Jumat, 03 Juni 2011

Mengungkap makna Prabu Kenya Kencanawungu dan Prabu Menak Jingga Urubisma dan Nama-nama Tokoh lain serta nama tempat tertentu dalam epos Damarwulan dan Menakjingga


Ngaji Prasemon :
oleh : FATRAH ABAL

CERITA  SINGKAT
DAMARWULAN DAN MENAKJINGGA


Patih Udara warangka Nata (perdana mentri) Majapahit telah lolos dari kerajaan meningalkan keramaian dan kemuliaan duniawi menempuh hidup bersunyi sendiri sebagai seorang pertapa, entah di mana tempat tinggalnya tiada seorangpun tahu.
Yang menggantikan sebagai Patih warangka Nata  yalah adiknya, ki Logender namanya. Istri sang Udara, Dewi Citrawati sepeninggal suaminya, pulang kembali kepada orang tuanya, Begawan Mustikamaya, yang terkenal juga dengan nama Begawan Santanumurti, tinggal di dukuh Paluhamba. Pada waktu itu sang Dewi sedang hamil tua. Setelah tiba saatnya, lahirlah seorang anak laki-laki amat elok parasnya. Anak tersebut diberi nama Damarwulan
Sejak kecil Damarwulan diasuh dan dididik oleh neneknya dalam segala macam ilmu dan ulah kebajikan. Dari hari kehari dibiasakan hidup bersahaja dan prihatin. Dua orang panakawan yang sangat setia , nayagenggong dan Sadapalon, adalah pamong dankawan bagiDamarwulan kecil itu. Kemanapun perginya, kedua pamong ituselalu mengikutinya.. Mereka tidak pernah meninggalkan momongannya barangsekejap pun.
Tahun ke tahun berlalu, akhirnya Damarwulan meningkat dewasa, menjelma menjadi seorang teruna yang tampan lagi rupawan. Sebagai anak seorang satria, tidak layak Damarwulan tinggal di dusun, maka suatu hari Begawan Mustikamaya memanggil nya menghadap. Setelah diberinya nasehat-nasehat, akhirnya Damarwulan disuruh pergi ke Majapahit untuk mengabdi kepada raja, sebab hanya dengan demikian ia akan menentukan kemuliaan masa depannya. Dengan restu kakek dan ibunya, Damarwulanpun minta diri dengan takjimnya. Oleh kedua pengasuhnya ia dilepas dengan airmata kasih sayang, serta dipesan agar kelak setba di Majapahitminta perantaraan Patih Logender. Selain masih pamannya sendiri, Logender pun warangka Nata yang diberi wewenang mengatur segala urusan kenegaraann. Damarwulan berangkjat diiring oleh kedua panakawan setianya, Nayagenggong dan Sabdapalon.
Sesampainya di Majapahit mereka langsung menuju ke kepatihan, diterima oleh ki Patih sekeluarga.
Ki Patih berputra tiga orang. Yang tertua laki-laki kembar- dua bernama Layangseta dan Layangkumitir, wataknya congkak, bengis, dengki dan khianat. Yang bungsu seorang putri, perangainya berlawanan sekali dengan dengan kedua saudaranya. Ia halus-budi, lemah-lembut, penuh kasih-sayang.
Setelah mengetahui bahwa Damarwulan masih kemenakannya sendiri, dan melihat romannja yang tajam jatmika, timbullah rasa cemburu dalam hati ki Patih,. Pikirannya, andaikata Damarwulan diterima mengabdi di keraton, niscaya akan mengurangi harapannya untuk mendapatkan kedudukan baik dan mulia bagi putra putrinya sendiri dalam lingkungan keraton. Rupanya ki Patih sudah menyadari akan tabiat kedua putranya itu. Namun betapapun mereka itu anak tempat curahan kasih dan harapan orang tua. Akhirnya timbullah rasa tak rela untuk mengijinkan Damarwulan mengabdi di keraton. Tetapi menolak permintaan Damarwulan dirasa kurtang baik maka diputuskanlah oleh ki Patih untuk menahan Damarwulan bersama kedua panakawannya tetap tinggal dikepatihan saja. Kepada mereka diberikan pekerjaan sebagai gamel (tukang kuda) untuk merawat keduabelas ekor kuda milik ki Patih.
Di kepatihan hidup Damarwulan sangat menderita. Ia diperlakukan tidak lebih daripada seorang budak. Makannya dicatu. Berpakaian seperti layaknya seorang satria tak dibenarkannya.Dari hari kehari dipaksa bekerja kasar dan berat. Sedikit kesalahan saja merngakibatkan siksaan badan. Lebih-lebih Layangseta dan Layangkumitir, sangatlah kejamnya dan selalu memamerkan kepongahannya. Tetapi Damarwulan yang terlatih hidup sederhana dan prihatin, sama seakali tidak memperhatikan rasa kesal ataupun sakit hati. Ia tetap setia dan patuh melakukan tugas kewajibannya yang dibebankan kepadanya. Segala derita lahir dan bathin diterima dengan penuh tawakal. Tiada pernah sekalipun terlepas dari mulutnya sambat atau keluhan, meski juga didepan kedua abdinya, dikala mereka bertiga saja. Maka semakin terharu kedua abdi yang setia itu terhadap anak asuhannya. Ada saja yang dilakukan untuk meringankan penderitaan Damarwulan, sampai mereka lupa akan kesengsaraannya sendiri.
Keadaan Damarwulan demikian itu tidak luput dari perhatian Dewi Anjasmara. Sejak semula hatinya sudah tertarik oleh rupa dan kejatmikaan Damarwulan. Terdorong oleh simpatinya, sering sang Dewi memberikan pertolongan, tetapi secara diam-diam. Ia mengirimkan makanan atau minuman yang segar-segar dan terutama kata-kata penghibur yang membesarkan hati. Segalanya itu diterma oleh Damarwulan dengan hati tulus dan senang. Rasa simpati ini semakin tumbuh. Tumbuh dan berkembang dan akhirnya membuahkan rasa saling cinta kasih yang terbawa oleh kedewasaan naluri pria dan wanita.
Suatu hari ketika sang Dewi sedang bertemu dengan Damarwulan tiba-tiba kedapatan oleh Layangseta dan Layangkumitir. Damarwulan dihajar, tetapi Anjasmara membelanya.Akhirnya diadukan kepada ki Patih, dan atas kelancangannya itu Damarwulan dipenjara. Anjasmara melawan. Tak ada kekuasaan siapapun yang dapat menceraikan dia dari kekasihnya. Sampai ke liang kuburpun akan mengikutinya. Kemudian ia menuntut kepada ayahnya agar ia pun dimasukkan penjara pula bersama dengan Damarwulan, tidak terpisahkan. Ki Patih menjadi bimbang, mengingat bahwa putrinya hanya seorang dan amat disayangi pula, tak sampailah hatinya untuk mengecewakan dan menyakiti perasaan putrinya itu. Tetapi Damarwulan adalah gamelnya, tukang kuda di kepatihan, dan semua orang sudah tahu. Alangkah malunya, wqalau sebenarnya Damarwulan adalah kemenakannya sendiri, tetapi siapa yang tahu? Tak seorangpun kecuali keluarganya sendiri. Cemburu hatinya telah memaksa ia merahasiakan hubungan darah itu sejak semula. Tetapi akhirnya,  setelah diombang-ambingkan oleh pertentangan bathinnya, terpaksalah ia meluluskan permintaan Anjasmara. Cinta-kasih telah mengalahkan kebencian. Sebelum Damarwulan dan Anjasmara memasuki ruang penjara, mereka dikawinkan lebih dulu.
Kita tinggalkan mempelai itu berbulan-madu dalam kenestapaannya. Syahdan tersebutlah keadaan negara yang pada waktu itu semakin gawat karena kemajuan-kemajuan wadyabala. Menakjingga Adipati Blambangan. Sudah sejak beberapa waktu Menakjingga memberontak, mengangkat senjata terhadap kerajaan Majapahit dan menyatakan diri sebagai raja yang berdualat,dengan gelar Prabu Menakjingga Urubisma serta mengangkat dua orang patih yaitu Angkatbuta dan Kotbuta (Ongkotbuta) serta selalu didampingi panakawannya yang setia yaitu Dayun.  Banyak sudah panglima Majapahit berguguran menghadapi serangan Menakjingga Bahkan andalan Majapahit, sang Wirotama Ranggalawe, Adipati Tuban pun tewas pula di medan laga. Lumajang dan Prabalingga sudah di duduki oleh tentara Blambangan, kekacauan dan kecemasan  timbul di kalangan rakyat. Merasa dirinya unggul dan kuat, Urubisma semakin bertambah sombong dan akhirnya bertambah pula kurangajarnya, dengan mengutus seorang ceraka mengabarkan kepada Prabu Kancanawungu, bahwa peperangan akan segera disudahi, asal Sang Prabu berkenan diperistrinya dan diboyong ke Blambangan sebagai permaisuri.
Sang Prabu amat bersedih hati. Lebih-lebih karena kematian Ranggalawe sangat memasgulkan hatinya. Baginda merasa hilang harapan, dan tidak tahu lagi siapa yang dapat diandalkan untuk menumpas seteru yang sakti itu. Dalam hati bertanya, apakah mungkin terjadi negara Majapahit bersama rakyatnya harus menerima penghinaan, karena sang Prabu terpaksa meluluskan kehendak Menakjingga? Tetapi kalau tidak dituruti kehendaknya alangkah akan besarnya kerusakan yang harus diderita oleh negara. Sudah tidak terbilang banyaknya rakyat yang terbunuh, belum lagi kesengsaraan yang ditinggalkan oleh keganasan peperangan. Tidak! Majapahit tidak bolih menyerah. Kehormatan negara tidak bolih dipertaruhkan demi kerendahan dan kehinaan nafsu angkara-murka. Kehormatan negara harusditebus dengan kejayaan atau kemusnahan
Berhari-hari lamanya Sang Prabu mengurung diri dalam sanggar pemujaan, bersemedi, mencari jalan. Dalam hati terpateri suatu tekad, tak akan mengakhiri tapa bratanya sebelum mendapatkan ilham dari Hyang Widhi. Pada suatu malam tenang datanglah ilhamm itu. Baginda memperoleh wangsit, bahwa yang dapat menumpas pemberontakan Menak Jingga adalah seorang teruna dusun bernama Damarwulan.
Keesokan harinya Ki Patih Logender diminta menghadap.Setelah dibentangkan hal-ihwal  wangsit yang diterimanya semalam itu, Sang Prabu lalu memerintahkan Ki Patih mencari Damarwulan, dengan wanti-wanti jangan sampai tidak berhasil,
Sang Prabu lalu memerintahkan Ki Patih mencari damarwulan, dengan wanti-wanti jangan sampai tidak berhasil, sebab runtuh bangunnya negara bergantung kepadanya.
Ki Patih terkejut mendengar sabda Sang Prabu, tetapi tidak diperlihatkannya. Hanya dalam batin ia merasa curiga, kalau-kalau Sang Prabu sudah mengetahui segala sesuatunya tentang Damarwulan, dan titahnya hanya sebagai suatu pancingan semata. Tetapi hal itu hanya dugaan saja, yang timbul dari kekecutan hatinya dan ia harus berhati-hati untuk tidak terjerat dalam kesulitan-kesulitan. Kini ia tidak dapat berbuat lain, kecuali terpaksa berterus terang, bahwa Damarwulan sudah berada di kepatihan. Dalam pada itu ditimbahkannya pula, bahwa Damarwulan masih kemenakannya sendiri, bahkan kini sudah menjadi menantunya. Dengan menambahkan keterangan yang terakhir itu Ki Patih berharap dapat ikut terangkat dengan naiknya martabat Damarwulan, sekalipun dalam hatinya merasa cemburu.
Mendengar berita itu Sang Prabu sangat gembira. Segera Ki Patih di titahkan memanggil menantunya, agar menghadap, untuk dapat segera pula dilantik menjadi panglima perang guna memberantas pemberontakan Menakjingga dari Blambangan. Ki Patih diperintahkan pula mempersiapkan segala sesuatunya yang menyangkut upacara pelantikan nanti.
Damarwulan sangat menghadap. Sang Prabu sangat berkenan di hati. Siksp dan Pribadi Damarwulan memberi kesan, bahwa ia dapat diandalkan. Segera upacara pelantikan dimulai dengan segala kebesaran, sehingga menimbulkan rasa sakit hati dan cemburu pada Layangseta dan Layangkumitir, yang pada waktu itu ikut hadir.
Ki Patih menyimpan perasaan mendongkolanya di hadapan para pembesar dan priagung lainnya. Sesudah pelantikan, Damarwulan segera minta diri berangkat ke medan perang dengan iringan doa restu jaya wijaya. Kedua abdinya, Nayagenggong dan Sabdapalon tidak ketinggalan ikut serta.
Sepeninggal Damarwulan Ki Patih menyampaikan pendapatnya kepada Sang Prabu, bahwa mengingat gawat dan beratnya tugas yang dipikulkan ke pundak menantunya, ia merasa khawatir kalau-kalau tertimpa mala petaka. Maka jika ia diperkenankan ia mengusulkan, agar Layangseta dan Layangkumitir diutus mengamat-amati Damarwulan, untuk segara dapat memberikan bantuan dan perlindungan, jika sewaktu-waktu diperlukan. Sang Prabu tidak keberatan, bahkan meyogyakannya. Setelah itu persidangan bubar, Sang Prabu meninggalkan pendapa agung, diiring segenap inang bedaya serimpi yang membawa upacara kebesaran.
Sampai di paseban luar Ki Patih segara memanggil kedua putranya, lalu dib entangkan segala niat dan rencananya. Kedua putranya segera memahami, lalu minta diri untuk berangkat mengikuti Damarwulan.
Sahdan perjalanan Damarwulan tidak menjumpai aral sesuatupun dan akhirnya sampai di perbatasan wilayah yang sudah dikuasai Blambangan. Ia menyadari akan sulitnya tugas yang dipikulkan diatas pundaknya. Kesaktian lawan sedemikian hebatnya, tidak ditandingi dengan keberanian dan keperwiraan semata. Terbukti dari banyaknya pahlawan-pahlawan Majapahit yang tidak kurang saktinya telah berguguran, seorang demi seorang. Maka Damarwulan harus menggunakan siasat lain.Dengan cara menyamar dan menggunakan tipu muslihat ia akan mencari titik-titik kelemahan musuhnya. Dalam hal ini Nayagenggong dan Sabdapalon menyarankan agar Damarwulan berusaha mencari hubungan dengan istri-istri Menakjingga, yang dengan membujuk-bujuknya mungkin dapat memancing rahasia musuh. Demikianlah diputuskan untuk pergi langsung ke ibukota Blambangan, sedang pimpinan wadyabala di medan perang diserahkan kepada para wiratama lainnya.
Dengan berbagai jalan dan akal, akhirnya mereka bertiga berhasil menyelundup sampai ke tamansari, tempat semayam dan cengkerama kedua istri Menakjingga. Dewi Wahita dan Dewi Puyengan yang sudah terkenal kecantikannya.
Hari masih sore, tetapi kegelapan sekitar dicerahi oleh cahaya rembulan yang lembut. Udara pun sejuk.Dewi Wahita dan Dewi puyengan masih enggan meninggalkan taman. Mereka dudk di atas bangku dibawah pohon nagasari, asyik bercakap-cakap, ketika Damarwulan beserta pengiringnya mendekati mereka. Alangkah terperanjatnya kedua putri itudemi dilihatnya tiga orang laki-laki asing tiba-tiba muncul di depannya, tanpa diketahui dari mana datangnya. Tetapi tegur sapa yang lembut dan sopan, yang keluar dari mulut Damarwulan, akhirnya berhasil mencegah mereka menjerit atau lari tunggang-langgang, hingga mungkin akan menarih hati orang lain, dan menimbulkan hal-hal yang tidak diingini. Lambat-laun ketakutan kedua putri itupun bersilih dengan rasa senang, sedang kemahiran mengetrapkan kata-kata manis, yang hanya dimiliki oleh seorang Damarwulan, akhirnya dapat memikat hati kedua putri tersebut.
Udara pun semakin sejuk dan mereka bertiga masuk ke dalam puri keputren, sedang Nayagenggong dan Sabdapalon berjaga-jaga di tempat yang aman dan terlindung.
Hari makin malam. Sahdan Prabu Menakjingga tanpa mengabarkan lebih dulu, tiba-tiba datang ke gedung keputren. Alangkah terkejutnya ketika mendapati kedua permaisurinya berlaku serong dengan seorang pria lain. Seketika meluap marahnya, sehingga merah padam mukanya. Segera ia berbalik kembali. Damarwulan menyusul dan menahannya. Maka timbullah kemudian perkelahian seorang lawan seorang. Tetapi kekuatan rupanya tidak seimbang. Menakjingga bukan lawan yang enteng. Ia bertubuh besar, kekar dan kasar, lagi pula tak mempan segala senjata. Sadar akan kesaktian musuhnya, Damarwulan semakin kecil hatinya. Serangan bertubi-tubi dilancarkannya kepada Menakjingga seakan-akan tertumbuk kepada seonggok tugu baja. Mulailah ia merasa bimbang akan kemampuannya sendiri. Mulailah kelemahan hatinya menggoda akal pikirannya, yang dengan susah-payah berusaha melepaskan angan-angannya kepada segala yang dicintainya jauh di dusun kakek dan ibunya, dan yang ditinggalnya di Majapahit: Anjasmara istrinya.
Rupanya Menakjingga tau apa yang sedang berkecamuk dalam hati lawannya. Kesempatan ini tidak di sia-siakan dan digunakannya untuk membalaskan dendamnya. Dengan sekali pukul maka rubuhlah Damarwulan terkapar dan tak sadarkan diri. Sambil berjalan pincang Menakjingga mengitari dan mengamati musuhnya yang tidak bergerak lagi itu. Senyum menyeringai dan pandangan menghina dan menghias roman mukanya. Dalam membungkuk-bungkukkan badannyan agar lebih cermat penglihatannya, tampak punuknya seolah-olah lebih menonjol dan membuat punggungnya yang bongkok itu lebih bongkok lagi, sedang perut-buncitnya berat menggantung ke bawah. Puas sudah rupanya, telah melepaskaskan dendam hatinya. Ia pun kembali ke kedaton, tanpa menghiraukan kedua permaisurinya yang telah menipunya. Hanya kepada Dayun, abdi kesayangannya, diprintahkan untuk menjagai mayat Damarwulan. Sebenarnyalah Menakjingga menyangka bahwa Damarwulan telah mati, dan esok harinya akan dipancung kepalanya dialun-alun untuk menjadi tontonan dan sekaligus peringatan bagi orang banyak yang berani menentang Menakjingga.
Setelah Prabu Menak jingga pergi, maka kedua putri Wahita dan Puyengan berusaha keras untuk menolong Darmawulan. Dengan “ amatek aji panyirepan “ (= menggukan mantera penidur ) mereka membuat ki Dayun tidak berdaya lagi melawan kantuknya dan akhirnya tertidur pulas. Dengan bantuan Nayagenggong dan Sabdalapon, Damarwulan diusung kedalam puri keputren. Kiranya Damarwulan tidak mengalami cedera satu pun, melainkan hanya pingsan. Setelah mendapatkan perawatan sebaik-baiknya, akhirnya sadar kembali.
Setelah mengaso dan pulih kembali kekuatannya, maka Damarwulan pun membujuk kedua putri itu agar membukakan rahasia kesaktian suami mereka. Sebagai balas budi, mereka kelak akan dimuliakan hidupnya sebagai istrinya.Kedua putri tidak dapat menolak bujukan Damarwulan., lebih-lebih setelah menyadari nasib apa yang menanti mereka, setelah kini perbuatan serongnya diketahui oleh Menakjingga. Bagi mereka sudah tidak ada pilihan lain kecuali berpihak pada Damarwulan. Lalu dibukakan rahasia suaminya, bahjwa kesaktiannya itu disebabkan oleh pusaka ajimat yang dimilikinya bernama “ gada-wesi-kuning “ .
Damarwulan mendesak agar kedua putri itu bersedia membantunya mencari pusaka itu, sebab hanya dengan cara inilah, Menakjingga dapat dimusnahkan. Dan bagi Menakjingga tidak ada hukuman lain yang setimpal dengan kedurhakaannya selain mati. Dengan kematiannya pula akan terbuka jalan bagiDamarwulan untuk memenuhi janjinya, membahagiakan kedua putri tersebut. Oleh cumbuan dan janji Sang Abagus maka gugurlah iman Wahita dan Puyengan. Dengan tidak bimbang lagi mereka menyanggupkan diri akan melakukun pencurian pusaka itu malam itu juga.
