cindai).
Lurubana; kafanilah, bungkuslah, selimutilah. Bana; tanah yang rata, asih, busur, dari tiada menjadi ada. Cinde; kain sutra yang halus dan sangat mahal harganya. Prasemon “lurubana bana cinde” ini merupakan resep; untuk memelihara dan mendidik anak supaya menjadi anak yang baik sebagaimana yang diharapkan orang tua. Caranya bahwa sejak dini anak itu sudah dibungkus dengan “bana” yang mempunyai makna; Pertama, seperti disiapkan berjalan di “tanah yang rata” artinya segalanya kebutuhannya dipenuhi atau jangan sampai putus, baik mengenai sandang, pangan, kesehatan, pendidikan dan sebagainya. Kedua, ternyata mendidik anak itu sangat berat tanggung jawabnya, oleh karena itu perlu adanya “Asih” (rasa cinta) dan untuk menumbuhkan rasa asih atau cinta ini perlu adanya pendekatan yang selalu dipupuk, apabila sudah ada rasa cinta walaupun yang dipelihara bukan anak sendiri, ibarat kepala dipakai kaki dalam upaya mencari kebutuhannya bukan lagi menjadi masalah, semuanya menjadi ringan dan menyenangkan. Ketiga “busur”, artinya; ibarat anak panah, anak itu selalu diarahkan pada sasaran yang tepat, jangan sampai terjerumus pada pergaulan yang negatif sebagaimana yang diharamkan menurut agama. Jadi anak itu jangan dilepas begitu saja dan perlu diarahkan sebagaimana mestinya. Banyak orang tua yang giat bekerja demi istri dan anak serta berhasil memupuk kekayaan, kemudian sedih dan menyesal karena anak-anaknya terjerumus dalam pergaulan yang tidak benar. Karena kurangnya pengawasan dan pengarahan dari orang tua. Ke empat “dari tiada menjadi ada” artinya, bila syarat ke satu, ke dua dan ke tiga dipenuhi, yang semula anak itu tidak memiliki gambaran hidup masa depan yang baik menjadi memiliki harapan masa depan yang cemerlang. Cinde; setelah berhasil anak itu digambarkan sebagai “cinde” yaitu kain sutra yang halus dan bernilai tinggi. Artinya, anak itu akan menjadi manusia sukses, mempunyai jati diri yang kuat serta bermartabat.

d.      Kang kumendung welangsani; yang kumendung welangsani.
Kumendung; bertumpuk-tumpuk, berjajar-jajar, megah, anggung, mempesona. Welangsani; mengagumkan. Dan pada akhirnya anak itu akan menjadi “kang kumendung” atau anggun, mengagumkan dan sebagainya karena kepandaiannya, kedudukannya, martabatnya dan sebagainya. Sehingga, bagaikan awan yang berarak, berjajar, dan bertumpuk-tumpuk di waktu senja dengan begitu indahnya dan sangat mengagumkan bagi siapapun yang menyaksikan. Atau sebagai contoh yang melihat mengucapkan; Oh anak siapa Habibi itu. Dan mendengar yang demikian, betapa senang dan sejuknya hati orang tuanya.

KEMBANG DIRMO

Kembang dirmo
Riwayate mbok widodari
Yo kurma tunda pitu
Ganjarane wong nong perang

Wong nong perang
Sak sumpinge kalak ijo
Sumping obang sarang pati
Lare cilik tiba miring

Penjabaran bait pertama :
a.       Kembang dirma; kembang sebagai kat ganti untuk orang ketiga jamak (mereka).
Dirma; asih (saling mengasihi), yang menimbulkan kedaiaman, ketentraman, kebahagiaan dan lain semacamnya. Kembang dirma; mereka yang hidup dalam kedamaian, ketentraman, kebahagiaan atau hidup yang sakinah.

b.      Riwayate mbok widodari; hayati mereka yang hidup senang, bahagia di surga.
Kata mbok ialah sebutan pada kakak perempuan. “mbok widodari” lambang untuk “surga” makna tersiratnya bahwa surga mempunyai nilai lebih tinggi dari masalah duniawi, namun tetap dibawah kekuasaan Yang Maha Kuasa.

c.       Yo kurma tunda pitu; Ya kurma tunda (tingkat) tujuh
Maka perhatikan apa yang datang dari negeri kurma (ajaran Islam) yang mempunyai keimanan bahwa letak widodari (surga) di langit tingkat tujuh.

d.      Ganjarane wong non perang; ganjaran bagi orang yang lulus di medan perang.
Maksudnya; mereka yang mendapatkan hidup sakinah di dunia dan mereka yang meninggal mendapatkan tempat yang mulia di sisi Allah (surga), hal itu merupakan ganjaran atau hadiah bagi orang-orang yang telah lulus dari medan perang. Sesuai dengan sunah rasul, bahwa perang yang paling berat adalah melawan hawa nafsu.

Penjabaran bait ke dua :
a.       Wong non perang; orang di medan perang.
Sebenarnya mereka yang hidup di duni aini, ya saya serta kalian semua adalah para pejuang yang setiap saat, kapan saja dan dimana saja tidak lepas dari pergulatan/perang melawan ganasnya hawa nafsu.

b.      Saksumpinge kalak ijo; dengan sumpingnya kalak ijo.
Sumping yang dimaksud perhiasan dari kulit yang dibentuk sedemikian rupa untuk aksesori pada telinga bagi sebagian pemain wayang orang. Kalak, artinya bunga, sebagai kata ganti untuk sesuatu ajaran, faham, isme dan lain semacamnya. Prasemon “sak sumpinge” menyimpan makna bahwa lewat telinga, serbagai unsur panca indra yang dapat memantau, memperhatikan serta menyerap “kalak ijo” yaitu suatu ajaran atau faham (isme) yang mendambakan kedamaian.

c.       Sumping obang sarang pati; sumping obang (fondasi) sarang pati.
Apa yang diserap melalui “telinga” tersebut, dapat meredam bergejolaknya hawa nafsu, untuk mencapai hidup tentram dan damai yang sangat penting artinya sebagai dasar atau fondasi menuju “sarang pati” alias alam kubur.

d.      Lare cilik tibo miring; anak kecil jatuh miring
Setelah memperhatikan penjabaran lirik-lirik sebelumnya, prasemon “lare cilik tibo miring” dapat disimpul tafsirkan; apabila nanti tiba saatnya “jatuh miring” membujur sendiri dalam liang lahat menghadap kiblat, maka akan kembali fitri sebagai anak kecil yang baru lahir. Dan hanya mereka yang menganut agama islam saja bila meninggal dunia, jenazahnya diletakkan dengan posisi miring di liang lahat menghadap kiblat.

Makna dari gending “Kembang Dirmo” ini sebagai bukti nyata bahwa apa yang diperjuangkan oleh “Gandrung Banyuwangi” yang muncul pada zaman awal pemerintahan Mas Alit (tahun 1774), bukan hanya menyelamatkan sisa-sisa rakyat maupun anak-anak korban perang dari kepunahan, serta membangun kembali bumi Blambangan yang hancur porak poranda akibat perang, namun juga mengupayakan agar sisa-sisa rakyat Blambangan yang menganut agama Hindu bisa mengikuti ajaran islam sebagaimana yang dianut oleh pimpinan negerinya yaitu Mas Alit yang telah beragama Islam.