Tak diuraikan betapa tipu muslihat kedua putri itu, akhirnya gada-wesi-kuning berhasil dicuri, selagi Menakjingga tertidur lelap.Pusaka segera diserahkan kepada Damarwulan. Damarwulan pun tidak menyia-nyiakan saat yang baik, segera ia masuk ke dalam kedaton diikuti oleh Nayagenggong dan Sabdapalon. Kedua panakawan ini kemudian disuruh membangun Menakjingga dengan mencabut bulu empu kakinya.
Karena kesakitan Menakjingga tersontak bangun dan bangkit dan bangkit dari ranjangnya. Tiba-tiba berhadapan dengan Damarwulan. Sekejap ia tertegun melihat musuhnya hidup kembali. Dengan berteriak kegusaran ia melompat maju menerkap lawannya.Secepat kilat Damarwulan mengelak. Menakjinggajingga menangkap angin  dan terhuyung-huyung hampir jatuh. Pikirannya masih kusut, belum lagi teratur karena mendadak terbangun dari tidur lelap. Kini ia membalikkan badan hendak mulai menyerang lagi, tetapi…. Tiba-tiba ia terhenyak, matanya yang m erah itu terbelalak. Tak ayal lagi penglihatannya, gada yang berada di tangan musuhnya itu adalah gada pusakanya sendiri, sang gada-wesi-kuning. Dalam keadaan tertegun demikian, nyaring terdengar sampai di telinganya ucapan Damarwulan yang sareh tetapi tegas, laksana pisau tajam menembus jantung rasanya, “ Hai Menakjingga, menyerahlah kau! Tak ada gunanya meneruskan perlawanan terhadap Majapahit. Sadarilah bahwa kesaktianmuyang kau andalkan ini ternyata kini berbalik melawan kesombongan dan terkubur sendiri. Bersiaplah untuk menerima hukumanmu !”
Menyadari bahwa kesaktiannya sudah tamat, patahlah semangat Menakjingga. Ia bertekuk lutut karena kakinya tak kuasa lagi menyangga badannya  yang besar itu. Dengan suara merayu mengharu ia memohon ampun dan agar dibiarkan hidup, meski ia kehilangan segalanya.Tetapi Darmawulan tak dapat meluluskan. “ Aku adalah seorang duta. Seorang duta harus melaksanakan apa yang dititahkan oleh Sang Prabu, menumpas keangkaran dan kelaliman yang bersumber dalam dirimu. Bagimu tiada ampun lagi.” Dan dengan mengakhiri katanya itu, diakhirinya pula hidup Menakjingga. Sekali pukul dengan pusaka kesaktiannya sendiri, maka rubuhlah orang yang paling sakti, yang pernah berkuasa dan ditakuti sluruh Blambangan.Kepalanya lalu di penggal, ditompatkan di sebuah bokor kencana dengan ditutupi cindai sutra. Batang tubuhnya disingkirkan.
Esok harinya pagi-pagi benar sudah merata berita kematian. Prabu Menakjingga Urubisma. Kegemparan dan kebingungan melanda seluruh kadipaten.. Tetapi tidak sedikit rakyat yang merasa lega. Para [prajurit balatentara Blambangan yang selama ini gigih memerangai pasukan Majapahit di segala medan, sedemikian terkejutnya hingga hingga tertegun lumpuh dan mengakibatkan kehancurannya. Pasukan Majapahit diwaktu akhir-akhir telah memperkuat tekanannyaterhadap musuh, merasa kini beroleh peluang, lalu menyerang dengan serentak dan serempak, dibarengi sorak-sorai yang bertalun-talun. Gemuruh suaranya semakin membuat kalangkabut wadyabala Balambangan yang akhirnya bubar berceari-berai, tidak lagi merupakan satuan balatentara. Tak terbilang jumlah yang mati, sebagian tertawan, para wiranya kian kehilangan wibawa, karena prajuritnya tidak lagi menghiraukan atasannya. Mereka sibuk mencari keselamatannya masing-masing, sementara serangan Majapahit semakit diperhebat. Akhirnya pucuk pimpinan perang wadyabala Balambangan sadar, lalu memutuskan untuk menyerah. Segera tanda perintah perletakan senjata dibunyikan keseluruh medan; bergema memenuhi angkasa, diikuti oleh sorak kemenangan balatentara Majapahit.
Beberapa hari kemudian tampak seiringan pembesar-pembesar perang Majapahit memasuki pintu gerbang pura bekas istana Prabu Menakjingga diiringi oleh para pembesar Blambangan yang sudah dilucuti.. Di antara para wira Majapahit tampak Layangseta dan Layang kumitir, kedua putra patih Logender. Mereka agaknya buru-buru mendahului yang lain untuk berjumpa dengan Damarwulan yang sudah menanti di paseban agung. Setelah bertemu mereka bertiga berpeluk-pelukan dengan mesranya; melepaskan haru dan gembiranya. Kemudian yang lain menyusul menyampaikan selamat dan rasa sukur. Setelah itu lalu mereka lalu mengadakan persidangan untuk membicarakan soal keamanan dan soal ketertiban kadipaten Blambangan setelah mengalami kekalahan. Akhirnya diputuskan untuk menyerahkan soal keamanan dan ketertiban kadipaten kepada para wira pimpinan angkatan perang Majapahit yang berada di Blambangan dengan dibantu oleh segenap priagung Blambangan sendiri dan bertindak sebagai penguasa seluruh wilayah, atas nama Sang Prabu Putri Kencanawungu.
Damarwulan segera kembali ke Majapahit untuk menyerahkan kepala Menakjingga dan kedua putri boyongan Dewi Wahita dan Dewi Puyengan kepada Sang Prabu, sebagai tanda bukti tumpasnya pemberontakan.
Atas prakarsa Layangseta dan Layangkumitir, perjalanan Damarwulan diatur dengan iringan pasukan kebesaran, sebagai penghormatan negara atas jasanya, telah memulihkan kewibawaan kerajaan Majapahit. Pimpinan pasukan akan dipegang oleh Layangseta dan Layangkumitir, karena kedua satria ini semula telah dianhgkat oleh Sang Prabu sebagai pengawal dan pelindung Damarwulan dalam melakukan tugasnya yang berat.
Segala persiapan telah selesai.Tak lama kemudian aba-aba diberikan. Bende, gong. beri, dibunyikan dan mulai bergeraklah barisan yang tengah gegap-gempitanya sorak-sorai rakyat yang berjubel di sepanjang tepi jalan dalam kota. Paling depan pasukan perintis jalan, dengan pelbagai panji-panji kebesaran Majapahit, mendahului sebuah regu pemukul gamelan dan diapit-apit barisan pedang dan tombak. Kemudian menyusul tiga buah tandu, masing-masing di usung oleh empat orang. Tandu yang paling depan memuat bokor tempat kepala Menakjingga. Di belakangnya berurutan tandu-tandu yang di tumpangi kedua putri Wahita dan Puyengan, yang di apit pula oleh sepasukan prajurit tombak. Kemudian barisan bayangkara dengan busana perang lengkap, sebagai pengiring ketiga orang priagung yang menaiki kuda, masing-masing Damarwulan, Layangseta dan Layangkumitir. Tak jauh di belakang mereka kedua abdi, Nayagenggong dan Sabdapalon, berjalan kaki disusul pula oleh sepasukan prajurit . Jalannya barisan laju sebentar saja kota Blambangan sudah ditinggalkan.
Sahdan setelah kira-kira separo perjalanan, di tengah hutan belantara, barisan berhenti untuk melepaskan lelah. Masing-masing mencari tempat peristirahatannya sendiri, ada yang menggerombol dan ada pula yang berpencaran memisahkan diri. Damarwulan pun menemukan tempat di bawah pohon rindang. Ia merebahkan diri dengan lenanya di atas lumut hijau tebal seperti babut. Layangseta dan Layangkumitir menemaninya, duduk di dekatnya, bertiga dengan asyiknya bercakap-cakap. Nayagenggong dan Sabdapalon berada agak jauh, duduk mengobrol sendiri. Tak seorang pun menaruh syak wasangka. Tak seorangpun merasa curiga, bahwa sebenarnya mereka telah masuk perangkap jahat yang telah rapih dipersiapkan lebih dulu.
Tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun para prajurit yang memang terdiri dari orang-orang kepercayaan Layangseta dan Layangkumitir, seorang demi seorang meninggalkan tempat peristirahatan untuk dengan diam-diam meneruskan perjalanan ke Majapahit. Setelah sepi sekitar,  kecuali beberapa prajurit bayangkara yang masih nampak tinggal, tiba-tiba Layangseta dan Layangkumitir berubah sikapnya. Dengan kasar dan bengis berserulah Layangseta,  “Hai, Damarwulan, sambatlah kepada orangtuamu, kini kuantar nyawamu ke neraka!”
Damarwulan sangat terkejut, tetapi sebelum ia sempat bangkit berdiri, sebilah keris telah menembus dadanya. Tewaslah Damarwulan oleh khianat saudara sepupu dan juga iparnya. Nayagenggong dan Sabdapalon masih sempat menyelamatkan diri dari bahaya, dengan bersembunyi dalam jurang, yang lebat di rimbuni oleh semak belukar. Layangseta dan Layangkumitir, setelah sia-sia mencari kedua orang abdi tersebut, akhirnya memutuskan untuk cepat-cepat menyusul pasukannya yang sudah bergerak mendahului. Demikianlah mayat Damarwulan ditinggalkan terkapar di tengah hutan rimba sunyi sendiri.
Sahdan tersebut dalam cerita, bahwa tidak lama kemudian seorang pendeta tua datang menghampiri tempat Damarwulan terkapar. Pendeta itu sebenarnya ayah Damarwulan sendiri. Udara tetapi kini sudah dapat merasuk badan halus dan bernama Begawan Tugulmanik.  Ia sudah tau mala petaka yang menimpa Damarwulan dan maksud kedatangannya justru untuk menghidupkannya kembali. Sesudah di rawat seperlunya dan kemudian samadi memohon pertolongan kepada Hyang Widdhi, maka Damarwulan akhirnya pun hidup kembali, pulih tiada cacat sedikit pun seperti semula.
Seperti dalam mimpi Damarwulan memandang keheranan kepada Sang Maharesi yang tidak di kenalnya itu. Setelah menyapa dan mendapat jawaban sebenarnya, maka segeralah Damarwulan bersujud mencium kaki Sang Maharesi. Begawan Tugulmanik sangat terharu dan dengan kedu tangannya yang kurus itu di tegakkan Damarwulan berdiri lurus-lurus di hadapannya, ditatapnya wajah putranya puas-puas, kemudian keduanya berpeluk-pelukan amat mesranya melepaskan rindunya.
Tiada terperikan sukacita kedua ayah-beranak itu. Dan setelah mereka kabar-mengabarkan hal-ikhwal masing-masing, akhirnya Begawan Tugulmanik menyarankan agar Damarwulan menangguhkan kepergiannya ke Majapahit dan kembali ke Blambangan. Baru kemudian, bila sudah merawat dan memelihara pusaka ajimat gada-wesi-kuning sebaik-baiknya, ia boleh kembali ke Majapahit, menghadapi Sang Prabu dengan membawa serta para raja taklukan.
Tetapi Damarwulan bimbang dan merasa enggan untuk melaksanakan amanat Sang Begawan itu. Pengalaman hidupnya di tengah dunia ramai selama ini, tidak membawakan kebahagiaan dan ketentraman batin baginya. Segala kesenangan duniawi terasa tidak diperuntukkan baginya. Sejak kecil ia terdidik dan terlatih dalam hidup kebatinan yang penuh kebajikan, keluhuran kesahajaan dan kedamaian. Karenany ia merasa canggung terjun ke dalam gelanggang kehidupan duniawi yang penuh tipu dan permusuhan. Tidak kalau diijinkan ia ingin menghamba sebagai cantrik saja di pertapaan Sang Begawan, sebab hanya di situlah ia akan menemukan ketentraman dan kedamaian.
Sang Maharesi Begawan Tugulmanik tersenyum mengangguk-anggukkan kepala, memahami sikap kebimbangan Damarwulan terhadap kehidupan duniawi. Namun ia tidak dapat membenarkan sikap demikian itu. Lalu diwejangnya Damarwulan akan kewajiban satria muda yang harus melakukan darmabaktinya, justru dengan makarti ( = bekerja ) di tengah-tengah masyarakat ramai untuk menyelamatkan kesejahteraan dunia daripada malapetaka yang ditimbulkan oleh segala kepalsuan dan permusuhan. Saatnya terlalu pagi bagi Damarwulan yang masih muda teruna itu untuk buru-buru membelakangi duniawi dan mengurung diri dalam pertapaan. Seseorang yang justru cukup memiliki landasan hidup batin yang kuat seperti Damarwulan itulah yang harus dan patut diandalkan untuk mengatasi segala macam kericuhan dunia yang penuh muslihat.
Setelah menerima wejangan demikian, maka hilanglah kebimbangan hati Damarwulan. Ia pun bersujud di kaki Sang Tunggulmanik untuk mengundurkan diri dan mohon doa restu, agar di teguhkan hatinya untuk melakukan apa yang diamanatkan oleh Sang Begawan. Dalam pada ini Nayagenggong dan Sabdapalon pun telah keluar dari tempat persembunyiannya, dan dengan demikian Sang Begawan Tugulmanik dengan penuh kebanggaan dan kebahagiaan dapat melepas mereka bertiga, putra buah harapannya bersama dua sahabat setia dalam duka dan suka. Setelah itu gaib pululah ia.
Tanpa aral sampailah Damarwulan di Blambangan kembali. Segera diperintahkannya kepada para wira Majapahit yang dulu ditugaskan menjaga ketentraman dan ketertiban kadipaten Blambangan, untuk mempersiapkan wadyabala secukupnya yang akan mengiringkan kepergiannya kelak ke Majapahit, guna menghadapkan para raja taklukan kepada Sang Prabu. Dalam pada itu Damarwulan merawat dan menjaga pusaka aji gada wesi kuning dengan penuh kecermatan. Persiapan sudah selesai, saat berangkatpun tiba, dan bergeraklah Damarwulan dengan pasukan pengiringnya, mengarak para raja taklukan meninggalkan Blambangan menuju Majapahit.
Sahdan Dewi Anjasmara, istri Damarwulan yang ditinggalkan di Majapahit, sangat terkejut menerima menerima kematian suaminya yang dibawa oleh kedua saudaranya Layangseta dan Layangkumitir itu. Namun dalam hati ia masih belum percaya benar akan kebenaran berita itu, sebab ada beberapa hal yang dicurigakan dalam sikap laku kedua kakaknya itusekembalinya dai Blambangan. Sebaliknya kalau mengingat kesaktian Menakjingga yang tidak terkalahkan oleh siapapun itu, dan Damarwulan belum dapat disebut seorang prajurit, maka kematiannya dalam melawan Menakjingga sukar diragukan. Tetapi mengapa kedua panakawannya tidak kembali memberitahukan kepadanya? Apakah mereka memilih berbela-pati dari pada berpisah dari momongannya yang dicintainya? TetapiMenakjingga sudah mati. Kedua kakaknyakah yang membunuhnya? Ia meragukan. Dan akhirnya diputuskan untuk menyusul ke Blambangan ingin mengetahui duduk soal yang sebenarnya. Andaikata suaminya benar gugur, maka akan dicarinya kuburnya.
Demikianlah sudah bulat tekadnya. Pagi-pagi buta, sebelum seisi rumah bangun, Sang Dewi telah berangkatt, dengan hanya diiringioleh seorang inang yang setia, menuju jalan besar. Ketika hari sudah siang, ibukota Majapahit sudah jauh ditinggalkan. Tak diceritakan sepanjang perjalanan, berhari-hari dan berpekan-pekan ditempuhnya perjalanan tanpa menghiraukan letih dan bahaya. Pada suatu hari di tengah hutan rimba, Sang Dewi berpampasan dengan iring-iringan pasukan Damarwulan yang membawa raja-raja taklukan menghadap Sang Prabu ke Majapahit. Dengan demikian bertemulah kembali Dewi Anjasmara dengan suaminya..
Sementara itu Layangseta dan Layangkumitir telah menghadap Sang Prabu. Mereka menyerahkan kepala Menakjingga dan kedua putri boyongan Dewi Wahita dan Puyengan, sebagai tanda bukti tertumpasnya pemberontakan . Sang Prabu amat masgul, menerima laporan gugur Damrwulan. Mengap berbeda benar dengan wangsit yang diterimanya dari dewa? Sekalipun merasa lega juga oleh tertumpasnya pemberontakan dan matinya Menakjingga, namun perasaan sangsi dan jemas berkecamuk dal;am hati Sang Prabu. Akhirnya baginda berkenan menerima penyerahan kedua putyri boyongan itu, sedang penyerahan kepala Menakjingga sementara ditangguhkan.
Beberapa waktu kemudian Damarwulan bertemu bersama seluruh pengiringnya tibadi iobukota Majapahit, langsung nenuju ke kraton . Dengan rapihnya para raja taklukan bersama pasukan prajurit pengirting berbaris di alun-alun., sementara Damarwulan dan Asjasmara dengan kawalan beberapa wiratama menghadap Sang Prabu. Kebetulan sekali Patih Logender’ Layangseta dan Layangkumitir dan beberapa priagung Majapahit lainnya ada pula menghadap. Kedatangan Dam,arwulan damn Anjasmara bersama pengiringnya menimbulkan kegoncangan  di paseban. Tetapi tidak lama kemudian suasana menjadi tenang kembali, sekalipun masih diliputi oleh ketegangan.
Setelah Damarwulan dan Anjasmara bersujud dihadapan Sang Prabu, maka bagindapun menanyakan hal ihwalnya dari awal sampai akhir. Maka dibnukakan oleh Anjasmara segala kerbohongan dan penghianatan kedua saudaranya. Layangseta dan L:ayangkumitir
Patih Logender masih mempertahankan “kebenaran” keterangan kedua putranya atas dasar bukti-bukti yang ada., yaitu kepala Menakjingga dan putri boyongan yang telah berhasil dibawa oleh Layangseta dan Layangkumitir ke Majapahit. Dan kalau ada yang mendakwa Layangseta ,  Layangkumitir telah membunuh Damarwulan secara khianat, itupun tidak dapat dibuktikan, karena nyatanya Damarwulan masih hidup segar bugar.Atau kalau tidak, niscaya Damarwulan  yang menghadap itu adalah Damarwulan gadungan. Akhirnya Sang Prabu memutuskan agar Damarwulan diadu bertanding melawan Layangseta Layangkumitir. Siapa yang menang dialah yang diakui sebagai pahlawan yang telah berhasil menumpas pemberontakan Menakjingga.
Maka beradu tandinglah Damarwulan melawan Layangseta/Layangkumitir. Masing-masing berusaha melihatkan kemahiran dan keperwiraannya, saling terjang-menerjang., hantam-menghantam, serang-menyerang berebut unggul, tetapi akhirnya Layangseta/ Layangkumitir tak dapat bertahan lagi terhadap-hajaran-hajaran Damarwulan dan larilah mereka meninggalkan gelanggang. Maka Damarwulan diaku sebagai yang telah berhasil memadamkan pemberontakan dan menegakkan kermbali wibawa kerajaan Majapahit.
Sebagai pahala atas jasa-jasanya terhadap negara dan rakyat Majapahit, Damarwulan dinobatkan menjadi Prabu Majapahit, bergelar Bra Wijaya dan kawin dengan Prabu Putri Kencanawungu. Setelah menjadi raja, kemuktiwibawaannya tidak dimilikinya sendiri, melainkan diratakannya kepada mereka yang telah ikut berjasa. Anjasmara tetep menjadi permaisurinya disamping Kencanawungu. Demikian pula Wahita dan Puyengan yang tidak sedikit sumbangannya dalam membasmi si angkara Menakjingga. Patih Logender tetap memegang jabatan Patih Warangka Nata. Demikian pula Layangseta/Layangkumitir, masih diabdikan di kraton. Dan mereka diampuni. Nayagenggong dan Sabdapalon . tetap menjadi pamong di Majapahit.
Akhirnya lesatarilah Prabu Bra Wijaya, Sang Damarwulan, memerintah kerajaan besar Majapahit dengan segala kebajikan, kebijaksanaan dan keluhuran.
Cerita Singkat DAMARWULAN DAN MENAK JINGGA ini dikutip dari
DAMARWULAN (sebuah lakon wayang krucil) KUPASAN SEGI FALSAFAH DAN S I M B O L I K N Y A Oleh; SOENARTO TIMOER Diterbitkan oleh; P N
BALAI PUSTAKA . JAKARTA. 1980 DARI HALAMAN; 39 – 56.

Pada umumnya para ilmuan atau para ahli sejarah yyg menunjau serat Damarwulan atau cerita damarwulan dan menakjingga,yg menjadi perhatian pertama ialah tokoh prabhu Kenya kencanawunggu,lalu tokoh ini diidentifikasi dengan mencari tokoh putri yg pernah berkusasa menjadi Raja majapahit.Selanjutnya tokoh-tokoh pelaku dalam serat Damarwulan lainya,seperti prabhu menakjingga urubisma,Rangga Lawe,dan seterusnya juga diidentifikasi dengan tokoh-tokoh pelaku dalam sejarah majapahit yg sekiranya cocok  menurut pedapatanya masing-masing.Namun hasilnya tidak ada yg memuaskan,seperti yg di tulis oleh Prof.Dr.Slamet Muljana,1983. h. 150/151,sebagai berikut:

Tinjauan dari segi sejarah tentang tokoh-tokoh dalam serat Damarwulan telah sering di lakukan oleh beberapa sejarawan asing (Belanda) .Namun hasilnya kurang memuaskan J. L. A. Brandes dalam karyanya Pararaton h.188 dst. Menghubungkan perang majahpahit belambangan dalam Serat Damarwulan dengan perang Paregreg antara Wikramawardana dan Bhre Wirabumi .Minakjingga dari Belambangan yg di kalahkan oleh Damarwulan,disamakan  dengan Bhre Wirabumi yg di penggal kepalanya oleh Raden Gajah. Prabu Kenya  disamakan dengan Dewi Suhita yg memerintah majapahit dari tahun 1427sampai 1447. .Penyamaan Prabhu Kenya dengan Dewi Suhita jelas tida kena, Karena suwami dewi Suhita ialah Hyang Paraneswara Aji Ratnapangkaya.Asal usul Hyang Paraneswara adalah keturunan Bhre Pandan Salas Raden Sumirat, sedangkan Damarwulan,konon adalah keturunan Patih Udara.Bhre Wirabumi dari kedaton Wetan tidak sama dengan Minakjingga dari Blambangan karena kedaton wetan terletak di Pamotan,tidak di blambangan seperti ditunjukan dalam “Timbulnya Kedaton Timur” (baca: Timbulnya Kedhaton Timur; Prof. Dr. Slamet Muljana, 1980. h.216-223).
C. C. Breg dalam karyanya Het rijk van de vijfvaudige Buddha, h.289, 296,menyamakan perang melawan Blambangan dalam serat Damarwulan dengan Perang Sadeng dalam pararaton/ nagarakertagama.Perang Sadeng berlangsung pada masa Tribhuwana Tunggadewi.Demikian Breg menyamakan prabhu Kenya dengan Tribhuwana Tunggadewi.Pahlawan perang sadeng ialah Gajah Mada.Tokoh ini disamakan dengan Damarwulan yg berhasil mengalahkan Minakjingga da
ri Blambangan dan kawin dengan Prabhu Kenya.Suatu kenyataan ialah bahwa suwami Tribhuwana Tunggadewi adalah Sri Kertawardhana dari Singasari.Breg beranggapan bahwa nama Gajah Mada adalah varisai dari nama Kertawardhana dan menerima teori Moens, bahwa Tribhuwana Tunggadewi melakukan biandri ( mempunyai dua suami ) seperti di uraikan oleh  J. L. Moens dalam makalahnya “Wisnuwardhana, Vorst van Singasari”dalam TGB LXXXV, h. 1995. h. 384.Terlalu sulit menerima pendapat Breg di atas.Bagaimana akan menjelaskan hubungan antara Sri Kertawardhana dan Pati Udara dalam kerangka pandangan Breg di atas? Kiranya salah satu jalan yg pantas ditempuh ialah membahas sejara historis tokoh Patih Udara  yg konon adalah ayah Damarwulan. Dr.Stutterheim, 1952, I:78, lain laggi pendapatnya. Menurut dugaanya, Damarwulan adalah Kertawardhana,suami Prabhu istri Tribhuwanatunggadewi yg di lukiskan sebagai Kencanawungu.Minakjingga adalah Adipati Sadeng. Layangseta dan Layangkumitir, kedua saudara Anjasmara menjadi selir Kertawardhana [sic!]). Adalah gambaran kembar yg disebut dalam “Pararaton”(Sunarto Timur 1980. h.36/37).

            Mengapa hasil tinjauan tokoh-tokoh pelaku dalam serat Damarwualan dari dari segi sejarah oleh para ilmuan,pakar sejarah dan banyak lagi yg lainya hasilnya selalu tidak memuaskan dan tidak mendapatkan hasil sebagaimana yg diharapkan.Masalahnya, sebenarnya cukup sederhana,yaitu bahwa para ilmuwan,pakar sejarah dan banyak lagi yg lainya,yg menijau serat Damarwulan,tidak mempunyai wawasan bahwa serat Damarwulan merupakan karya sastra yg dikemas dengan bahasa lambang atau prasemon.Sehingga sampai kapan pun dan oleh siapa pun bila di lakukan seperti itu,tidak akan mendapatkan hasil yang diharapkan.
            Pada umumnya yang meninjau serat Damarwulan selalu mengawali dengan membahas tokoh pelaku Prabhu Kenya Kencanawungu.Selanjutnya membahas tokoh pelaku Minakjingga Urubisma,dan setelah itu baru tokoh-tokoh pelaku yang lain-lainya.Demikianpun dalam hal ini saya mulai dengan meng”otak-atik” sampai “gathuk” tokoh Prabhu Kenya Kencanawungu.Selanjutnya tokoh menak jingga Urubisma,dan setelah itu tokoh-tokoh atau prasemon yang lain dalam serat Damarwulan.

Prabhu Kenya Kencanawungu

            Dalam sepanjang sejarah kerajaan Majahpahit telah terjadi berulang kali perang/pemberontakan.Hanya dalam perang Paregreg  (1404-1406) pada jaman Wikramawardhana,biang pemberontak, Bhre Wirabumi,tewas dengan dipenggal kepalanya oleh satria Majahpahit,Narapi Raden Gajah.Hal itu serupa dengan yang dilukiskan dalam serat Damarwulan,bahwa biang pemberontakanya,Prabhu minak jingga Urubisma, tewas dan di penggal kepalanya oleh satria Majahpahit, Raden Damarwulan.Dengan demikian,perang yg di singgung dalam serat Damarwulan adalah Perang Paregreg (1401-1406) antara kedhatonkulon dengan rajanya,Wikramawardhana,melawan pemberontakan Kedathon Wetan yyg di pimpin oleh Bhre Wirabumi sebagaimana di informasikan dalam Pararaton.Namun di dalam serat Damarwulan, mengapa raja Majahpahit Wikramawardhana mendapat prasemon dari Prabhu Kenya Kencanawungu dan yang memberontak, Bhre Wirabumi, di sebut Prabhu Menak jingga Urubisma, selain itu mengapa kedathon wetan, Negara bawahan Majahpahit di Pamotan diberi nama Blambangan? Padahal daerah Pamotan letaknya di sebelah barat sungai porong,mengingat sejak lama saya mendengar dari para sesepuh bahwa cerita Damarwulan tersebut adalah cerita lambang atau prasemon,maka bila mau mengetahui siapa yg di maksud Prabhu Kenya Kenvanawungu maka harus di-“otak-atik” sampai “gatuk” sebagaimana dilakukan orang sesepuh zaman dahulu.
            Prabhu : raja. Kenya : gadis (konotasinya pada perempuan,sebagai lambang, berarti: lemah). “Kencanawungu” merupakan rangkaian kata: “kencana” dan “wungu”.Kencana : emas (sesuatu yg mempunyai nilai tinggi dalam suatu kerajaan : tahta).Wungu: ungu atau suram.Artinya, raja (pemerintah) yang lemah,sehingga tahtahnya menjadi suram memperihatinkan.
            Benarkah semonan atau sindiran bahwa kerajaab Majahpahit pada jaman pemerintahan Wikramawardhana sedemikian lemahnya,sehingga dalam serat Damarwulan disemoni: Prabhu Kenya Kencanawungu? Untuk menjawab pertanyaan tersebut,penjelasanya sebagai berikut:
            Wikramawardhananaik tahtah Majahpahit pada tahun 1389 mengantikan Sri Rajasanegara (Dyah Hayam Wuruk)berkat perkawinanya dengan kusumawardhani,pada saat kerajaan Majahpahit sudah merosot.Sepeninggalan Patih Gaja Mada pada tahun 1364,musyawarah besar keluarga Rajadiraja memutuskan bahwa jabatan Patih Amangkubumi tetap lowong untuk sementara waktu sampai ditemukan orang yang dianggap layak diangkat sebagai Patih Amangkubhumi penganti Gajah Mada.Jabatan Patih Amangkuhbumi dirangkap oleh Dyah Hayam Wuruk sebagai Kepala Negara.Dalam menjalankan pemerintahan,Dyah Hayam Wuruk mengadakan sekedar perubahan dalam susunan cabinet mentri,antara lain Sri Kertawardhana diberi tugas untuk mengatur urusan dalam negeri, yang pada hakekatnya sama dengan kekuasaan Patih Amangkuhbhumi.Peran ini memberi kesempatan leluasa kepada Sri Wijayarajasa untuk menggalang kekuasaan dalam pemerintahan.
            Pada tahun 1365 belum ada tampak kemerosotan dalam kehidupan kenegaraan,bahkan pemerintahan Majahpahit di bawah pimpinan Dyah Hayam Wuruk sangat dipuji oleh Prapanca.Segala-galanya serba hebat,seolah-olah hilangnya Gajah Mada tidak mempunyai pengaruh sedikit pun kepada jalannya pemerintahan.Ternyata setelah tiga tahun merangkap jabatan Patih Amangkuhbhumi, Sri Hayam Wuruk rupanya sudah mulai kewalahan.Pararaton menyatakan bahwa pada tahun 1367, Gaja Enggon diangkat sebagai Patih Amangkubhumi.Tugas utama Patih Amangkuhbhumi ialah mengkoordinasi pemerintahan daerah.Sepeninggal Gajah Mada,tali kendali untuk mengkoordinasi pemerintahan seluruh kerajaan Majahpahit itu di tangan Dyah Hayam Wuruk.Tidak ada orang khusus mengawasi pemerintahan daerah.Dengan sendirinya hubungan antara daerah dengan pusat menjadi kendor.Ketika Gajah Mada memegang jabatan Patih Amangkuhbhumi,pengawasan terhadap pemerintahan daerah dilakukan dengan ketat.Sepeninggalan Gajah Mada,terjadi perubahan drastis dalam administrasi pemerintahan di pusat.
            Gajah Enggon sebagai Patih Amangkubhumi tidak sekuat Gajah Mada, sehingga tetap terbuka kesempatan bagi Sri Wijayarajasa untuk meneruskan menggalang kekuasaan.Timbulnya Kedhaton timur di Pamotan itu akibat ambis Sri Wijayarajasa untuk berkuasa dengan memanfaatkan kelemahan Gajah Enggon.Pengiriman utusan dari Kedhaton Wetan ke negeri Cina pada tahun 1377, dimaksudkan untuk memperoleh pengakuan dari Kaisar Cina, namun usaha itu mengalami kegagalan.Sampai ajalnya,pada tahun 1388, Sri Wijayarajasa tidak pernah mendapat pengakuan dari Kaisar Cina sebagai penguasa Kerajaan Timur.Lagi pula pada waktu itu,Majahpahit terlibat dalam sengketa segi tiga : Majahpahit, Suwarnabhumi dan Cina akibat peperangan antara Majahpahit dengan Suwarnabhumi.Utusan dari kedathon wetan tidak dapat diterima oleh Kaisar, bahkan nasibnya lebih jelek lagi.Utusan itu malah di tahan.
            Meskipun mengetahui Bhre Wengker Sri Wijayarajasa berusaha untuk mendirikan Kedhaton Wetan di Pamotan sebagai saingan Kedaton Kulon (Majapahit), terbukti Dyah Hayam Wuruk tidak mengambil tindakan apapun terhadap Sri Rajasanegara. Alasan membiarkan tingkah laku Sri Wijayarajasa itu barangkali seperti berikut. Pertama, selama belum timbul gejala untuk memisahkan diri, adanya Kedaton Timur belum dianggap membahayakan kesatuan Majapahit. Usaha Sri Wijayarajasa untuk memperoleh pengakuan dari Kaisar Cina memang mengalami kegagalan. Kedua pada waktu itu  Dyah Hayam Wuruk sedang kesulitan menghadapi sengketa segi tiga: Majapahit-Suwarnabhumi-Cina. Ketiga, bagaimanapun Sri  Wijayarajasa adalah paman / mertua Dyah Hayam Wuruk. Untuk mengambil tindakan terhadap Sri Wijayarajasa, dalam hal yang demikian Sri Hayam Wuwuk pasti agak segan. Terbukti ini adalah suatu kelalaian  Dyah Hayam Wuruk  dalam politik, karena kemudian timbulnya Kedaton Timur membawa malapetaka yang sangat parah kepada Majapahit dengan pecahnya perang Paregreg pada tahun 1401-1406.
Kekendoran pengawasan terhadap pemerintahan daerah pada era Patih Gajah Enggon, memberi kesempatan terwujudnya ambisi  Sri Wijayarajasa mendirikan Kedaton Wetan, juga mengakibatkan beberapa pemerintah daerah berupaya melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Majapahit, Nagarakretagama pupuh XIII/1 menyebut pelbagai Negara bawahan Majapahit di Sumatra di antaranya ialah Jambi, Palembang dan Dharmaraya juga mengadakan hubungan dengan negeri Cina dengan mengirim utusan. Maharaja Palembang mengirim utusan pada tahun 1374 dan Raja Pagaruyung pada tahun 1375. Bahkan tahun 1377 sepeninggal raja Dharmasraya, putranya sengaja mohon pengakuan dan pengangkatan kepada Kaisar Cina. Tanpa perlindungan  Kaisar Cina ia tidak berani naik tahta menggantikan ayahnya, karena takut kepada raja Jawa. Hubungan negara-negara itu dengan negeri Cina, dengan sendirinya menimbulkan kemarahan Raja Majapahit. Itulah salah satu sebab mengapa pada tahun 1377 tentara Jawa menggempur Suwarnabhumi. Timbulah karenanya sengketa segi tiga Suwarnabhumi, Majapahit, Cina. Utusan Kaisar Cina ke Suwarnabhumi yang membawa pengangkatan, stempel dan perabot kebesaran berhasil dicegat dan dibunuh oleh tentara Jawa. Menyadari akan kesalahannya Kaisar tidak mengambil tindakan kepada Raja Majapahit. Sementara itu Suwarnabhumi berhasil ditundakkan lagi oleh tentara Majapahit. Namun pada waktu itu akibat peperangan Majapahit telah kehabisan nafas, tidak lagi mempunyai orang kuat yang dapat diangkat sebagai wakil Majapahit di negara-negara bawahannya di Sumatra dan lain sebagainya.
Setelah sembilan tahun Wikramawardhana naik tahta, pada tahun 1398  Gajah Enggon wafat, lalu digantikan oleh Gajah Lembana. Pada tahun 1400,  Wikramawardhana pergi bertapa untuk menjalani masa kependetaan (brahmacarin) sesuai dengan ajaran caturasrama. Selama itu yang menjalankan pemerintahan ialah Prabhu Stri (permaisurinya). Mendadak Wikramawardhana membatalkan masa kependetaannya, kembali mengemban pemerintahan dan bertengkar dengan Bhre Wirabhumi. Tiga tahun kemudian ketegangan itu telah berubah kearah peperangan.. Jadi pada saat pecahnya Perang Paregreg kondisi Kerajaan Majapahit sudah merosot sedemikian rupa menjadi kerajaan yang lemah. Oleh karena itu dalam Serat Damarwulan Kerajaan Majapahit dan Wikramawardhana sebagai rajanya diberi prasemon Prabhu Kenya Kencanawungu, yang menyimpan makna; Raja (pemerintahan)-lemah, sehingga tahtanya; ungu (memprihatinkan).
                                                                                   
2. MENAK JINGGA URUBISMA.
            Pararaton, menyinggung bahwa yang terlibat dalam Perang Paregreg ialah Kedhaton Kulon (Majapahit) dengan Rajanya Wikramawardhana dan Kedhaton Wetan yang dipimpin oleh Bhre Wirabhumi. Yang perlu ditanyakan, siapa sebenarnya Bhre Wirabhumi dan bagaimana Bhre Wirabhumi bisa berkuasa di Kedaton Wetan?  Dan mengapa dalam Serat Damarwulan Bhre Wirabhumi, diberi prasemon (lambang) Menak Jingga Urubisma?
            Bhre Wirabhumi ialah putra Dyah Hayam Wuruk dari istri binihaji (selir). Berhubung perkawinan sepupu Dyah Hayam Wuruk yaitu  Rajasaduhita Indudewi dengan Rajasawardhana tidak punya keturunan,  maka Bhre Wirabhumi  diambil sebagai putra angkat oleh  Rajasaduhita Indudewi, ia adalah putri tunggal dari perkawianan Bhre Daha Dyah Wiyat Sri Rajadewi Maharajasa dengan Sri Wijayarajasa dari Wengker.
            Setelah meninggalnya Gajah Mada, dalam Musyawarah Besar Keluarga Rajadiraja antara lain Sri Wijayarajasa diberi tugas untuk mengatur urusan dalam negeri, yang pada haketatnya  tugasnya sama dengan Patih Amangkubhumi. Hal itu meberi peluang bagi Sri Wijayarajasa untuk mewujudkan impiannya mendirikan kerajaan di Pamotan yang dalam Pararaton kemudian disebut Kedaton Wetan. Pada tahun 1377 Kedaton Wetan mengirim utusan ke Cina dengan maksud minta pengakuan sebagai kerajaan yang berdaulat, namun utusan itu tidak diterima oleh Kaisar.
            Sri Wijayarajasa dari Wengker, juga dikenal sebagai Bhre Pamotan Hyang Parameswara hingga mangkat pada tahun 1388, Kedaton Wetan tidak pernah mendapatkan pengakuan sebagai Negara berdaulat dari kaisar Cina. Satu-satunya pewaris Kedaton Wetan ialah Bhre Daha Rajasaduhita Indudewi, ibu angkat Bhre Wirabhumi. Kiranya sejak tahun 1388 Rajasaduhitendudewi  pindah dari Daha ke Pamotan, sedangkan Bhre Wirabhumi secara resmi menjadi Bhre Daha. Oleh karena itu Bhre Wirabhumi berhak mewarisi Kedaton Wetan      
            Dari uraian diatas sudah terjawab siapa Bhre Wirabhumi dan mengapa Bhre Wirabhumi dapat menjadi penguasa di Kedaton Wetan yang dirintis oleh Hyang Parameswara Wijayarajasa sejak tahun 1377.
            Pada tahun 1403 Yung Lo mengirim utusan ke Majapahit untuk memberitahukan penobatannya sebagai kaisar baru. Pemberitahuan itu segera disambut dengan pengiriman utusan ke negeri Cina untuk menyatakan ucapan selamat. Hubungan antara negeri Cina dan Majapahit makin hari bertambah rapat, lebih-lebih setelah raja Wikramawardhana menerima stempel perak berlapis emas dari Kaisar. Sebagai tanda terima kasih Wikramawardhana mengirim utusan ke negeri Cina dengan membawa upeti.
            Rupanya kiriman stempel perak berlapis emas itu membangkitkan niat Raja Kedaton Wetan untuk juga mengirim utusan ke negeri Cina dengan membawa upeti. Namun maksud utama pengiriman utusan itu ialah untuk minta stempel sebagai tanda pengakuan resmi dari pihak Kaisar. Ternyata permintaan itu dikabulkan. Pemberian stempel itu membuktikan bahwa Kaisar Yung Lo memperlakukan Kedaton Wetan sejajar dengan Kedaton Kulon; merupakan pengakuan resmi Kaisar kepada Kedaton Wetan lepas dari kekuasaan Kedaton Kulon. Hal itu pasti membuat ketidak senangan pihak Kedaton Kulon. Tidak mengherankan bahwa karenanya lalu timbul ketegangan antara  Kedaton Kulon dan  Kedaton Wetan. Sejarah Dinasti Ming menyatakan bahwa raja Kedaton Timur itu bernama Put-ling-ta-ha. Nama itu kiranya ialah transliterasi Cina dari gelar asli Bhre Daha (Breng Daha); suatu bukti bahwa Bhre Wirabhumi benar bergelar Bhre Daha sejak tahun 1371 sepeninggal Bhre Daha Dyah Wiyat Sri Rajadewi.
            Dalam pelayaran yang pertama tahun 1405 Ceng Ho singgah di Majapahit. Ia menyaksikan bahwa pada waktu itu sedang timbul ketegangan antara Kedaton Kulon dan Kedaton Wetan. Ketegangan itu berubah menjadi peperangan antara Kedaton Kulon dan Kedaton Wetan  setahun kemudian. Pernyataan sejarah Dinasti Ming itu cocok dengan uraian sumber sejarah Pararaton, yang mengatakan bahwa pada tahun Saka; “naga-loro-anahut-wulan 1328” (bertepatan tahun Masehi 1406) terjadi perang Paregreg.
            Dalam Serat Damarwulan, mengapa raja Kedaton Wetan (Balambangan),  diberi lambang (prasemon) Menak Jingga Urubisma?
Menak = priyayi, bangsawan atau keturunan raja. Jingga = warna kuning kemerah-merahan. Sebagai lambang yang diletakkan dibelakan nama seseorang, mengandung makna simbolis bahwa yang bersangkutan mempunyai watak brangasan. Dengan demikian prasemon “Menak jingga” menyimpan makna; priyayi atau bangsawan; yang brangasan, kurang ajar, tidak mengerti tatanan, brutal dan lain semacamnya.
Urubisma, rangkaian dari “uru” dan bisma”. Uru = paha (Bau Sastra basa Jawi, W.J.S. Poerwadarminta, Tokyo 24 Februari 1937, h. 445). Bisma = maha dahsyat (Lihat, DAMARWULAN “Sebuah Lakon Wayang Krucil”, Soenarto Timoer, PN. Balai Pustaka, Jakarta 1980, h. 82). Lalu apa yang yang dimaksud prasemon “Paha maha dahsyat?” Paha merupakan bagian kaki sebelah atas untuk menyangga tubuh. Bagian tubuh yang dekat dengan paha, ialah, “kelamin” (lambang dari; nafsu) dan “dubur” (artinya; kotor). Dengan demikian prasemon Menak Jingga Urubisma, menyimpan makna; Priyayi brangasan, menyangga nafsu kotor yang maha dahsyat (luar biasa). Hal itu sehubungan dengan ulah  Sri Rajasanegara yang berambisi luar biasa mendirikan kerajaan dalam kerajaan seperti diterangkan di atas.
Jadi prasemon yang mengandung sindiran “Menakjingga Urubisma” pada awalnya ditujukan kepada Sri Rajasanagara yang berambisi mendirikan Kedaton Wetan sejak Tahun 1377. Namun setelah Sri Rajasanagara mangkat tahun 1388, Kedaton Wetan jatuh ditangan pewarisnya yaitu Rajasaduhitaindudewi (Bhre Daha), ibu angkat Bhre Wirabhumi. Dan Bhre Wirabhumi wajar menyandang gelar Bhre Daha atau “Put-ling-ta-ha”, menurut catatan sejarah Dinasti Ming di Cina. Dalam Serat Damrwulan akhirnya Bhre Wirabhumi yang mewarisi prasemon “Menakjingga Urubisma” tewas dalam perang tanding melawan Raden Damarwulan satria Majapahit dengan dipenggal kepalanya. Kemudian kepala Prabhu Menakjingga Urubisma yang terpenggal dibawa ke Majapahit untuk dipersembahkan kepada prabhu Kenya Kencanawungu.
Dalam perang Paregreg yang berakhir pada tahun 1406 Kerajaan Timur berhasil dihancurkan. Bhre Wirabhumi yang berusaha melarikan diri di waktu malam dengan menumpang perahu, berhasil dikejar oleh Bhra Narapati Raden Gajah. Kepalanya dipancung dan dibawa ke Majapahit untuk dipersembahkan kepada Bhra Hyang Wisesa Wikramawardhana. Kepala Bhre Wirabhumi kemudian ditanam di desa Lung; candinya bernama Grisapura. Candi itu dibangun pada tahun Saka 1328 bertepatan dengan tahun Masehi 1406.

3. BALAMBANGAN (Dalam Serat Damarwulan).
            Bila perang yang disinggung dalam Serat Damarwulan adalah perang Paregreg, mestinya yang perang adalah Kedaton Kulon yang dipimpin oleh raja Hyang Wisesa Wikramawardhana di Trowulan, melawan pemberontakan  Kedaton Wetan yang dipimpin oleh Bhre Wirabhumi di Pamotan.  Tetapi mengpa dalam Serat Damarwulan  Kedaton Wetan yang beribukota di Pamotan mendapat sindiran dengan prasemon Balambangan? Lalu apa makna prasemon Balambangan dalam Serat Damarwulan? Padahal Pamotan terletak ditepi sebelah barat sungai Porong.
            Lambang atau prasemon “Balambangn” jelas awalnya tercantum dalam “Prasasti Jayanegara I -1316” yang dikeluarkan oleh raja Majapahit Sri Jayanegara setelah penumpasan pemberontakan Nambi di daerah “Tigang Juru” dengan ibu-kotanya  Lumajang, pada tahun 1316.
Dalam Prasasti Jayanegara I tersebut, daerah “Tigang Juru” yang memberontak dikritik dengan bahasa lambang yang lazim disebut prasemon, yaitu sekali dengan prasemon “Malambanganpada lempengan depan lirik ke 2, dan dua kali dengan prasemon “Balambangan pada lempengan depan baris ke 4. (Tatanegara Majapahit “Sapta-Parwa”, Haji Mohamad Yamin Parwa II, 1962 h. 37).
Malambangan, terdiri dari kata; Mala dan “Mbangan” (abangan). Mala, artinya; rereget, leletek, dosa, cacat, kacilakan, kasangsaran (Ind; kotoran, noda, dosa, cacat, kecelakaan, kesengsaraan) Lihat; Baoesastra Djawi W.J.S. Poerwadarminta, Tokyo 24 - 2 - 1913, h. 267.
Mbangan (abangan), artinya; wong kang ora nglakoni agama (Ind. Orang yang tidak menjalani agama), ibiden W.J.S. Poerwadarminta  1913, h.l.
Maksudnya, pemberontakan di “Tigang Juru” dengan ibu-kota Lumajang tahun 1316 mendapat prasemon
Malambangan, artinya bahwa; pemberontakan yang menimbulkan; kerusakan, kecelakaan, kesengsaraan dan lain sebagainya itu dilakukan oleh orang-orang yang tidak menjalankan ajaran agama, yang dipimpin oleh Nambi.
Balambangan, terdiri dari kata; “Bala” dan “Mbangan (abangan) Bala, arinya; karosan,  kekuatan atau prajurit kang melu perang.  (Ind; ketahanan, kekuatan atau prajurit yang ikut perang). Ibiden W.J.S. Poerwadarminta 1913, h. 26. Mbangan (abangan); ibiden 1913, h. 1.
Maksudnya, pemberontakan di “Tigang Juru” dengan ibu-kota Lumajang tahun 1316, mendapat prasemon Balambangan, artinya; bahwa pemberontakan yang memiliki ketahanan, kekuatan atau prajurit yang ikut perang itu, dilakukan oleh orang-orang yang tidak menjalankan agama, yang di pimpin oleh Nambi.
Memperhatikan hasil, “othak-athik” sampai “gathuk” prasemon “Malambangan” maupun “Balambangan” yang terdapat dalam “Prasasti Jayanegara I-1316” rupanya Sang Pujangga  Pencipta  Serat Damarwulan cendrung meminjam prasemon Balambangan (salah satu  prasemon dalam Prasasti Jayanegara I) untuk diindentifikasikan dengan Kedaton Wetan/Pamotan yang dipimpin Bhre Wirabhumi yang memberontak pada pemerintahan pusat Kedaton Kulon/Majapahit (Trowulan) yaitu yang dikenal dengan perang Paregreg pada tahun 1401-1406. Artinya, prasemon “Balambangan” dalam “Serat Damarwulan” menyimpan makna tersirat bahwa pemberontakan/perang Parereg, dilakuakn oleh prajurit atau gerombolan orang-orang yang tidak menjalankan agamanya dan dipimpin oleh Menak Jingga Urubisma (Bangsawan brangasan yang menjunjung “menuruti” nafsu kotor yang luar biasa),  karena melanggar hukum menggalang kekuatan mendirikan negara dalam negara.
Dalam “Serat Damarwulan” bukan hanya prasemon Balambangan saja yang dipinjam oleh Sang Empu. Ada beberapa nama pelaku sejarah atau hal tertentu dalam sejarah yang dipinjam dan dimanfaatkan sebagai prasemon dalam karyanya yang adiluhung itu. Antara lain; Rangga Lawe yang hidup dari zaman pemerintahan Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana), karena Rangga Lawe memberontak akhirnya tewas oleh Mahisa Anabrang di Sungai Tambak Beras tahun 1295;  Patih Udara yang hidup pada “zaman renaissance Kediri dalam permulaan abad enam belas”  (Prof. Dr. Slamet Mulyana 1983 h.279): Damarwulan, tokoh ini tercantum dalam ‘Serat Kanda’; Juga nama dinasti  Brawijaya” untuk prasemon anugerah gelar Damarwulan setelah dapat memenggal kepala Menak Jingga Urubisma dan daup dengan Prabhu Kenya Kencanawungu sebagai raja kerajaan Majapahit, dalam Serat Damarwulan.. Pada hal dalam sejarah dinasti “Brawijaya” baru muncul sekitar lima dekade setelah usainya perang Parereg 1406. Seperti: Brawijaya I, Prabhu Kertawijaya (1447-1451);  Brawijaya II, Prabhu Rajasawardhana (1451-1463); Brawijaya III, Prabhu Hyang Purwawisesa (1456-1466); Brawijaya IV, Prabhu Pandansalas (1466-1468); Brawijaya V, Prabhu Kartabumi (1468-1478); Brawijaya VI, Prabhu Udara (1498-1518). (Walisanga, Solihin Salam. 1960 h. 13).
            Pada zaman pemerintahan Sunan Pakubuwana II (1725-1749),  terjadi perpecahan antara bangsawan-bangsawan Mataram yang membuat kekuatan Mataram yang bulat sirna. Melihat  para bangsawan saling bermusuhan berebut pengaruh dan kedudukan serta melibatkan wong cilik sebagai pengikut-pengikutnya dan puluhan ribu yang tewas, karena dipicu oleh campur tangan Kompreni Belanda yang terkenal dengan politik “adu-domba” (devide et impera)-nya dan perang tersebut dikenal dengan nama “Perang Mangkubumi” yang sangat menguntungkan fihak Kompeni Belanda, maka tahun 1748 seorang pujangga sangat sedih dan prihatin ingin memberi  “wewarah”; pengarahan, kritik, nasehat dan sebagainya,  kepada para bangsawan Mataram agar sadar dan bersatu jangan sampai terjerumus dalam perang saudara seperti perang Paregreg pada tahun1406, yang akhirnya kerajaan Majapahit menjadi bertambah suram, maka teciptalah Epos Damarwulan sebagai “Tunggul Manik” (Pangilon) atau kaca-menggala, bagi mereka yang terlibat dalam peperangan di Mataran, dan karyanya itu dikenal  “Serat Damarwulan” dikemas dengan bahasa lambang atau prasemon yang sudah menjadi kelaziman orang dahulu dalam menyampaikan pesan.
            Karena munculnya “Serat Damarwulan” situasi peperangan sudah memanas dan terus berkobar sampai cukup lama lebih dari satu decade dan belum lagi dampaknya, yang antara lain menimbulkan saling; membenci, sakit hati dan dendam, dapat dipastikan karya sastra adiluhung tersebut terbengkelai tidak ada yang membaca. Padahal “Serat Damarwulan” yang dikemas dalam bahasa lambang (prasemon) tersebut, menyimpan makna tersirat memberi “wewarah”; agar para bangsawan yang bertikai; bermusuhan berebut kedudukan dan lain sebagainya, sadar dan bersatu. 
 Dan “Perang Mangkubumi” terus berkobar membara melemahkan Mataram, Belanda mendapat kesempatan untuk mengadu-domba raja-raja atau para sunan untuk menguasai daerah mereka. Artinya, sepertinya sia-sia Sang Empu menciptakan Serat Damarwulan yang bertujuan menyadarkan para bangsawan Mataram untuk waspada dan berprihatin. Sehingga, Kompeni Belanda dapat menempatkan “dirinya” sebagai yang dipertuan oleh raja-raja atau para sunan tersebut karena hak yang mereka terima pada tahun 1749, yang diperkuat lagi oleh perdamaian Gianti dan Salatiga tahun1757.
Pemberontakan Mangkubumi dan Mas Said meninggalkan bekas sejarah:
                        Tahun 1749, Mataram diserahkan kepada V.O.C. tanpa syarat.
                        Tahun 1755; Dalam perdamaian Gianti Mataram dipecah dua.
                        Tahun 1757; Dalam perdamaian Salatiga, Surakarta dipecah dua.
Dan banyaknya kesunanan di eks Kerajaan Mataram yang terlihat hingga dewasa ini, tidak lain merupakan monumen akibat keberhasilan politik “adu domba” (devide et impera) Kompeni yang gencar pada masa itu.
Kiranya beberapa dekade dari tahun 1757, setelah “Perang Mangkubumi” sudah mereda dan Mataram benar-benar sudah dalam cengkeraman VOC, bahkan juga setelah seluruh tanah Jawa jatuh dalam genggaman VOC, termasuk daerah “Tigang Juru” dengan ibu-kotanya Lumajang (eks Karesidenan Besuki) yang pernah diberikan kepada Aria Wiraraja oleh Raden Wijaya pada tahun 1295, Serat Damarwulan mulai ada yang memperhatikan dan dibaca, terutama oleh golongan bangsawan yang menguasai baca-tulis. Dan munculnya kapitalisme-cetak memberikan peranannya dalam proses mempercepat tersebarnya  Serat Damarwulan atau cerita “Damarwulan dan Menakjingga” maupun karya-karya Jawa-Kuna lainnya, terutama pada awal abad XX cerita Damarwulan dan Menakjingga menjadi sangat terkenal, terutama dikalangan masyarakat Jawa-Tengah dan Jawa-Timur. Dan setelah bangsa Indonesia Merdeka semakin meluas di kawasan Nusantara, bahkan kemudian mendunia. Berkat keterkenalan cerita Damarwulan yang sedemikian rupa, nama Balambangan terbawa melambung menjadi termashur pula. Namun celakanya kemashuran nama Balambangan yang  terbawa oleh keterkenalan cerita Damarwulan dan Menakjingga tidak membawa citra wong Banyuwangi menjadi harum semerbak wangi, bahkan sebaliknya menjadi terpuruk bagai membawa bau busuk menjijikan dan selalu dicemo’oh/diolok-olok orang luar, terutama oleh Wong Koelon (Wong Mataram) tempo-doeloe. Bagaimana tidak, pada umumnya orang luar (terutama Wong Koelon) beranggapan bahwa Wong Banyuwangi adalah sisa-sisa Wong Balambangan atau keturunan dari Prabhu Menakjingga Urubisma yang memiliki jimat Wesi-Kuning dan sakti mandraguna. Lebih dari satu abad Wong Banyuwangi tertekan hidup dalam penderitaan bathin karena kemana-mana menerima gossip diindentifikasikan memiliki prilaku jahat seperti yang  melekat pada Prabhu Menakjingga raja Balambangan (dalam “Serat Damarwulan” yang fiktif) yaitu seperti sifat-sifat; tidak mengerti unggah-ungguh dan tatapranatan, brangasan, kasar, serakah, kejam dan sifat-sifat busuk lainnya. Bahkan para perempuan Wong Bayuwangi digosipkan memiliki kegemaran suka berselingkuh dan merebut suami atau lelaki lain, seperti Wahita dan Puyengan kedua istri  Menakjingga yang gatelen dalam Serat Damarulan.
Pada umumnya para pujangga atau penulis zaman dulu, dalam membuat karya sastra menggunakan bahasa Sansekerta atau bahasa Jawa Kuna. Dan bila menyangkut masalah politik atau yang behubungan dengan kekuasaan (pemerintahan), selalu disela-sela penulisan karyanya memanfaatkan prasemon (bahasa lambang), hal itu bisa dimaklumi mengingat umumnya pada zaman kerajaan maupun zaman penjajahan Belanda hal-hal yang berbau politik atau bisa mencemarkan martabat kekuasaan ditindak dengan sewenang-wenang. Disisi lain banyak yang menggunakan nama samaran atau bahkan banyak yang  “nonim” alias tidak diketahui siapa penciptanya.
 Pesan-pesan terselubung demikian biasanya ditujukan pada orang-orang tua atau para pemimpin tertentu yang nalarnya mampu mencerna dan menghayati, kemudian sebagai menerima amanat dari Sang Empu, untuk dijabarkan dalam memberi pengarahan kepada yang dimaksud. Meskipun cerita Damarwulan dan Menakjingga atau Serat Damarwulan dalam menyampaikan visi dan misinya dapat dikatakan gagal, karena dikemas dengan bahasa lambang atau prasemon yang sulit dicerna oleh orang awam, karena pada kemunculannya situasi peperangan sudah memanas sampai kurun waktu yang cukup lama mengakibatkan para orang tua atau para pemimpin tertentu yang mampu menyerap maknanya telah banyak yang meninggal, maka “bagai benang merah yang putus”, akibatnya generasi berikutnya samasekali tidak ada yang bisa memahami makna tersiratnya. Dan walaupun ada yang mampu mencerna makna tersiratnya,  tidak juga berani menyampaikan pesan-pesan tersebut secara terbuka, kareana khawatir terendus oleh lawan dan antek-anteknya.
Namun kenyataannya epos Damarwulan tersebut dapat dikatakan sejak kemunculannya pada tahun 1748 hingga hari ini entah berapa ratus ribu orang yang telah membaca serta entah berapa juta yang mendengar dan sampai kapanpun tetap menarik serta menjadi perhatian, sebagai bukti bahwa Sang Empu Penciptanya benar-benar piawai dalam bidangnya, baik dalam hal prasemon, sejarah, membuat cerita, menyusun kata merangkai kalimat yang apik, menarik dan sebagainya.
Dalam makalahnya berjudul; “Sembah-Sumpah, Politik Bahasa dan Kebudayaan Jawa” Benedict R. Anderson, antara lain menulis: “Walaupun beberapa naskah terus-menerus diturun dan dipelajari, namun sastra kuna tersebut pada umumnya tetap tak tersentuh, baik secara lingustik maupun secara fisik, bagi bangsa Jawa abad ke-19. (Prisma 11, November 1982, halaman 76).
Apa yang dimaksud tersebut diatas, pasti termasuk karya sastra kuna baik berupa naskah, babad, tembang atau gending dan lain sebagainya yang dikemas dengan bahasa lambang yang hingga dewasa ini masih cukup banyak tetap tak tersentuh dan tidak ada yang mampu mencerna. Tentu, termasuk Serat Damarwulan atau cerita Damarwulan dan Menakjingga. Apalagi gending-gending klasik gandrung yang wajib didendangkan dalam setiap pagelaran kesenian gandrung Banyuwangi yang lirik-liriknya juga tersusun dalam prasemon yang sangat sulit bisa dipahami oleh kebanyakan orang awam.  
Selanjutnya  halaman 78, Benedict R Anderson menulis: “Memang, sepanjang pengetahuanku yang terbatas, tidak ada sebuah pun naskah Jawa dari abad pra-ke-20 yang menentang Belanda secara fundamental!”
Mungkin pendapat tersebut ada benarnya bila yang dimaksud karya sastra kuna yang ditulis dengan bahasa tersurat/harfiah, tetapi yang di kemas dengan bahasa lambang (prasemon) cukup banyak yang menentang Belanda secara fundamental. Bahkan Serat Damarwulan pun merupakan karya sastra yang menyimpan makna tersirat menentang politik “devide et impera” Kompeni Belanda, artinya menentang Belanda secara fundamental.pada zamannya.
Yang mujur adalah gending-gending kuna Banyuwangi yang juga dikemas dalam bahasa lambang atau prasemon, visi dan misinya mencapai hasil gemilang dalam upaya menyelamatkan sisa-sisa rakyat Balambangan (dewasa ini Kabupaten Banyuwangi), berkat gending-gending kuna tersebut harus dibawa dalam setiap pagelaran kesenian gandrung. Menurut para sesepuh kesenian gandrung  awalnya dilakukan oleh kaum pria dengan membawa peralatan musik perkusi berupa kendang dan beberapa rebana, setiap hari mereka keliling mendatangi tempat-tempat yang dihuni sisa-sisa rakyat Balambangan di kampung-kampung, di pedalaman bahkan  mendatangi mereka yang melarikan diri berlindung dari kejaran Kompeni dan antek-aneknya. Selain memberi hiburan berupa peragaan tarian, peragaan pecak silat serta mendendangkan gending-gending yang di padati saran dan nasehat, juga membagi bantuan yang dikumpulkan  dari penduduk yang mampu. Mengenai kisah munculnya kesenian gandrung Banyuwangi yang dimanfaatkan sebagai sarana perjuangan, awalnya sebagai berikut;
Setelah mendengar dari telik sandi, bahwa Gusti Ketut Ngurah wakil raja Mengwi yang memerintah Balambangan mengadakan hubungan dengan pedagang  Inggris, Kompeni kebakaran jenggot. Karena takut kalau pengaruh Inggris semakin kuat di Balambangan yang menjadi vasal kerajaan Mengwi, maka Kompeni memutuskan Balambangan harus diserbu dan direbut dari kekuasaan Mengwi.
            Pada tanggal 25 Februari 1767, ekspedisi Kompeni berkumpul di pelabuhan Kwanyar (Madura). Semua kapal yang ada dikumpulkan untuk melawan armada Inggris yang tidak ditakuti oleh ekspedisi itu. Jalan-jalan masuk dari selatan Bali diblokir; Penyebrangan ke Penarukan; di Penarukan dibangun sebuah benteng, juga di Probolinggo mendapat penempatan pasukan kecil yang menetap. Distrik-distrik di bagian utara menyerah. Sebagian dari armada ekspedisi tersebut berlayar langsung ke Bayu Alit. (Blambangan Indische Gids II, C. Lekkerkerker 1923, h.1048).
            Pada tanggal 11 Maret 1767, pasukan inti dibawah komandan dari Semarang yaitu Erdwyn Blanked dan yang dari Pasuruan yaitu Casper Lodewyk Troponegro, dimana terdapat 2000 orang Madura, bergerak melalui darat sepanjang pantai. Hanya di Prajekan bagian terdepan dari iring-iringan pasukan tersebut diserang dari samping oleh pasukan-pasukan dari bupati Kartanagara dari Lumajang., yang juga merisaukan pasukan kecil yang menetap di Probolinggo dan yang menutup jalan-jalan yang menuju ke Probolinggo.(ibiden C. Lekkerker 1923, h. 1049).
            Sehubungan penyerbuan Kompeni tersebut di Blambangan terus-menerus terjadi perlawanan terhadap Kompeni dan sampai berakhirnya pertempuran dahsyat di Bayu yang diserbu dan dihancur musnahkan oleh Kompeni pada tangaal 11 Oktober 1772. konon rakyat Blambangan yang tewas lebih dari 60.000 jiwa dan sisanya tinggal sekitar 5000 jiwa, hidup terpencar dihutan-hutan dan  banyak yang tidak mau kembali ke desanya masing-masing. Hal ini disinggung oleh  C. Lekerkerker sebagai berikut:
            Sampai tanggal 7 Nopember 1772, 2505 orang lelaki dan perempuan telah menyerahkan diri mereka. Van Wikkerman mengatakan bahwa Schophoff telah menyuruh menenggelamkan orang-orang lelaki yang dituduh telah mengobarkan amuk dan yang telah memakan dagingnya dari mayatnya Van Schaar, juga dikatakan bahwa orang-orang Madura telah merebut para wanita dan anak-anak sebagai hasil perang. Sebagian dari mereka yang melarikan diri ke dalam hutan telah meninggal karena kesengsaraan yang dialami mereka, sehingga baunya udara yang disebabkan oleh mayat-mayat yang membusuk mengganggu sampai jarak yang jauh. Yang lainnya menetap di hutan-hutan dari Pucang Kerep, Kali Agung, Petang dan mereka bersikap keras untuk menetap dihutan.. (ibiden; C. Lekkerkerker  h. 1060)
Setelah Bayu dapat ditaklukkan dan dihancurkan, bupati Balambangan yaitu, Jaksanagara ditangkap dan dibuang ke Selong Dan untuk mencari penggantinya Kompeni kesulitan  mengingat bangsawan yang patut diangkat sebagai bupati tidak ada, karena para bangsawan banyak yang telah; tewas, dibunuh, di selong (buang) atau melarikan diri.
Kemudian atas informasi dan usul salah seorang patih Blambangan, bahwa seorang pemuda keturunan Pangeran Tawang Alun  yang patut diangkat sebagai Bupati ada di Bangkalan ialah Mas Alit, adik dari Mas Ayu Nawangsari istri  Pangeran Danuningrat   yang dihukum mati oleh raja Mengwi di pesisir Seseh Bali tahun 1764. Sewaktu Kompeni merebut Blambangn yang dibantu oleh Mataram dan Madura pada tahun 1767 Mas Ayu Nawangsari bersama kedua adiknya yaitu Mas Alit dan Mas Latip diboyong oleh Panembahan Rasamala (Panembahan Cakra Adiningrat VI yang memerintah atas Bangkalan dari 1770-1780).  Mas Alit dilantik sebagai bupati  tanggal 1 Februari 1774 di Lopangpang (Ulu Pangpang).. Berkat membantu kesulitan Kompeni menemukan calon bupati tersebut, patih Blambangan bersangkutan dikenal dengan prasemon; “Ki Juru Kunci” (orang yang dapat membuka menemuka kesulitan).
Berhubung Lopangpang udaranya kurang sehat, sebelum dilantik Mas Alit mengusulkan membangun ibukota yang baru. Kompeni setuju dengan menawarkan 3 tempat, yaitu; tetap di Lopangpang, Kotta atau di Pakusiram.. Yang dimaksud Kotta,  ialah Benculuk. Adapun Pakusiram, terletak disebelah timur desa Lateng Rogojampi. Mas Alit mengusulkan lebih baik membabad hutan “Tirta-arum” di daerah sebelah utara. Setelah Kompeni mengadakan penelitian, setuju, namun Kompeni terlebih dahulu memilih tempat untuk membangun benteng. Mas Alit bolih memilih tempat untuk membangun paseban atau tempat tinggalnya, asal tidak lebih dari jangkauan tembakan meriam dari tempat dibangunnya benteng. Setelah selesai benteng tersebut dikenal dengan nama “Utrech”. .Konon menurut cerita tutur munculnya gandrung lanang bersamaan dengan dibabadnya hutan “Tirta-arum”.  Pada tahun 1776, setelah dua tahun  pembabatan hutan, ibukota yang baru pengganti Lopangpang selesai dibangun dan diberi nama Banyuwangi sesuai dengan konotasi dari nama hutan yang dibabad; (Tirta arum).
            Berhasilnya visi dan misi pejuangan “menyelamatkan sisa-sisa rakyat Blambangan bagian timur (dewasa ini Kabupaten Banyuwangi) yang di program dalam gending-gending wajib yang harus dibawa dalam pagelaran kesenian gandrung serta dikemas dalam bahasa lambang, karena sisa-sisa rakyat yang tinggal sekitar 5000 jiwa tersebut yang hidup terpencar dihutan-hutan terdiri dari para manula, para perempuan yang trauma serta sebagian besar terdiri dari anak-anak yang sudah kehilangan orang tuanya. Dan berkat adanya manula yang masih hidup dan yang dapat mencerna makna tersirat dari gending-gending prasemon yang didendangkan gandrung, selanjutnya dijabarkan dalam memberi pengarahan kepada sisa-sisa rakyat yang ada. Jumlah gending-gending klasik yang harus dibawa dalam pagelaran kesenian gandrung sebanyak enam gending, masing-masing berjudul: Padha Nonton 8 bait; Seblang Lokinta 2 bait; Sekar Jenang 4 bait;  Kembang Pepe 3 bait; Sondreng-Sondreng 3 bait; Kembang Dirma 2 bait; dan setiap baitnya 4 lirik. Selain itu gandrung membawa puluhanan gending yang dipadati “basanan” (pantun) yang maknanya mudah dicerna oleh orang awam.
Seperti Serat Damarwulan, gending-gending gandrung yang disajikan dalam bentuk prasemon sangat sulit dicerna oleh orang awam dan hingga dewasa ini tidak seorangpun Wong Banyuwangi bisa menangkap  maknanya. Serta tidak seorang ilmuwan pun yang memperhatikan serta tertarik untuk menjabarkan walaupun kesenian yang satu ini telah acapkali ditinjau, diteliti, ditulis dan lain sebagainya.
Hal itu tidak lain dapat dipastikan yang meninjau atau para peneliti baik dari kalangan ilmuwan maupun yang lainnya, tidak mempunyai wawasan tentang bahasa lambang atau yang lazim disebut pasemon (prasemon). Sebagai contoh dibawah ini saya sajikan salah satu gending klasik gandrung Banyuwangi yang berjudul;   “Kembamg Pepe”:

                                    Kembang  pepe                                                           
                                    Merambat ring kayu arum
                                    Sang aruma membat mayun
                                    Sang pepe ngajak lunga

                                    Ngajak lunga
                                    Mbok penganten kariya dalu
                                    Ngenjot-ngenjot lakune
                                    Baliya ngeluru lare

                                    Lare dakon
                                    Turokno ring perahu
                                    Perahune bana cinde
                                    Kang kumendung welangsani

Alih bahasa Indonesia:

                                    Bunga diterik mentari
                                    Merayap di kayu harum
                                    Yang diharumkan di ayun-ayun
                                    Sang pepe mengajak pergi

                                    Mengajak pergi
Mbakyu penganten di larut malam
Cepat-cepatlah melangkah
Kembalilah memungut bocah

Anak congklak
Tidurkan di perahu
Perahunya bana cindai
Yang mempersona mengagumkan

 Dan mengenai penjabarannya untuk mengungkap makna filosofisnya yang tak ternilai akan saya sajikan dalam kesempatan yang lain. Disisi lain kesenian gandrung juga selalu membawa prasemon dalam bentuk “logo” (simbul) perjuangan berupa seni rupa “Naga berkepala “satria” Gatutkaca” (Daya Naga nalar “satriya” Gatutkaca). Walaupun Naga dan  Gatutkaca itu fiktif, bersifat fiksi; namun dalam khayalan memiliki potensi luar biasa, sebagai yang di citakan dalam menyongsong  masa depan.  Demikianlah maunya Sang Empu penggagas kesenian gandrung,, harapannya agar sisa-sisa rakyat yang tinggal sekitar 5000 jiwa setelah dibantai habis-habisan sejak penyerbuan Kompeni merebut Blambangan  dari kekuasaan Mengwi  pada 25 Februari 1767  sampai hancurnya Bayu 11 Oktober 1772 dan dilantiknya Mas Alit sebagai Bupati 2 Februari 1774, mampu menggeliat bangkit berjuang dengan motto; “Daya Naga nalar Satria”, dari manusia yang  terhina, kehilangan martabat dan harga diri serta kehilangan segala-galanya, agar kenbali bangkit menjadi manusia yang mandiri dan bermartabat; yang kemudian disebut atau dikenal sebagai Wong Osing.
Berkat termashurnya cerita Damarwulan & Menakjingga, maka nama Balambangan pun terbawa menjadi sangat terkenal pula, sehingga banyak para sarjana asing (Belanda) tertarik. Nengenai arti dan asal-muasalnya, antara lain  Dr. J. W. de  Stoppelaar menulis sebagai berikut:
            Tentang arti dan asalnya nama Balambangan terdapat beberapa pendapat tetapi yang tidak semuanya memuaskan.
Encyclopaidia dari Nederlandsch Indis, cetakan ke 2, memberi satu berdasarkan buku-kamus Bali dari Van der Tuuk. Menurut sumber keterangan ini kata tersebut kiranya suatu ubahan dari kata “lambwang” yang masih dipakai di Banyuwangi (bahasa Jawa biasa, dan bahasa Melayu lambung) = bagian pinggiran, dan seharusnya berbunyi Kalambangan. Bagaimana huruf mula K berobah menjadi B dan huruf w dibelakang b menghilang tidak diterangkan lebih lanjut.
Untuk mengukur kebenaran dari pendapat ini dikemukakan, bahwa didalam berkas-berkas Kompeni selalu ditulis namanya Balamboang (han).
Tetapi sementara ejaan “Balambanghan “ juga muncul, sedangkan lainnya lagi juga menulis “Baliboangh”, “Balibang” atau Balamboan
Hubungannya dicari antara artinya “daerah pinggiran “Tanah perbatasan” dan namanya “Pinggir” yang diberikan pada satu suku (?) didaerah kerajaan; menurut Veth; 0rang-orang ini adalah keturunan dari orang-orang Balambangan yang pernah diangkuti sebagai tawanan perang oleh Mataram.
            Dugaan bukti tampilnya Blambangan pada masa Majapahit, menurut para penulis dan peneliti sejarah dapat ditunjang dengan kakawin Nagarakretagama karya Prapanca pada tahun Saka 1287 = 1365 Masehi. (Pigeaud, 1960a:73), tepatnya pada tanggal 30 September 1365 M. (Damais, 1938: 228). Dalam pupuh 28 Atijagapati (?), bait 1, larik 3, disebutkan nama tempat Balumbung (Pigeaud, 1960a: 21) yang diterjemahkan Balumbungan (Pigeaud, 1960c: 31) dan ditafsirkan Blambangan (Pigeaud, 1962d : 22-23) demikian dan sebagainya.
Upaya-upaya yang demikian tidak terlepas dari pengaruh Serat Damarwulan yang sedemikian kuat, bahwa kerajaan Balambangan itu ada pada masa berdirinjya kerajaan  Majapahit. Padahal kerajaan Balambangan yang diceritakan dalam Serat Damarwulan hanya  merupakan  lambang atau prasemon.sebagai sindiran pada Pamotan (Kedhaton Wetan) yang memberontak pada Kredhaton Kulon (Majapahit) yang dikenal dengan perang Paregreg 1401-1406.

4. RANGGALAWE (Dalam Serat Damarwulan).
           Ranggalawe dalam sejarah Majapahit bukan nama pribadi. Nama itu anugerah dari Raden Wijaya, sebagai mana telah dijelaskan dalam “Lembaran Kebudayaan” Nomor: 02 Bulan Juli 2009, dalam tulisan berjudul; “Mengungkap Prasemon (Lambang) Pelaku Sejarah, Babad, Cerita Rakyat, oleh; Fatrah Abal, h. 55-56.
            Nama yang dianugerahkan Raden Wijaya kepada putra Aria Wiraraja itu ialah “Lawe”.  Yang dimaksud  dengan  “lawe” yaitu; “benang”  Kata benang ini lalu dicarikan kata sehari-hari yang hampir serupa, pilihannya pada kata “wenang” (wewenang). Dan yang bersangkutan diberi pangkat “rangga”. Demikian ia dikenal sebagai Rangga Lawe.(Rangga yang diberi Wenang atau Wewenang). Peristiwa itu dituturkan dengan jelas dalam Panjiwijayakrama. Bila diamati, nama yang dianugerahkan Raden Wijaya kepada putra Aria Wiraraja itu menyimpan unsur sastra “Wangsalan” yang sangat membudaya bagi  masyarakat Jawa maupun masyarakat, Madura, Sunda,  Banyuwangen dan masyarakat daerah lain di kawasan Nusantara.
            Hampir dapat dipastikan, apa lagi tempo-dulu, orang Jawa bila bertemu saudara atau kawannya yang telah lama tidak bersua, pasti salah seorang diantaranya  akan mengucapkan “Lo, kok njanur gunung?” Mestinya yang diucapkan “Lo, kok kadingaren?” Bagaimana bisa demikian? Itulah istimewanya sastra (lesan); wangsalan, tinggalan leluhur kita. Namun sayang, generasi sekarang sudah banyak yang mengbaikan dan dianggap kuna dan ketinggalan zaman. Lain dengan bangsa Jepang yang moderen dan top kemajuan tekniknya dan industri, namun sangat menghormati dan kokoh mempertahankan dan memelihara budaya keluhurnya.                       
“Njanur gunung” yang dimaksud ialah janur yang ada didaerah pegunungan, terdapat pada pohon “aren”. Kata “aren” itu lalu dicarikan kata sehari-hari yang ada “aren”-nya. Pilihannya pada kata “kading-aren” atau “ding-aren”.
Sewaktu saya masih anak-anak sebelum zaman pendudukan Jepang, setelah solat “idul fithri”  biasanya lalu bersalam-salaman, kepada; orang tua, saudara, kerabat, tetangga dan semua sahabat atau kenalan. Khusus kepada kawan sebaya dan sepermainan di kampung, yang diucapkan pada waktu bersalaman; “Minal ‘aidin wal faizin, kreta wesi-ne hang akeh”. Arti dari kata “kreta wesi” (Kereta Besi) dalam wangsalan yang disertakan ialah “sepur” (Kereta Api), padanan katanya “sepur-o” (Ind. Maaf-kan). Jadi wangsalan yang disertakan “Kreta wesi-ne hang akeh” artinya; “Njaluk sepurane hang akeh” (Ind. Minta maaf yang banyak). .Di Banyuwangi sastra wangsalan tak terhitung banyaknya yang dimanfaatkan dalam sela-sela percakapan sehari-hari. Bahkan orang-orang tua masih banyak yang spontanitas dapat membuat wangsalan maupun basanan (semacam pantun) yang dilontarkan pada lawan bicaranya disela-sela percakapan sehari-harinya.
Dalam prakteknya, wangsalan dan basanan, maupun pribahasa karema sudah sangat membudaya, yang diucapkan pada lawan bicaranya cukup; sebaris atau dua baris dari kata tumpuannya. Sedang sebaris atau dua baris kata berikutnya yang memberi keterangan, lawan bicara atau pendengarnya pada umumnya sudah bisa menangkap maksudnya. Seperti ucapan; “Kreta wesine hang akeh” tersebut diatas, yang diajak salaman sudah mengerti apa yang dimaksud. Karena cara penggunaannya seperti itu, cukup banyak basanan maupun wangsalan (pantun) sepopuler pantun “Darimana datangnya lintah, dari sawah turun ke kali”. Sehingga walaupun sebaris atau dua baris dari kata tumpuannya yang diucapkan, pendengarnya sudah tanggap bagaimana baris berikutnya yang memberi keterangan.
Nama Ranggalawe  dalam Serat Damarwulan bukan merupakan unsur sastra “wangsalan” seperti nama Ranggalawe dalam sejarah awal berdirinya kerajaan Majapahit. Namun dalam Serat Damarwulan, nama Ranggalawe dipinjam dan dimanfaatkan sebagai lambang atau prasemon. Kalau dalam sejarah, tokoh Ranggalawe berkat jasanya yang besar membantu perjuangan Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit mendapat penghargaan kedudukan yang tinggi dalam pemerintahan sebagai Rakian mantri Nusantara dan merangkap sebagai penguasa daerah pesisir bagian utara kerajaan Majapahit dan berkedudukan di Tuban serta mempunyai seorang putra yaitu Kuda Anjampiani. Dalam Serat Damarwuilan Ranggalawe sebagai Adipati Tuban, dan diangkat sebagai Senapati atau Panglima Perang yang andal oleh Prabhu Kenya Kencanawungu raja Majapahit untuk menghadapi dan menumpas pemberontakan  Prabhu Menakjingga Urubisma, serta mempunyai dua orang putra yaitu Buntaran dan Watangan yang juga dimanfaatkan sebagai prasemon. Ternyata Ranggalawe yang diandalkan oleh Prabhu Kenya Kencanawungu pun tewas dimedan perang tak mampu menghadapai kedigdayaan Prabhu Menakjingga Urubisma yang sakti mandraguna berkat memiliki zimat gada wesi kuning.
Untuk dapat mengetahui makna tersirat lambang atau prasemon Ranggalawe, Buntaram dan Watangan, maupun jimat Gada Wesi Kuning dalam Serat Damarwulan hanya ada satu teori yang bisa ditempuh, walaupun tampaknya sepele, yaitu yang disebut; meng-“othak-athik” sampai diketemukan- “gathuk”-annya yang pas, tidak asal gathuk alias ngawur.
Karena kelajiman orang dahulu memberikan sesuatu secara lambang, niscaya logis pula bila orang menerimanya dengan segala ketajaman daya tangkap rasa dan pikiran (Jw. “daya tanggaping graita). Materi yang dihadapi di-“othak-athik” sampai “gathuk”, hingga akhirnya siratan dibalik ulah yang di luar nampak “innocent” itu terungkap.
Pada hakikatnya “othak-athik gathuk”,  yang spekulatif sifatnya itu, artinya yang positif yalah “membanding-memadu-mengurai-menyimpulkan” (Ingg = to compare-combine-analyse-deduce). Materi yang di-“banding-padu-urai-simpul”-kan itu adalah buah fantasi orang yang disebut lambang, prasemon dan sebagainya Maka wajarlah kiranya dalam menanggapi hasil-hasil karya sastra mereka, kita pun harus menempatkan diri dalam alam fantasi mereka dan menggunakan cara-cara berpikir mereka. Cara yang sama kita terapkan terhadap epos Damarwulan (Soenarto Timoer 1980 : 20 - 21).
Adapun “Ranggalawe”, terdiri dari kata “rangga” dan “lawe”. Karena dimanfaatkan sebagai lambang atau prasemon maka perlu di-“othak-athik” sampai “gathuk” sebagai berikut:
            Rangga, artinya; nama jabatan (pejabat atau para pejabat). Lawe, artinya; benang, umumnya berwarna putih, juga berfungsi sebagai tali (= sperma; berwarna putih, yang  juga berfungsi sebagai memiliki hubungan tali kekeluargaan, seperti; kakek/nenek, bapak/ibu, anak, cucu, buyut, dan sebagainya).
Dalam Serat Damarwulan; Ranggalawe diangkat sebagai “Panglima Perang” oleh Prabhu Kenya Kencanawungu raja Majapahit, untuk memimpin perang menghadapi Prabhu Menakjingga Urubisma raja Balambangan yang memberontak. Artinya bahwa mereka yang berperang dalam Serat Damarwulan antara Prabhu Kenya Kencanawungu dan Prabhu Menak Jingga Urubisma, tidak lain para rangga (pejabat kerajaan) yang masih mempunyai hubungan “lawe” atau “sperma”  (hubungan darah atau hubungan kekeluargaan). Artinya masih keluarga kerajaan (Majapahit) sendiri.. Akhirnya Rangga Lawe yang Panglima Perang itu, tewas. (Maksudnya; Rangga “para pejabat” yang Lawe “keluaga sendiri” itu, banyak yang tewas). Benarkah peperangan yang disinggung dalam “Serat Damarwulan” antara “Prabhu Kenya Kencanawungu” (prasemon untuk Wikramawardhana raja Majapahit) dan “Prabhu Menakjangga Urubisma” (prasemon untuk Bhre Wirabhumi) yang dikenal dengan perang Paregreg dalam sejarah Majapahit itu masih merupakan kerabat sendiri? Untuk membuktikan hal tersebut perlu mengetahui “Alur Kekeluargaan Rajadiraja Majapahit” sebagai berikut:
             Menurut Pararaton sehabis perang Bubat Sri Rajasanegara kawin dengan Padukoa Sori, keturunan  Sri Wijayarajasa dari Wengker. Dalam Nagarakretagama dikatakan bahwa permaisuri Sri Rajasanegara bernama Susumnadewi atau Sri Sudewi. Jadi Sri Sudewi dalam Nagarakretagama sama dengan Paduka Sori dalam Pararaton. Dari perkawinan itu lahir Kusumawardhani, yang kemudian dinobatkan sebagai Bhatara di Lasem dengan paraban Bhre Lasem Sang Ahayu. Dari selir Sri Rajasanagara mendapat seorang putra yang kemudian dikenal sebagai Bhatara di Wirabhumi.
            Bhre Daha Dyah Wiyat Sri Rajadewi Maharajasa dalam perkawinannya dengan Sri Wijayarajasa dari Wengker mendapatkan seorang putri bernama Rajasaduhita Indudewi. Rajasaduhita Indudewi kemudian dinobatkan sebagai Bhatara di Lasem dan kawin dengan Rajasawardhana dari Matahun. Perkawinan itu tidak menghasilkan keturunan. Sepeninggal Bhre Daha Dyah Wiyat Sri Rajadewi pada tahun 1371, Bhre Lasem Rajasaduhita kembali ke Daha untuk mengisi tahta Kerajaan Daha. Oleh karena ia tidak mempunyai keturunan, maka ia mengambil Bhre Wirabhumi sebagai putra angkat.
            Bhre Pajang, adik Dyah Hayam Wuruk, dalam perkawinan dengan Sri Singawardhana, Bhatara di Paguhan, memperoleh beberapa putra. Putra sulungnya bernama Wikramawardhana, menjadi bhatara di Mataram. Ia kawin dengan putri tunggal Sri Rajasanagara yang bernama Kusumawardhani. Demikianlah Wikramawardhana dan Kusumawardhani adalah saudara sepupu. Bhre Pajang mempunyai lagi seorang putra perempuan bernama Nagarawardhani, juga disebut Bhre Lasem Sang Alemu. Ia kawin dengan Bhre Wirabhumi putra Sri Rajasanagara.
            Pada tahun 1371 tahta Kerajaan Lasem kosong, lalu diisi oleh Kusumawardhani. Itulah sebabnya maka Kusumawardhani bergelar Bhre Lasem Sang Ahayu, untuk membedakannya dari Bhre Lasem Sang Alemu. Baru setelah Kusumawardhani pindah ke Kabalan sebagai bhatara, maka Nagharawardhani menjadi Bhatara di Lasem dengan julukan Bhre Lasem Sang Alemu Putri bungsu Bhre Pajang menjadi Bathara di Kahuripan. Bhre Kahuripan ini kawin dengan Raden Sumirat, putra Rakai i Hino di Majapahit Raden Sotor. Raden Sumirat kemudian menjadi Bhatara di Pandan Salas dan bergelar Bhre Pandan Salas. Ia adalah Bhre Pandan Salas yang pertama. Bhe Pandan Salas I manghat pada tahun 1400 dan dicandikan di Jinggan. Nama candinya Sri Wisnupura.
            Sepeninggal Sri Rajasanagara pada tahun 1389, Bhre Mataram Wikramawardhana menjadi raja Majapahit, menggantikan Sri Rajasanagara berkat perkawinannya dengan Kusumawardhani. Dari perkawinan Wikramawardhana dengan Kusumawardhani lahir Hyang Wekasing Suka. Ia mengambil nama abhiseka neneknya Sri Rajasanagara. Ia mangkat pada tahun 1400 mendahului ayahnya, sehingga ia tidak pernah menjadi raja Majapahit. Putra-putra Wikramawardhana dari selir yang silih berganti menduduki tahta Kerajaan Majapahit.
            Demikian secara singkat hubungan kekeluargaan rajadi-raja Majapahit pada zaman pemerintahan Sri Rajasanagara. Tokoh-tokoh yang tersebut di atas ikut serta menetapkan jalannya sejarah Majapahit (Prof Dr. Selamet Muljana 1983, h. 206-207).
            Untuk lebih meyakinkan bahwa perang yang disinggung dalam Serat Damarwulan  benar-benar merupakan perang saudara, antara para kerabat pejabat kerajaan  Majapahit, Sang Empu menambah prasemon “Buntaran” dan “Watangan” yaitu kedua putra Ranggalawe yang diangkat sebagai Panglima Perang Majapahit oleh Prabhu Kenya Kencanawungu dalam Serat Damarwulan.
            Lalu apa makna prasemon Buntaran dan Watangan?  Pada zaman dulu tombak merupan piranti perang yang dominan. Pada umumnya mata tombak disangga dengan gagang (tongkat) yang panjangnya antara dua sampai tiga meter. Gagang penyangga mata tombak sebagian disebelah atas disebut “buntaran”, dan sebagain disebelah bawah disebut “watangan”. Artinya yang menyangga mata tombak ialah “buntaran” dan “watangan”.  Berhubung tombak merupakan alat pembunuh untuk menghabisi musuh di medan perang pada zaman itu, kiranya prasemon “buntaran” dan “watangan” menyimpan makna bahwa yang menyangga “mata tombak” (api peperangan) untuk saling membunuh dalam perang “paregreg” masih saudara dekat dari kalangan bangsawan yang berdarah biru dan tentu saja masing-masing fihak melibatkan ribuan Wong Cilik alias rakyat biasa yang banyak menjadi korban baik jiwa maupun harta benda.
            Karena begitu hebatnya pengaruh “Serat Damarwulan” sehingga mampu mengobok-obok serta memutar-balikkan tentang banyak hal mengenai fakta sejarat, terutama bagi orang awam.yang menyerap Serat Damarwulan secara harfiah. Contoh yang sederhana, coba tanyakan pada setiap orang, siapa Ranggalawe itu? Pasti lebih banyak yang menjawab bahwa Ranggalawe adalah Bupati Tuban dan tewas oleh Menakjingga raja Balambangan. Jarang yang menjawab, sesuai dengan catatan sejarah bahwa; Ranggalawe adalah Rakrian Mantri Nusantara Majapahit, tewas ditangan Mahaisa Anabrang. Dan hingga sekarang cukup banyak yang percaya bahwa tokoh-tokoh dalam cerita Damarwulan itu benar-benar ada pada zaman dahulu.
            Memperhatikan makna simbolis; prasemon “Rangggalawe” diperkuat prasemon “Buntaran dan Watangan” dalam Serat Damarwulan, merupakan penjelasan,  bahwa yang terlibat dalam perang Paregreg 1401-1406, bahwa yang terlibat dalam peperangan adalah benar-benar  keluarga kerajaan Majapahit sendiri,  yaitu antara kerajaan bawahan Majapahit di Pamotan yang dipimpin oleh Bhre Wirabhumi, yang memberontak melawan pemerintahan pusat Majapahit di Trowulan yang dipimpin oleh raja Wikramawardhana. Jadi yang terlibat tidak ada wadiyabala dari kerajaan lain, apakah itu dari kerajaan Belambangan atau dari kerajaan manapun.. Sebab nama kerajaan “Belambangan” dalam Serat Damarwulan hanyalah lambang atau prasemon, sindiran buat kebhataraan (negara bawahan) Majapahit di Pamotan yang memberontak. Dengan demikian, hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pada saat  Sang Pujangga menciptakan karyanya Serat Damarwulan tahun 1748, yang namanya kerajaan Balambangan itu tidak ada dalam sejarah maupun dalam Sejarah Majapahit, kecuali kata-lambang (prasemon) yaitu “Balambangan” yang tercantum dalam “Prasasti Jayanegara I - 1316” yang dikeluarkan oleh raja Jayanegara setelah pemberontakan Nambi di Lumajang dapat ditumpas.

5. PATIH  LOGENDER
            Banyak yang berpendapat bahwa perang yang digambarkan dalam cerita  Damarwulan dan Menakjingga adalah peristiwa sejarah perang Paregreg (1401-1406} antara Kedhaton Kulon {Majapahit) dan Kedhaton Wetan (Pamotan} yaitu kerajaan bawahan Majapahit yang ibu-kotanya terletak disebelah barat sungai Porong, namun  dalam Serat Damarwulan tersebut dipaparkan bahwa yang berperang adalah kerajaan Majapahit dengan rajanya Prabhu Kenya Kencanawungu dan patihnya bernama Logender, melawan pembeontakan kerajaan Belambagan yang dipimpin oleh rajanya Prabhu Menak Jingga Urubisma.dengan kedua patihnya bernama Angkat Buta dan Ongkot Buta.                                               berpendapat demikian bukan hanya orang awam saja, serta tidak sedikit dari kalangan ilmuwan yang percaya, namun hingga hari ini dari sekian banyak yang meninjau Serat Damarwulan (cerita Damarwulan dan Menakjingga) dari segi sejarah, hasilnya selalu tidak memuaskan.
Bahkan Prof. Dr. Slamet Muljana, dalam karyanya berjudul “Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit” 1983, h 142, antara lain menulis; “Sepanjang pengetahuan saya di antara Patih Majapahit tidak ada yang bernama Logender”.
            Tentu saja apa yang diutarakan oleh Prof. Dr. Slamert Muljana tersebut benar, seperti nama-nama Prabhu Kenya Kencana Wungu, Prabhu Menak Jingga Urubisma, Wahito, Puyengan, dan lainnya sebagainya itupun tidak ada dalam sejarah dan nama-nama itu merupakan prasemon (lambang) yang mempunyai makna simbolis. Memang ada nama-nama yang tercatat dalam sejarah yang dipinjam dalam Serat Damarwulan juga dimanfaatkan sebagai prasemon atau lambang, seperti: Balambangan, Ranggalawe, Patih Udara, Brawijaya dan nama Damarwulan yang tertulis dalam Serat Kanda-pun dipinjam dalam Serat Damarwulan yang juga dimanfaatkan sebagai prasemon (lambang). Dengan demikian, kesimpulannya bahwa yang bersangkutan tidak memahami bahwa semua tokoh-tokoh pelaku dan sebagainya dalam Serat Damarwulan tersebut merupakan prasemon (lambang). Sehingga bilam ingin mengetahui siapa atau apa yang dimaksud dengan Patih Logender, tidak bisa dengan diindentifikasikan dengan tokoh-tokoh patih pelaku sejarah Majapahit, pasti hasilnya tidak memuaskan. Dan untuk mendapatkan jawabannya maka perlu di othak- athik sampai gatrhuk, sebagaimna dilakukan orang Jawa pada jaman dulu.

            Logender, ialah rangkaian dari dua kata, yaitu; “lo” dan “gender”. Kata “lo” merupakan kata seru yang acap kali digunakan dalam percakapan orang Jawa, antara lain contohnya sebagai berikut; Lo melayu?!  (Kok berlari?!).
Memperhatikan kata: Lo melayu?! (Kok lari?!), terasa adanya suatu penyesalan yang ditanyakan. Yang mestinya tidak berlari, dan seharusnya harus berhenti, sehingga tidak terjadi hal-hal seperti; ………………….?
Demikian juga dengan kata Lo gender!?




Adapun yang disebut “gender” ialah alat musik perkusi Jawa yang bila dimainkan suaranya lemah dan datar (mrengengeng).
Semula saya berfikir mengapa “gender’ yang suaranya datar dan lemah dalam Serat Damarwulan digunakan untuk lambang nama  Patih yang mempunyai kedudukan tinggi dalam pemerintahan? Mengapa misalnya tidak diberi prasemon; Lo suling (seruling), yang suaranya meliak-liuk bisa naik tinggi dan seketika bisa menukik dengan tajam  yang dpat membuat pendengarnya terpana; atau “Lo Kendang”, yang suarnya menghentak-hentak sedemikian rupa  dapat memicu semangat; atau “Lo gong” yang suaranya menggelegar dan dapat mendebarkanjantung, dan lain sebagainya.





Sewaktu saya tanyakan pada pakar alat musik Jawa menerangkan, dalam seperangkat alat musik Jawa yang terdiri  bermacam-macam alat musik, terdapat alat musik yang disebut gender. Gender dalam perangkat alat musik Jawa konon mempunyai kedudukan penting walaupun suaranya datar dan lemah, namun punya fungsi menentukan seperti membawa lagu, menuntun atau mendahului peralatan musik lainnya bahkan memberi tanda atau aba-aba mengenai gending apa yang dimainkan.
            Kalau raja Majapahit mendapat prasemon Prabhu Kenya Kencanawungu, yang menyimpan makna; Raja dan pemerintahannya yang lemah sehingga membuat tahtanya suram, demikian juga Patih Logender dalam Serat Damarwulan yang dimaksud bukan indifidu seorang patih, tetapi arahnya para pejabat tinggi setingkat patih yang disemoni “lo kok nggenderi” atau “lo kok mbrengengeng” artinya tidak tegas, tidak aktif, pasif.  Terutama pada awal pecahnya Perang Paregreg, mereka serba salah, bingung, apakah berpihak kepada Kedhaton Kulon atau berpihak kepada Kedhaton Wetan. Pada umumnya diam atau menunggu saat yang tepat untuk difikirkan lebih serius mengingat semua pada umumnya masih mempunyai hubungan keluarga. Dan hal inilah yang membuat kondisi Majapahit yang sudah lemah semakin rapuh. Terbukti pada awal meletusnya peperangan kekuatan Majapahit berulang kali dihancurkan oleh pasukan Kedhaton Wetan.
            Pada awal permusuhan antara Wikramawardhana dan Bhre Wirabhumi, masing-masing berebut pengaruh dengan mengirim undangan atau utusan yang ditujukan kepada para pejabat Majapahit yang pada hakekatnya masih kerabat sendiri. Pada umumnya yang dihubungi tidak memberikan jawaban yang tegas. Dan ketidak tegasan tersebut sangat merugikan fihak Majapahit, disisi lain fihak Kedhaton Wetan yang dikuasai Bhre Wirabhumi mendapat angin segar yang menguntungkan. Mengingat dapat ditafsirkan sebagai memihak Bhre Wirabhumi yang diharapkan dapat menduduki tahta Majapahit
            Sebagai contoh, Bhre Parameswara serta Bhre Tumapel mendapat undangan dari kedua belah pihak. Undangan itu mempersulit Bhre Parameswara maupun Bhre Tumapel, sehingga bersikap diam. Demikian kebanyakan yang mendapat undangan dari kedua belah pihak yang bertikai. Ada juga yang memberi jawaban  karena posisinya yang tersudut, namun langkahnya pasif sebagai kehilangan gairah berpartisipasi menggalakkan peperangan  difihak yang didukung, demikian dan lain sebagainya.Hal itu yang disemoni “lo gender” (lo ng-gender-i)
            Namun sebagai mendapat mukjijat, kekuatan Majapahit yang berulangkali mendapat pukulan dan kekalahan oleh serangan prajurit-prajurit Kedhaton Wetan, pada saat keadaan strategi Majapahit sedemikian lemah serta tinggal menunggu saat bertekuk lutut pada lawannya, yaitu setelah berjalan empat tahun terjadinya permusuhan dan peperangan, banyak fihak yang semula apatis bahkan berpihak kepada Bhre Wirabhumi, tiba-tiba mulai berbalik memijhak Wikramawardhana. Dan secara spontanitas kekuatan Majapahit mulai bangkit mengadakan perlawanan dengan gigih yang akhirnya dapat menumpas, menghancurkan dan mengalahkan Kedhaton Wetan, bahkan akhirnya Bhre Wirabhumi terbunuh dengan dipenggal kepalanya oleh satria Majapahit, yaitu Narapati Raden Gajah (baca Narapati Raden Gajah pada Bab sebelumnya).,
            Arus balik yang membawa kemenangan difihak Majapahit bisa disimpulkan dari sikap Bhre Parameswara dan Bhre Tumapel, yang kemudian setelah menyaksikan beberapa kali kekuatan Majapahit terpukul mundur oleh tentara Kedhaton Wetan, keduanya berpihak kepada Wikramawardhana, selain memberi dorongan, juga ikut terjun dalam peperangan difihak Majapahit.
Bhre Tumapel adalah masih putra dari Wikramawardhana, dari fihak Bhre Wirabhumi ia berpaman, karena perkawinan Bhre Wirabhumi dengan Nagarawardhani, yaitu adik Wikramawardhana. Kemudian diketahui bahwa  Bhre Pawameswara menjadi suami dari Dewi Suhita, putrid dari Wikramawardhana dengan binihaji (selir).
Perobahan sikap para pejabat tinggi Majapahit (yang mendapat prasemon Logender, dalam Serat Damarwulan) yang semula cendrung diam dan tidak berpihak pada salah satu dari yang bertikai (hanya nggenderi),  namun setelah perselisihan dan peperangan berjalan empat tahun dikala Majapahit nyaris dikalahkan Kedhaton Wetan, dengan tiba-tiba mereka yang semula bersikap diam tidak berpihak pada salah satu yang bertikai, bahkan yang semula mendukung dan berdiri dipihak Bhre Wirabhumi kemudian terlihat banyak yang berpihak pada Majapahit. Fenomena ini dapat terjadi pasti ada factor tertentu yang menyebabkannya, dan hal tersebut perlu dicari factor apa yang menyebabkannya.

PATIH LOGENDER

WAHITA DAN  PUYENGAN

ANGKAT BUTA  -  ONGKOTBUTA

 DAMARWULAN - BRAWIJAYA

 JIMAT WESI KUNING- DAYUN

 SABDAPALON – NAYAGENGGONG – DAYUN

 MENAK KUNCAR

DSB


                                               

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar